Inseminasi Buatan pada Sapi

Inseminasi Buatan pada Sapi

Tidak terasa perkembangan teknologi terasa begitu cepat, hingga menciptakan berbagai kemudahan dalam penerapannya. Teknologi reproduksi salah satunya.

Kesulitan peternak dalam mendatangkan sapi jantan yang bagus untuk dikawinkan dengan sapi betina miliknya membuat ilmu pengetahuan harus memberikan solusinya.

Inseminasi Buatan (IB) atau yang dikenal dengan kawin suntik merupakan satu hasil dari penelitian panjang dan perkembangan penerapan teknologi yang dilakukan oleh para cendekiawan. Inseminasi Buatan (IB) membuat para peternak tidak lagi pusing untuk mendatangkan pejantan tangguh yang siap memberikan keturunan.

Cukup dengan sperma sapi jantan, dengan bantuan inseminator, sapi betina yang mereka miliki bisa bunting.   Tidak hanya itu, kualitas dari anak yang diturunkan dari hasil suntikan Inseminasi Buatan juga lebih baik tentunya.  

DOWNLOAD PDF – Inseminasi Buatan pada Sapi

Namun, untuk mendapatkan hasil yang maksimal, perlu diperhatikan berbagai aspek bahkan banyak aspek agar sapi betina bisa bunting melalui hasil inseminasi buatan.

Seperti waktu inseminasi buatan, semen sapi jantan yang akan diinjeksikan, maupun peran peternak itu sendiri. Oleh karena itu, penting bagi peternak untuk mengetahui ilmu Inseminasi Buatan (IB) pada sapi mereka.

Sehingga pelayanan yang diberikan oleh inseminator mencapai hasil yang diinginkan, yaitu kebuntingan pada sapi betina.

A. Sejarah Inseminasi Buatan (IB) di Indonesia

Inseminasi Buatan (IB) adalah suatu teknik memasukkan sperma (semen) sapi Jantan ke dalam tubuh sapi betina menggunakan alat Inseminasi Buatan yang disebut dengan ‘insemination gun’ dengan bantuan inseminator. Inseminasi Buatan disebut juga dengan Artificial Insemination (AI).

Lalu, siapakah inseminator ? Inseminator adalah orang yang berperan dalam tindakan Inseminasi Buatan. Seperti dokter hewan, paramedik veteriner, dan ahli inseminasi buatan.

Di mana ilmu pengetahuan dan jam terbang di lapangan sangat menentukan keterampilan para inseminator dalam melakukan tugasnya. (Hastuti, 2008)

Inseminasi Buatan (IB) pertama kali diperkenalkan di daerah Bogor, tepatnya di Fakultas Hewan dan Lembaga Penelitian Peternakan (LPP) oleh Prof. B. Seit dari Denmark.

Pemerintah pada saat itu membuat kebijaksanaan Rencana Kesejahteraan Istimewa atau yang dikenal dengan RKI. Oleh karena itu, beberapa markas Inseminasi Buatan didirikan untuk memperbaiki keturunan dan memperbanyak populasi ternak yang ada.

Baca juga : ” Tata Cara IB (Inseminasi Buatan) pada Ayam “

Pada tahun 1953, tepatnya di Provinsi Jawa Tengah, terdapat Balai Pembenihan Ternak (BPT) yang menjalankan Inseminasi Buatan dengan tujuan intensifikasi ongolisasi dengan mengawinkan beberapa sapi dengan sapi SO (Sumba Ongole). Namun sayangnya, hal tersebut tidak bertahan lama.

Selanjtunya, pada tahun 1959 dan seterusnya. Dengan teknik penggunaan semen cair yang digunakan oleh Prof. B. Seit, Fakultas Kedokteran Hewan IPB membantu pemerintah dalam melayani Inseminasi Buatan (IB) pada hewan ternak di sekitar Bogor.

Di mana, pada saat itu teknik inseminasi buatan masih terbatas pada sapi perah saja. Pada saat itu, IPB menyelenggarakan sebuah pameran anak sapi (Calf Show) sebagai sapi pertama yang berhasil lahir dengan menggunakan teknik inseminasi buatan.

