Penyakit Ringworm pada Hewan : Penyebab, Phatogenesis, dan Gejala

Penyakit Ringworm pada Hewan : Penyebab, Phatogenesis, dan Gejala

Ringworm merupakan penyakit yang disebabkan oleh invasi jamur Dermatophites. Jamur ini akan menginvasi daerah keratinin sel epithel kulit dan serabut rambut yang akhirnya akan menimbulkan lesi kulit.

Jamur dermatophites hanya mampu menginvasi bagian superficial (atas)kulit saja, dan memanfaatkan keratin untuk hidupnya.

DOWNLOAD PDF – Penyakit Ringworm pada Hewan : Penyebab, Phatogenesis, dan Gejala

Pada umumnya ringworm terjadi akibat hewan terus berada di dalam kandang dalam waktu yang cukup lama, di mana kandang tersebut memiliki kelembaban yang cukup tinggi.

Sehingga jamur dapat berkembang dengan pesat melalui persebaran sporanya dalam kandang. Manajemen kandang memiliki peran yang sangat penting untuk mencegah pertumbuhan jamur Dermatophites.

Oleh karena itu, peternak harus menerapkan manajemen kandang yang baik, terutama pada bagian pencahayaan dan sirkulasi udara. Sehingga kelembaban udara tidak melebihi standard.

Selain itu, untuk menghindari adanya jamur Dermatophites peternak juga dapat melakukan penjemuran ternak dan mengajak mereka ke luar kandang selama beberapa jam.

Dalam artikel ini, akan dibahas penyebab penyakit ringworm pada hewan, termasuk gejala, epidemiologi, phatogenesis, perubahan patologi yang terjadi, dan pengobatan yang dapat dilakukan jika ternak terserang penyakit ringworm.

A. Penyebab Ringworm

Ringworm merupakan penyakit yang disebabkan oleh invasi jamur Dermatophites, yaitu Trichophyton dan Microsporum.

Kedua genus bakteri tersebut dapat membentuk spora yang nantinya menjadi bakal untuk pertumbuhan dan perkembangan.

Meskipun begitu, Trichophyton dan Microsporum memiliki bentuk spora yang berbeda. Trichopyton memiliki spra berbentuk rantai sedangkan microsporm memiliki spora dengan pola mosaic.

Secara mikroskopis, Trychophyton memiliki hifa yang berbentuk seperti serabut. Pada bentukan konidia ditemukan adanya sekat. Konidia dapat berbentuk makronidia dan mikronidia.

Makronidia berbentuk seperti pensil yang di dalamnya terdiri dari  beberapa sel, sedangkan mikronidia berbentuk memanjang dan memiliki dinding yang tipis.

Microsporum melakukan reproduksi secara aseksual dengan cara membentuk makronidia, di mana makronidia tersebut berbentuk bulat asimetris dan memiliki dinding sel yang tebal.

Makronidium tersebut dipisahkan oleh sekat (yang merupakan dinding melintang yang luas) menjadi enam kompartemen. Spesies jamur yang menyerang hewan ternak terkadang berbeda, namun ada juga spesies jamur yang dapat menjadi penyebab penyakit ringworm pada dua atau tiga ternak sekaligus.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan tabel berikut ini :

Baca juga : ” Scabies pada Kucing “

B. Gejala Ringworm

Gejala umum penyakit ringworm ditandai dengan adanya kerak dan alopesia pada superficial (permukaan) kulit, baik seluruh tubuh maupun pada bagian tertentu tubuh.

Namun, perbedaan spesies jamur yang menginvasi menyebabkan perbedaan gejala yang timbul. Seperti bentuk, karakterisitik, dan tempat timbulnya lecet (jejas).

Berikut adalah gejala klinis yang timbul pada beberapa hewan akibat jamur Dermatophites.

1. Gejala Klinis pada Sapi

Pada sapi, penyakit ringworm biasanya menimbulkan lesi typical yang terjadi pada daerah leher, peritoneum, dan kepala. Sedangkan pada anak sapi (pedet), bisa terjadi di seluruh tubuh.

