Proses Pembentukan Telur Ayam

Proses Pembentukan Telur Ayam

Bagaimana Proses Pembentukan Telur

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai proses pembentukan telur, terdapat dua jenis telur yang harus diketahui, yaitu telur tetas dan telur konsumsi.

Telur tetas merupakan telur fertil (dibuahi oleh sperma) dan ditujukan untuk penetasan. Sedangkan telur konsumsi merupakan telur nonfertil yang dikonsumsi oleh manusia dan tidak ditujukan untuk penetasan.

DOWNLOAD PDF – Proses Pembentukan Telur Ayam

Telur konsumsi yang paling mudah ditemukan di pasar adalah telur ayam dan telur bebek. Proses pembentukan telur merupakan salah satu dari sekian banyak ilmu pengetahuan yang harus diketahui, karena memiliki banyak hubungan dengan berbagai ilmu kedokteran hewan maupun ilmu peternakan.

Seperti pembenihan virus dengan TAB (Telur Ayam Berembrio), pemahaman mengenai tata cara penetasan telur, serta untuk mengetahui kualitas telur yang dihasilkan oleh ternak.

A. Struktur Telur Ayam

Telur terdiri dari beberapa bagian seperti Cuticula atau kerabang telur, Air Cell, Albumen tebal, Albumen tipis, Germinal Disc, Vitelline Membrane, Kuning Telur (Yolk), dan Chalaza.

Semua struktur dan komponen di dalam telur memiliki fungsi masing-masing. Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar struktur telur berikut ini :

proses pembentukan telur

Cuticula atau kerabang telur merupakan pelindung telur. Di mana pada bagian ini memiliki pori-pori untuk keluar masuk udara. Kemudian terdapat selaput di bawah cuticula yang disebut dengan membran cangkang.

Di mana selaput tipis tersebut tidak menempel di kerabang pada bagian telur yang tumpul, sehingga membentuk air cell. Air cell atau rongga udara tersebut merupakan sumber oksigen bagi embrio

Di dalam membran cangkang, terdapat yolk (kuning telur) yang berfungsi sebagai cadangan makanan bagi embrio. Dan pada bagian tepi kuning telur, terdapat germinal disc yang merupakan bakal individu baru.

Selain kuning telur, juga terdapat putih telur yang berfungsi menjaga embrio dari goncangan dan sebagai cadangan makanan serta air.

Kemudian juga terdapat Chalaza yang memiliki bentuk seperti tali untuk menjaga kuning telur tetap pada tempatnya dan menjaga embrio tetap berada di atas kuning telur.

Baca juga : ” Sistem Pencernaan pada Ayam “

B. Sistem Reproduksi Ayam Betina

Ayam memiliki dua organ reproduksi, yaitu ovarium dan oviduct. Ovarium merupakan organ yang berfungsi untuk menghasilkan sel telur dan memiliki fungsi sebagai organ reproduksi primer pada betina.

Sedangkan oviduct merupakan saluran yang menghubungkan ovarium dengan vagina. Di mana oviduct terbagi menjadi infundibulum, magnum, isthmus, uterus, dan vagina. Pada umumnya organ reproduksi yang dimiliki oleh avian hanya berfungsi sebelah sisnister (kiri) saja.

Sedangkan organ reproduksi bagian dexter (kanan) pada mulanya tumbuh, namun mengalami regresi dan tidak berfungsi di usia dewasa.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar saluran reproduksi ayam berikut ini :

proses pembentukan telur ayam

1. Ovarium

Ovarium yang sudah masak memiliki bentuk bulat bergerombol seperti anggur. Ovarium memiliki sekitar 1500 folikel. Setiap telur mengandung oocyte kuning telur yang dikelilingi oleh dinding buluh darah yang menyelubungi folikel. (Hendarti, 2019).

Pada ayam, tidak akan ditemukan bentukan embrio dan corpus luteum di dalam saluran reproduksi.

Karena pada saat telur keluar, pertumbuhannya masih berada pada fase blastoderm. Sehingga belum terbentuk individu.

2. Oviduct

Oviduct merupakan saluran penghubung antara ovarium dengan vagina. Di mana pada ayam, hanya oviduct bagian kiri yang berfungsi, sedangkan oviduct bagian kanan rudimenter.

Bentukan itu dapat dijumpai di bagian kanan cloaca, di bawah bagian dari usus besar terakhir, yaitu colon.

Selama melewati oviduct, ovum yang vertil dari ovarium akan mengalami penambahan beberapa nutrisi dan substansi untuk pembentukan satu butir telur ayam yang utuh. Seperti pembentukan kerabang telur pada bagian uterus contohnya.