Di pihak lain, beberapa markas inseminasi buatan terpaksa ditutup karena keuangan negara yang kian memburuk akibat aktivitas politik ekonomi pada tahun 1965.

Selanjutnya pada tahun 1970, pelayanan inseminasi buatan benar-benar mengalami kemunduran akibat konsumsi masyarakat yang cenderung memilih susu bubuk untuk dikonsumsi.

Hal tersebut menyebabkan beberapa produsen susu tidak lagi menampung susu dari peternak sapi perah, melainkan melakukan impor susu bubuk dari luar negeri sebagai bahan bakunya.

Kemunduran pelaksanaan inseminasi buatan di Indonesia antara tahu 1960 hingga 1970 tidak hanya disebabkan karena ekonomi yang memburuk, melainkan juga penggunaan semen cair yang tidak dapat bertahan lama.

Hal itu membuat para inseminator kesulitan melakukan penanganan di lapangan, mengingat semen cair memerlukan wadah untuk bertahan hidup. Kemajuan Inseminasi Buatan (IB) bermula pada tahun 1969, di mana pemerintah Insonesia mencanangkan REPELITA(Rencana Pembangunan Lima Tahun). Berbagai bidang seperti ekonomi, pertanian, dan berbagai bidang lain seperti peternakan terus dikembangkan.

Pada tahun 1973, pemerintah Indonesia berhasil memasukkan semen beku. Hal tersebut tentu saja sangat berguna bagi perkembangan inseminasi buatan di Indonesia. Karena semen beku, inseminasi buatan dapat dilakukan di seluruh provinsi di Indonesia.

Semen Beku pada saat itu merupakan bantuan dari pemerintah Inggris dan Selandia Baru. Tidak hanya itu, Selandia Baru juga membantu pendirian spesialisasi produksi semen beku di Indonesia yang terletak di Lembang, Jawa Barat.

Kemudian setelah itu didirikan di daerah Wonocolo, Jawa Timur. Namun, setelah itu dipindahkan menuju Singosari, Malang, Jawa Timur, yang saat ini dikenal sebagai Balai Inseminasi Buatan (BIB) Singosari.

Dengan adanya penggunaan semen beku, pemerintah mengharapkan adanya peningkatan keberhasilan inseminasi buatan di lapangan. Namun, menurut hasi evaluasi tahun 1972 hingga tahun 1974, ditemukan bahwa angka keberhasilan inseminasi buatan sangat rendah.

Sehingga pemerintahan pada saat itu menyimpulkan bahwa rendahnya tingkat konsepsi disebabkan oleh ternak sapi betina itu sendiri, seperti kekurangan gizi pakan, hingga kelainan pada alat reproduksinya.

Dengan demikian, hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah saat ini bukan hanya kualitas semen dan keahlian inseminator saja, melainkan juga penyuluhan kepada peternak mengenai inseminasi buatan pada sapi mereka.

B. Tujuan Inseminasi Buatan (IB) pada Sapi

Inseminasi Buatan atau kawin suntik merupakan tindakan yang telah lama dilakukan dalam teknologi peternakan, khususnya di bidang reproduksi. Berikut adalah beberapa tujuan dari dilakukannya inseminasi buatan (IB) pada sapi :

1. Perbaikan Mutu Genetik

Perbaikan mutu genetik ternak sapi dapat dilakukan dengan teknik inseminasi buatan, di mana semen beku yang digunakan berasal dari pejantan unggul.

Inseminasi buatan juga memudahkan peternak dalam mengatur jarak kelahiran, serta menghindari terjadinya inbreeding (kawin sedarah) yang akan menurunkan berbagai macam penyakit.

2. Penghematan Biaya

Dengan adanya inseminasi buatan, para peternak khususnya peternak sapi perah tidak perlu lagi memelihara sapi jantan sendiri untuk dikawinkan. Dengan demikian, peternak dapat menghilangkan biaya pemeliharaan sapi jantan dalam analisis usahanya.

3. Memudahkan Perkawinan

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dengan inseminasi buatan, peternak tidak perlu pusing lagi bagaimana cara mendatangkan pejantan yang unggul untuk dikawinkan dengan sapi betinanya.