Lesi typical berupa kerak pada permukaan kulit berwarna abu-abu hingga putih. Bentuknya sirkuler dan memiliki diameter sekitar 3 cm.

Apabila kasusnya berat lesi bisa menyatu. Bagian bawah lesi terasa basah dan lama kelamaan menjadi keropeng, sehingga dapat terjadi alopesia.

2. Gejala Klinis pada Kambing

Penyakit ringworm pada kuda dapat bertahan hingga berbulan-bulan. Pada kambing, gejala yang timbul ditandai dengan adanya daerah gundul dengan kerak berbentuk bundar dan berwarna abu-abu di daerah kepala.

Berbeda dengan kambing, pada domba daerah persebarannya meliputi seluruh tubuh.

3. Gejala Klinis pada Babi

Pada babi, penyakit ringworm biasanya menimbulkan lesi pada daerah punggung dan samping tubuh. Lesi berbentuk cincin sebagai akibat dari radang dengan kulitnya agak menonjol dan berwarna merah mengelilingi bagian keropeng dan pusar alopesia.

Selain itu, lesi pada babi dapat tertutup oleh kerak yang mengakibatkan cincin radang tidak terlihat jelas.

4. Gejala Klinis pada Kuda

Lesi pada kuda terjadi pada daerah axillaris (ketiak), tali pelana, leher, kepala, kaki depan, dan dapat menjalar ke seluruh tubuh kecuali pada bagian pantat.

Lesi menyebabkan kulit pada bagian pangkal rambut terlihat lebih menonjol dan apabila disentuh maka kuda akan merasa kesakitan. Kemudian rambut akan terlepas dari kulit, meninggalkan alopesia mengkilat dengan warna abu-abu yang berbentuk bundar dengan diameter sekitar 3 cm.

Folikel rambut yang mengalami infeksi dapat menimbulkan keradangan focal yang bernanah. Kulit juga dapat membentuk kerak yang keras apabila dipegang.

5. Gejala Klinis pada Anjing dan Kucing

Biasanya pada kucing ditemukan adanya lesi berbentuk cincin dan berwarna kemerahan yang terletak di depan telinga, kerusakan rambut, dan keropeng yang bersisik.

Meskipun begitu, pada kucing tidak selalu menimbulkan lesi yang jelas. Sedangkan pada anjing, gejala yang ditimbulkan dapat dijumpai pada kulit daerah moncong, kaki, dan perut bagian bawah. Gejalanya seperti kerusakan rambut, kerusakan kulit, dan adanya keropeng.

Baca juga : ” Program Force Molting Ayam Petelur “

C. Epidemiologi

Penyakit ringworm sering terjadi pada hewan yang berada di dalam kandang dalam waktu yang lama. Sehingga kulit mereka menjadi lembab dan mudah terserang jamur.

Selain itu, manajemen kandang yang buruk pada bagian sirkulasi udara dan pencahayaan membuat kandang akan semakin buruk. Hal tersebut membuat jamur mudah tumbuh. Pada wilayah yang memiliki empat musim, jamur Dermatophites biasanya menyerang pada musim dingin kemudian dapat sembuh pada musim semi dan melonjak parah pada musim panas.

Hal tersebut berkaitan dengan pH dan kelembaban udara di dalam kandang. Karena pada umumnya jamur ringworm akan tumbuh dengan suasana lingkungan yang lembab dan hangat, serta memiliki pH asam (alkalis).

Keterbatasan sirkulasi udara di dalam kandang akan membuat persentase spora jamur di udara semakin meningkat. Apabila kondisi ternak sedang tidak prima, maka jamur akan mudah melakukan invasi.

Hewan yang masih muda lebih mudah terserang daripada hewan yang lebih tua. Hal tersebut terjadi karena imunitas (daya tahan) tubuh hewan yang muda lebih rendah daripada hewan yang lebih tua. Selain itu, faktor kulit juga memiliki pengaruh yang besar.

