Penyakit BEF (Demam Tiga Hari) pada Sapi

Penyakit BEF (Demam Tiga Hari) pada Sapi

Bovine Ephemerial Fever (BEF) merupakan penyakit yang menyerang bangsa ruminansia, terutama sapi. Penyakit ini disebabkan oleh virus BEF dan ditularkan oleh vektor (perantara) yang merupakan serangga.

Sehingga penyakit ini termasuk ke dalam “arthropod borne viral disease” atau penyakit virus yang ditularkan melalui arthropoda.

DOWNLOAD PDF – Penyakit BEF (Demam Tiga Hari) pada

Sapi Penyakit BEF menyebabkan demam mendadak disertai kaku sendi pada tubuh sapi. Namun, dapat sembuh dalam beberap hari.

Oleh karena itu, penyakit ini disebut juga dengan demam tiga hari (three day sickness), stiff sickness, lazy man’s disiase, dengue fever of cattle, dan bovine epizootic fever.         Meskipun tingkat mortalitas (kematian) rendah, penyakit ini dapat menyebabkan kerugian yang berarti bagi peternak. Seperti penurunan produksi susu pada sapi perah.

Selain itu, tingkat morbiditas (penyebaran) virus BEF melalui vektor tergolong tinggi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk melakukan pencegahan dan penangan penyakit BEF itu sendiri.

A. Penyebab BEF

BEF disebabkan oleh virus single stranded RNA dari genus Ephemerovirus dan family Rhabdoviridae. Di mana virus ini masih satu family dengan virus rabies dengan antigenik yang sama, namun memiliki perbedaan dalam hal virulensi.

Virus ini memiliki bentuk seperti peluru, disertai amplop dan memiliki besar 80-40 nm. Oleh karena itu, virus ini peka terhadap pemberian diethylether dan sodium deoxycholate.

Virus BEF bersifat sporadik dengan masa inkubasi sekitar 1-10 hari dan pada umumnya menunjukkna gejala pada waktu 4 hari pada hewan terjangkit.

B. Distribusi Penyakti BEF

Penyakit BEF pertama kali terlihat di Mesir pada tahun 1924 oleh Rabagliati. Kemudian muncul di beberapa negara seperti Australia pada tahun 1936 dan muncul di Afrika Tengah pada tahun 1867.

Penyakit BEF juga terdeteksi di Indonesia, tepatnya di daerah Sumatera pada tahun 1920 dan muncul kembali pada tahun 1979 di daerah Tuban.

Baca juga : ” Inseminasi Buatan (IB) pada Sapi “

C. Gejala Klinis BEF

Gejala klinis yang paling mudah diamati adalah kenaikan suhu mencapai 40.5-41 derajat Celcius. Kondisi demam tersebut berdampak pada hilangnya nafsu makan dan peningkatan intesitas pernafasan disertai dengan kesulitan bernafas.

Gejala klinis lain yang timbul adalah keluarnya cairan dari hidung dan mata yang merupakan carian serous.

Sapi yang terkena penyakit BEF mengalami kesulitan dalam melakukan pergerakan karena terjadi kekakuan sendi, bermula pada satu kaki dan menyebar ke kaki lainnya. Sehingga menyulitkan sapi untuk berjalan, hingga tidak bisa berdiri selama tiga hari atau lebih.

Selain itu, gejala yang timbul akibat penyakit ‘demam tiga hari’ adalah terjadinya pembengkakan pada bagian punggung dan leher.Pada sapi perah, kasus BEF menyebabkan penurunan produksi susu secara drastis.

Pada beberapa kejadian, sapi bunting yang terkena BEF akan mengalami keguguran pada akhir kebuntingan.

D. Cara Penularan BEF

Virus ini ditularkan oleh nyamuk penghisap darah. Seperti Culex sp., Culicoides sp., dan Aedes sp. Kebanyakan penyakit BEF terjadi pada musim penghujan karena populasi serangga terutama nyamuk mengalami peningkatan.