Cukup dengan mendatangkan semen saja sudah sapi betina sudah bisa dikawinkan. Hal ini lah yang membuat inseminasi buatan dijadikan alat untuk memudahkan perkawinan.

Baca juga : ” Metode Pengawetan Pakan Ternak “

C. Faktor yang Mempengaruhi Inseminasi Buatan (IB) pada Sapi

1. Keterampilan Inseminator

Keterampilan inseminator dalam mengarahkan ‘insemination gun’ perlu diperhatikan. Oleh karena itu, tindakan inseminasi buatan tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang.

Inseminator harus melakukan pelatihan inseminasi buatan, kemudian mendapatkan sertifikat legalitas untuk melakukan inseminasi buatan pada ternak.

2. Kualitas Semen Beku

Terlepas dari keterampilan inseminator dalam melakukan inseminasi buatan, kualitas semen beku juga menentukan keberhasilan inseminasi buatan yang dilakukan. Semen merupakan sperma yang diambil langsung dari sapi pejantan dengan menggunakan vagina buatan.

Semen beku merupakan sperma beserta dengan nutrisinya yang disimpan dalam kotak penyimpan khusus semen beku.

3. Keterampilan Peternak

Yang dimaksud dengan keterampilan peternak di sini adalah keterampilan dalam mendeteksi tanda-tanda birahi. Karena waktu birahi sangat menentukan keberhasilan inseminasi buatan. Tanda-tanda birahi tersebut antara lain adalah :

  • Merah pada sekitar vulva
  • Terjadinya sedikit pembengkakan pada vulva
  • Vulva akan terasa hangat ketika dipegang
  • Keluar cairan kental berwarna putih dari lubang kemaluan
  • Ternak betina cenderung lebih agresif dari biasanya

4. Kesehatan Ternak Betina (Akseptor)

Kesehatan ternak meliputi penyakit yang dideritanya, terutama pada bagian reproduksi. Karena beberapa kasus di lapangan menunjukkan bahwa alat reproduksi yang tidak sehat pada sapi betina menyebabkan terjadinya kegagalan inseminasi buatan.

5. Waktu Inseminasi Buatan

Waktu pelaporan inseminasi buatan oleh peternak kepada inseminator sangat penting untuk mencapai keberhasilan inseminasi buatan.

Semakin cepat peternak melaporkan tanda-tanda birahi pada sapi betinanya kepada inseminator, semakin meningkat juga persentase keberhasilan inseminasi buatan. Berikut adalah grafik hubungan waktu inseminasi buatan dengan keberhasilannya.

Dari grafik di atas, dapat disimpulkan persentase waktu keberhasilan inseminasi buatan tertinggi adalah pada pertengahan birahi. Rata-rata waktu birahi sapi betina adalah 18 jam. Oleh karen itu, sebaikanya perhitungan dilakukan dengan teliti.

Baca juga : ” Gejala dan Penularan Penyakit Ngorok Septicaemia Epizootica (SE) pada Ternak “

D. Manfaat Inseminasi Buatan (IB) pada Sapi

1. Perbaikan Keturunan

Inseminasi buatan dapat meningkatkan kualitas keturunan. Telah diketahui bahwa teknik kawin silang dilakukan untuk meningkatkan kualitas keturunan, seperti pola makan, produksi susu dan daging, serta ketahanan terhadap penyakit.

2. Menghemat Biaya Pemeliharaan Sapi Jantan

Inseminasi buatan telah diketahui dapat menekan biaya yang dikeluarkan oleh peternak. Karena peternak tidak perlu lagi menyiapkan sapi jantan untuk dikawinkan dengan sapi betina pada saat birahi atau musim kawin.

3. Menjegah Terjadinya Inbreeding

Inbreeding atau kawin sedarah telah diketahui memiliki kelemahan terhadap keturunannya, yaitu rentan terhadap beberapa penyakit. Dengan adanya inseminasi buatan, kawin sedarah dapat dihindari.

4. Semen Berkualitas

Semen berkualitas berasal dari pejantan yang berkualitas. Dengan adanya semen beku, sperma dari pejantan unggul dapat digunakan berulang kali. Sehingga walaupun pejantan unggul telah mati, semennya masih dapat dimanfaatkan.