Pada umumnya hewan muda memiliki pH yang selalu alkalis, sehingga jamur mudah menempel. Penularannya sendiri dapat terjadi melalui kontak kulit secara langsung (gesekan), jilatan lidah, dan penggunaan lab yang sama. Penularan juga dapat terjadi melalui kontak manusia dan sebaliknya (bersifat zoonosis).

Meskipun mortalitas penyakit rendah, namun kerugian ekonomi dapat terjadi karena kualitas kulit ternak menjadi turun. Pengobatan yang dilakukan harus bersifat tuntas hingga tidak tersisa lagi.

Karena apabila masih ada jamur yang tertinggal dan suasana lingkungan kembali mendukung pertumbuhan, maka penyakit akan sulit disembuhkan. Dalam hal ini, peranan peternak untuk memperbaiki manajemen peternakannya menjadi sangat penting.

Baik itu manajemen kandang maupun aktivitas ternak sehari-hari. Ketersediaan pakan yang bergizi sangat penting bagi ternak, karena hal tersebut berkaitan dengan daya tahan tubuh yang dihasilkan.

Semakin bergizi pakan yang diberikan kepada ternak, maka semakin baik dampaknya bagi imunitas tubuh ternak. Sehingga kemungkinan ternak terserang penyakit ringworm dapat diminimalisir.

D. Phatogenesis

Jamur Dermatophites umumnya menyerang jaringan keratinin, terutama pada daerah stratum corneum (lapisan tanduk) dan serabut rambut. Hal tersebut menyebabkan timbulnya alopesia dan kerak.

Pada awalnya alopesia kecil, namun apabila tidak segera dilakukan penanganan medis alopesia dapat membesar dan menyebar ke bagian tubuh yang lain.

Begitu juga dengan jejas (lecet) yang ditimbulkan. Jejas kecil yang banyak dapat meluas dan bersatu menjadi besar. Umumnya, bagian tubuh yang sering terserang adalah bagian tubuh yang sering terkena air dan lembab, seperti pantat, ekor, leher, dan muka.

E. Perubahan Pathologi

Perubahan pathologi dapat dilihat pada bagian superficial (permukaan) kulit. Ditandai dengan adanya karak, keropeng, dan daerah alopesia, serta radang yang umunya berbentuk budar (sirkuler).

Warna lesi yang ditimbulkan pada beberapa hewan beragam, mulai dari abu-abu hingga putih. Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah dengan mengambil sampel melalui pengerokan kulit di mana kulit yang dikerok adalah kulit yang mengalami lesi.

Selanjutnya akan dilakukan pengecekan secara mikroskopis untuk mengetahui spora yang ada.

F. Pengobatan

Pengobatan yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan obat yang bersifat topikal. Tentu saja harus dengan arahan dokter hewan maupun petugas medis veteriner.

Pengobatan tidak akan berjalan dengan lancara apabila tidak dilakukan pencegahan secara bersamaan. Karena penyakit ringworm dapat muncul kapan saja apabila kondisinya memungkinkan.

Baca juga : ” Berbagai Cara Pemberian Obat “

G. Kesimpulan

Penyakit ringworm merupakan menyakit yang memiliki morbiditas (tingkat penyebaran) yang tinggi, namun memiliki mortilitas (tingkat kematian) yang rendah.

Meskipun begitu, penyakit ringworm dapat menimbulkan kerugian bagi peternak karean harga jual ternak menjadi menurun. Hal tersebut berkaitan dengan estetika ternak itu sendiri.

Oleh karena itu, penting bagi peternak untuk menjaga kebersihan kandang dan kebersihan ternaknya. Sehingga terjadinya penyakit ringworm pada ternak dapat diminimalisir.   Terima kasih telah membaca artikel ini, semoga menambah ilmu pengetahuan kita.

Daftar Pustaka :

  • Kementerian Pertanian. Manual Penyakit Hewan Mamalia. Jakarta, 2014
  • Sirait, Tommy Roy. 2017. Identifikasi Penyakit Kulit Menggunakan Extreme Learning Machine. Medan : Universitas Sumatera Utara
  • Tyasningsih, Wiwiek., dkk. 2009. Penyakit Infeksius 1. Surabaya : Airlangga University Press