Selain itu, oviduct juga berfungsi untuk mengantarkan spermatozoa menuju ovum untuk proses fertilisasi.

a. Infundibulum

Infundibulum merupakan bagian paling depan dari oviduct. Dengan panjang 7 cm, infundibulum akan membungkus kuning telur dengan lapisan tipis albumin (lapisan chalaza).

Chalaza menyelubungi kuning telur dengan cara memutarnya, sehingga discus germinalis tetap berada di bagian atas.

b. Magnum

Magnum merupakan bagian oviduct yang terpanjang, yaitu sekitar 30 cm. Magnum memiliki dinding tebal yang berlipat karena memiliki kelenjar penghasil albumin.

c. Isthmus

Isthmus merupakan penyempitan setelah magnum. Memiliki panjang sekitar 8 cm dan berfungsi untuk menghasilkan albumin dan bahan yang cepat mengental.

Pada bagian ini, juga terbentuk dua membran homogen di antara albumin dan kulit yang disebut dengan Inner Shell dan Outer Shell.

d. Uterus

Uterus memiliki panjang sekitar 8 cm dengan ruangan yang tidak begitu luas. Pada bagian uterus terjadi deposisi kulit dan pigmen.

Selain itu, juga terbentuk lapisan kutikula yang merupakan kerabang telur.

e. Vagina

Vagina merupakan bagian terakhir dari oviduct. Pada bagian ini, terdapat cincin sirkuler (spincter) dengan lipatan di permukaannya sebagai tempat untuk menyimpan spermatozoa. Vagina diakhiri dengan lubang yang dinamakan dengan urodeum di bagian cloaca.

Baca juga : ” Perbedaan Kambing dan Domba “

C. Proses Pembentukan Telur Ayam

Proses pembentukan telur ayam memerlukan waktu seharian penuh, yaitu lebih dari 24 jam untuk satu butir telur. Proses pembentukan telur ayam diawali dari bagian ovarium sebagai penghasil sel telur (ovum).

Ovum yang sudah matang kemudian dilepaskan menuju saluran oviduct pertama, yaitu infundibulum. Ovum berada pada bagian ini sekitar 15 menit.

Pada bagian infundibulum, terjadi pembuahan ovum oleh sprematozoa yang tadinya menetap pada perbatasan infundibulum dengan magnum. Setelah melalui infundibulum, ovum yang sudah mengalami fertilisasi selanjutnya menuju ke magnum.

Pada magnum, telur mengalami penambahan unsur berupa putih telur yang banyak mengandung albumin. Pada bagian ini, telur membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam. Saluran oviduct yang harus dilewati oleh telur setelah magnum adalah isthmus. Pada bagian ini, dibentuk dua membran homogen yang disebut dengan inner shell dan outer shell.

Kedua membran tersebut berada di antara albumin dan kulit telur. Setelah melalui isthmus, telur kemudian akan masuk ke dalam uterus. Di dalamnya, terjadi  proses dehidrasi (plumping) putih telur sehingga terjadi kerabang telur.

Pada bagian ini, telur menetap kurang lebih selama 20 jam. Setelah itu, telur dikeluarkan melalui vagina dan berlanjut ke cloaca, tepatnya melalui saluran urodeum.

Baca juga : ” Tata Cara IB pada Ayam “

D. Kesimpulan

Telur merupakan bahan makanan asal hewan yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Selain karena memiliki kandungan nutrisi yang baik, telur juga memiliki harga yang cenderung murah.

Proses pembentukan telur membutuhkan waktu yang tidak sebentar, yaitu lebih dari 24 jam. Oleh karena itu, satu ayam hanya bisa menghasilkan satu telur setiap harinya.

Ayam layer merupakan ayam petelur yang hasil telurnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia. Berbeda dengan ayam broiler, pemeliharaan ayam layer memerlukan peralatan yang lebih banyak.

Selain itu, pemeliharaan ayam layer memiliki fase yang lebih beragam, yaitu fase starter, grower, prelayer, dan layer. Meskipun kualitas telur ditentukan oleh pemeliharaan ayam petelur, sebagai dokter hewan dan peternak, ilmu pengetahuan mengenai proses pembentukan telur harus diketahui untuk menunjang ilmu pengetahuan yang lebih beragam.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana proses pembentukan telur itu berlangsung.   Terima kasih telah membaca artikel mengenai proses pembentukan telur. Semoga artikel ini bermanfaat.

Daftar Pustaka :

  • Hendarti, Gracia A. 2019. Bahan Ajar Anatomi Ayam. Surabaya : Universitas Airlangga.
  • Tugiyanti, E., N. Iriyanti. 2012. Kualitas Eksternal Telur Ayam Petelur yang Mendapat Ransum Dengan Penambahan Tepung Ikan Fermentasi Menggunakan Isolat Produser Antihistamin. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol. 1 No.2.