Beberapa faktor yang menyebabkan kenaikan populasi nyamuk adalah perubahan iklim, lingkungan, dan ekologi seperti kelembaban, sushu, dan kecepatan angin. (Sendow. 2013)

Vektor akan menghisap darah sapi yang sudah terinfeksi BEF, kemudian ditularkan ke sapi yang sehat dengan cara yang sama. Injeksi darah sapi yang sakit sebanyak 0.002 ml secara intravena dapat digunakan untuk menginfeksi sapi yang sehat.    

E. Kelainan Patologi BEF

Kelainan patologi dapat dilihat pada hewan terjangkit dengan melakukan pembedahan pada persendian. Di tempat tersebut dapat ditemukan penimbunan cairan kuning keruh yang membeku segera setelah persendian dibuka.

Kelebihan cairan ditemukan pada kantong pericardium (pembungkus jantung), rongga badan, dan bendungan selaput lendir pada abomasum, serta nekrosis fokal pada otot skeleton dan kulit.

Selain itu, dapat terjadi kelainan limfoglandula, emfisema pulmonal (kerusakan alveolus paru), dan bronchitis. (Direktorat Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2014)

F. Diagnosa

Diagnosa yang dilakukan pada penyakit BEF didasarkan pada gejala klinis, pemeriksaan patologis, uji serologis, dan uji virologis dengan melakukan identifikasi virus.

Diagnosa dapat dilakukan dengan pengujian serologis, dengan deteksi Complement fixation test (CFT),  serum neutralization test (SNT), enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) dan Agar Gel Precipitation Test (AGPT).

Pengambilan sampel dapat dilakukan ketika kondisi akut (kronis) dan kondisi konvalesen (pemulihan).

Selain itu, teknik Polymerase Chain Reaction (PCR), sequencing, dan dot blot hybridization dapat digunakan sebagai uji molekuler.

Baca juga : ” Prinsip Kerja dan Manfaat Polymerase Chain Reaction (PCR) “

G. Pengobatan

Pengobatan penyakit BEF hanya bersifat support (pendukung) saja, seperti pemberian antibiotik, antiinflamasi, dan vitamin untuk mencegah terjadinya penyakit sekunder.

Sedangkan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan pemberian vaksin untuk meningkatkan titer antibodi pada hewan ternak. Vaksin yang diberikan dapat  berupa vaksin hidup dan vaksin mati.

Vaksin hidup lebih bagus karena mampu meningkatkan titer antibodi secara signifikan.

Pencegahan lain yang dapat dilakukan adalah selalu menjaga kebersihan, baik itu kebersihan ternak maupun kebersihan kandang, terutama daerah yang menjadi genangan air agar tidak dijadikan media pertumbuhan vektor.

H. Kesimpulan

BEF merupakan penyakit viral yang menyerang ternak sapi. Meskipun penyakit ini memiliki mortalitas yang rendah, namun tingkat morbiditas (penyebaran) penyakit ini cukup tinggi.

Sehingga perlu dilakukan pencegahan agar tidak menimbulkan kerugian bagi peternak. Pencegahan yang paling mudah dilakukan adalah dengan selalu menjaga kebersihan lingkungan, baik itu lingkungan sekitar maupun lingkungan kandang itu sendiri.

Terima kasih telah membaca artikel ini, semoga ilmu pengetahuan yang kita peroleh dapat diamalkan dengan bijak.

Baca juga : ” Penyakit Mastitis pada Hewan Ternak “

Daftar Pustaka :

  • Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Manual Penyakit Hewan Mamalia. Jakarta, 2014
  • Sendow, Indrawati. 2013. Bovine Ephemeral Fever, Penyakit Hewan Menular yang Terkait dengan Perubahan Lingkungan. Bogor : WARTAZOA Vol. 23 No. 2