5. Menghindari Penularan Penyakit Kelamin

Penyakit kelamin merupakan penyakit menular pada sapi. Penularan terjadi saat sapi kopulasi atau kawin. Dengan menggunakan alat inseminasi buatan, penularan penyakit melalui hubungan seksual dapat dihindari.      

E. Dampak Negatif Inseminasi Buatan (IB) pada Sapi

Selain memiliki berbagai kelebihan, inseminasi buatan ternyata juga memiliki beberapa kelemahan. Berikut adalah beberapa kelemahan inseminasi buatan atau kawin suntik pada sapi :

1. Penurunan Kualitas Genetik

Penurunan kualitas keturunan dapat disebabkan oleh semen beku yang berasal dari pejantan yang tidak baik. Jadi, pengujian genetik sperma sapi jantan harus dilakukan dengan teliti.

2. Distokia

Distokia adalah kesulitan melahirkan. Dalam hal ini, penyebab utamanya adalah akseptor berasal dari breed sapi yang memiliki pinggul kecil, sedangkan semen beku berasal dari pejantan yang memiliki breed tubuh besar.

Hal ini akan menyebabkan sapi betina kesulitan ketika partus (melahirkan). Bahkan solusi yang ditawarkan bisa menghabiskan biaya yang mahal, yatu dilakukan operasi Caesar.

3. Kepastian Keberhasilan Inseminasi Buatan

Grafik antara waktu birahi dan tingkat keberhasilan inseminasi buatan merupakan patokan inseminator dalam melakukan inseminasi buatan.

Kesalahan waktu inseminasi buatan dapat mebuat inseminasi buatan tidak berhasil, namun peternak tetap harus membayar biaya inseminasi buatan. Sehingga pelaporan birahi oleh peternak kepada inseminator harus dilakukan dengan tepat.

F. Kesimpulan

Inseminasi Buatan atau yang dikenal dengan kawin suntik adalah teknik memasukkan sperma sapi jantan ke dalam alat kelamin sapi betina dengan menggunakan alat ‘insemination gun’.

Keberhasilan dalam inseminasi buatan ditentukan oleh banyak hal, terutama ketepatan waktu pelaporan birahi oleh peternak kepada inseminator. Oleh karena itu, peternak harus mengetahui seperti apa tanda-tanda birahi pada sapi betina.

Terima kasih telah membaca artikel inseminasi buatan pada sapi. Semoga dapat meningkatkan pengetahuan pembaca.   Tetap maju Balai Inseminasi Buatan di seluruh Indonesia.

Daftar Pustaka :

  • Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Soborongborong. Sejarah dan Manfaat Inseminasi Buatan pada Hewan. https://www.bptuhpt.siborongborong.info/read/2019/08/04/198-sejarah-dan-manfaat-inseminasi-buatan-pada-hewan
  • Hastuti, Dewi. 2008. Tingkat Keberhasilan Inseminasi Buatan Sapi Potong Ditinjau dari Angka Konsepsi dan Service Per Conception. Semarang : MEDIAGRO VOL.4. NO.1, 2008: HAL 12- 20
  • Herawati, Tati., dkk. 2012. Peran Inseminator dalam Keberhasilan Inseminasi Buatan pada Sapi Perah. Informatika Pertanian, Vol. 21. No. 2, Desember 2012 : 77-82
  • Inti Rakyat. 2018. Mengenal Inseminasi Buatan atau Kawin Suntik untuk Ternak Sapi. https://www.intirakyat.com/read/2019/08/04/mengenal-inseminasi-buatan-atau-kawin-suntik-untuk-ternak-sapi
  • Prasojo, Gatot., dkk. 2010. Korelasi Antara Lama Kebuntingan, Bobot Lahir, dan Jenis Kelamin Pedet Hasil Inseminasi Buatan pada Sapi Bali. Jurnal Veteriner : Vol. 11 No. 1 :  41-45. ISSN : 1411 – 8327
  • Susilawati. 2011. Tingkat Keberhasilan Inseminasi Buatan dengan Kualitas dan Deposisi Semen yang Berbeda pada Sapi Ongole. Malang : Bagian Produksi Ternak Fakultas Peternakan. Ternak Tropika : Vol. 12, No.2: 15-24, 2011