Berbagai Jenis Penularan Penyakit pada Hewan

Berbagai Jenis Penularan Penyakit pada Hewan

Sakit merupakan sebuah kondisi di mana kekebalan tubuh sedang diserang. Sakit berdampak pada turunnya nafsu makan. Pada hewan ternak, penurunan nafsu makan dapat menyebabkan tubuh menjadi kurus, sehingga daging yang dihasilkan juga sedikit.

Hal tersebut dapat menurunkan nilai jual dari hewan ternak, seperti sapi, kambing, domba, kelinci, dan hewan ternak lainnya.

DOWNLOAD PDF – Jenis Penularan Penyakit pada Hewan

Penyakit sendiri dibedakan menjadi dua jenis, yaitu penyakit infeksius dan penyakit non infeksius. Penyakit infeksisus disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri, mikal, maupun parasit.

Sedangkan penyakit non infeksisus disebabkan oleh defisiensi vitamin, defisiensi mineral, maupun keracunan pakan.

Baca juga : ” Metode Pengawetan Pakan Ternak “

Penyakit infeksius merupakan penyakit yang dapat menular dari individu satu ke individu yang lain, baik dengan kontak secara langsung ataupun tidak. Sedangkan penyakit non infeksius tidak dapat menular.

Meskipun begitu, penyakit non infeksius dapat terjadi secara massal, misalnya saja keracunan ternak secara massal yang dinamakan dengan wabah. Dalam hal ini, penting bagi kita untuk mengetahui jenis penularan penyakit yang dapat terjadi.

Secara umum, terjadinya penularan penyakit dibedakan menjadi penularan yang bersifat horizontal dan penularan yang bersifat vertikal.

A. Penularan Penyakit secara Horizontal

Penularan penyakit secara horizontal adalah jenis penularan penyakit dari individu  satu ke individu lainnya. Atau dari hewan yang satu ke hewan yang lainnya, baik dengan bantuan vector (perantara) maupun melalui kontaminasi dengan cara kontak langsung. Untuk lebih jelasnya, perhatikan skema berikut ini :

1. Ingesti

Makanan merupakan agen penular penyakit yang sangat sering dijumpai dalam kasus lapangan. Makanan ataupun minuman yang terkontaminasi dapat menularkan penyakit dari hewan satu ke hewan lainnya.

Penerapan manajemen pakan dan sanitasi pakan dalam hal ini mempunyai pengaruh yang besar. Peletakan pakan dalam kandang usahakan memiliki jarak minimal 1 meter dari lantai kandang. Hal tersebut ditujukan agar pakan tidak terkontaminasi bakteri dari feses ataupun urine ternak.

Baca juga : ” Penyakit BEF (Demam Tiga Hari) pada Sapi “

2. Inhalasi

Penularan penyakit juga dapat terjadi melalui udara. Penyakit yang menular dengan cara inhalasi biasanya akan mengganggu sistem respirasi atau pernapasan. Seperti Bacillus anthracis yang dapat membentuk spora, dan menular melalui udara.

Dalam hal ini, hidung merupakan pintu masuk pertama bagi agen penyakit. Bakteri, jamur, maupun virus dapat dengan mudah masuk melalui hidung dan mengganggu metabolisme tubuh apabila kondisi ternak sedang tidak baik. Misalnya ternak kekurangan pakan, kelelahan, atau kepanasan.

3. Konjunctival

Mebrana konjunctiva pada mata juga bisa menjadi kontak penularan penyakit. Seperti penyakit Leptospirosis yang disebabkan oleh Leptospira spp. dan penyakit abortus akibat Brucella abortus. Penularan penyakit melalui mebrana konjuctiva harus diatasi.

Lalat atau nyamuk yang memiliki peran sebagai perantara penyakit dapat menaruh larva cacing stadium infeksius ke dalam membrana konjuctiva. Oleh karena itu, memperhatikan kebersihan mata ternak kamu adalah hal yang penting.

4. Seksual (Koital)

Penyakit seksual atau veneral disease adalah penyakit yang terjadi melalui hubungan seksual. Seperti virus African swine fever yang mana dapat menular melalui kegiatan seksual. Juga penyakit yang disebabkan oleh parasit Trypanosoma equiperdum yang menyebabkan penyakit Dourine pada kuda. Penularannya terjadi melalui kopulasi atau koitus.  

5. Susu

Puting susu yang tidak bersih dapat menularkan berbagai penyakit seperti penularan Toxacara canis pada kucing. Penularan penyakit intramammary atau melalui kelenjar susu juga dapat terjadi, seperti Leptospira sp yang terbawa oleh sel darah putih melalui vena mammarica.

Perlu diingat, jenis penularan penyakit melalui susu hanya terjadi pada hewam mamalia. Hewan ternak seperti kambing, domba, dan sapi rentan mengalami tertular penyakit melalui susu. Oleh karena itu, kebersihan susu perlu dijaga dengan baik. Termasuk bagian ambing dan puting susu.

6. Rektal

Rektal merupakan kegiatan yang harus dilakukan dengan hati-hati dan steril. Perlakuan rektal hendaknya menggunakan alat bantu berupa gloove rectal yang steril dan diberi pelumas. Pemberian pelumas ditujukan agar saluran pencernaan hewan tidak terluka.

Salah satu contoh penyakit yang menular melalui rectal adalah Johne’s disease dan BVD. Selain steril, rektal juga harus dilakukan oleh orang yang memang dalam bidangnya, misalnya inseminator, paramedik veteriner, dan dokter hewan.

Rektal sangat berguna dalam peternakan. Rektal dapat digunakan untuk melakukan inseminasi buatan secara terarah dan memeriksa kebuntingan. Penerapan rektal hanya dapat dilakukan pada hewan dengan anus yang besar, seperti kuda dan sapi. Pada hewan kecil, pemeriksaan kebuntingan dapat dilakukan dengan kit ataupun ultrasonografi (USG).

7. Transkutaneus

Kulit juga dapat menjadi perantara penularan penyakit. Baik secara transkutan seperti penyakit anaplasmosis, maupun gigitan anjing atau kucing yang terpapar virus rabies. Penularan penyakit secara transkutaneus dapat dicegah dengan cara menjaga kebersihan kulit hewan ternak.    

B. Penularan Penyakit secara Vertikal

  Penularan penyakit secara vertikal adalah jenis penularan penyakit yang terjadi dari generasi satu ke generasi berikutnya. Atau dengan arti lain, penularannya terjadi secara turun temurun melalui gen induknya atau secara heriditer.

Penularan penyakit secara kongenital atau penyakit yang timbul selama proses kelahiran berlangsung juga termasuk ke dalam jenis penularan penyakit secara vertikal. Selain itu, penularan penyakit juga dapat berlangsung selama embrio berada dalam kandungan induknya.

Baca juga : ” Penyakit Ringworm pada Hewan : Penyebab, Phatogenesis, dan Gejala “

C. Kesimpulan

Pengetahuan mengenai jenis penularan penyakit sangat penting bagi seorang dokter hewan. Karena bukan hanya dapat menyembuhkan individu yang terserang penyakit saja, melainkan juga dapat mencegah terjadinya penyebaran penyakit yang lebih luas lagi.

Dengan kondisi sumber makanan yang sehat, maka masyarakat dapat hidup dengan sehat dan sejahtera. Terima kasih telah membaca artikel ini, semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka :

  • Achmadi, Umar Fahmi. 2009. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Universitas Indonesia : Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 3
  • Triakoso, Nusdianto. 2009. Aspek Klinik dan Penularan pada Pengendalian Penyakit Ternak. Universitas Airlangga : Departemen Klinik Veteriner PKH