Program Force Molting Ayam Petelur

Program Force Molting Ayam Petelur

Program Force Molting Ayam Petelur

Force molting ayam merupakan suatu metode untuk mempecepat proses perontokan bulu pada ayam. Umumnya digunakan pada peternakan ayam petelur untuk meningkatkan kembali produksi telur setelah masa panen terlewati.

Sebenarnya, tanpa proses force molting, unggas termasuk ayam petelur akan tetap merontokan bulunya sendiri secara alami. Perontokan bulu tersebut disebut dengan istilah ‘Molting’.

DOWNLOAD PDF – Program Force Molting Ayam Petelur

Hal itu terjadi karena adanya kontrol hormon endokrin di dalam tubuh unggas. Meskipun kejadian molting secara umum diketahui terjadi akibat hormon thyroid, namun belum ada mekanisme yang bisa menjelaskannya. (Setioko, 2005)

Perontokan bulu terjadi setelah masa produktif ayam petelur berakhir, yaitu ketika umur ayam sudah mencapai kurang lebih 75 minggu.

Proses molting ditandai dengan terjadinya kerontokan bulu, mulai dari bulu daerah kepala, leher, dada, punggung, sayap, hingga bulu pada bagian ekor.

Proses molting memberikan masa istirahat bagi saluran reproduksi ayam petelur dari aktivitas reproduksi. Hal itu bertujuan agar ayam dapat menyimpan cadangan energi.   Pada umumnya, proses molting secara alami dapat berlangsung sekitar 4 bulan. Hal tersebut tentu akan memperlama waktu produksi suatu peternakan.

Untuk mengatasi hal tersebut, dibuatlah suatu metode untuk mempercepat proses perontokan bulu yang disebut dengan ‘force molting’.   Sehingga, ayam dapat menghasilkan telur kembali dengan kualitas dan kuantitas yang bahkan melebihi masa produktif sebelumnya.

Namun, hal itu hanya berlangsung sekitar 6 bulan. Selanjutnya, ayam petelur harus tetap diafkir untuk dijual di pasaran. Kemudian digantikan dengan bibit (DOC) baru.

A. Pengertian Force Molting

Force molting ayam merupakan suatu proses mempercepat perontokan bulu (molting). Biasanya proses force molting diterapkan pada ayam petelur untuk mengoptimalkan produksi yang sedang berlangsung.

Dalam proses molting, terdapat dua kejadian. Yaitu proses rontoknya bulu (ecdesis) dan tumbuhnya bulu baru (endesis). Proses Force molting digunakan peternak untuk meningkatkan kembali produktifitas ayam petelur di luar masa produksi sesungguhnya.

Bahkan beberapa penelitian mengemukakan bahwa telur hasil ayam force molting memiliki kualitas dan kuantitas yang lebih bagus.

(Wijayanti, 2019) menyebutkan bahwa perlakuan force molting ayam dapat meningkatkan produksi telur tetas pada ayam broiler (petelur).

Baca juga : ” Sistem Reproduksi pada Ayam “

B. Tujuan Force Molting

Dalam satu kali umur produksi (hen house), satu ekor ayam petelur mampu menghasilkan kurang lebih 250 butir telur. Padahal, dalam satu ekor ayam petelur terdapat sekitar 3000 ovum.

Dari pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak ovum yang tidak berkembang menjadi telur. Hal tersebut dimanfaatkan oleh peternak untuk tetap menggunakan ayam petelur di peternakannya, dengan syarat dilakukannya force molting.

Berikut adalah beberapa tujuan dilakukannya force molting ayam petelur :

  • Peternakan belum menyiapkan ayam petelur baru untuk proses produksi selanjutnya
  • Harga jual ayam afkir rendah
  • Harga telur masih stabil
  • Kesulitan mendapatkan Day Old Chick (DOC) dan harganya mahal.

Baca juga : ” Proses Pembentukan Telur Ayam “

C. Metode Force Molting

 Terdapat dua cara yang dapat dilakukan dalam proses force molting ayam, yaitu secara konvensional dan non konvensional.

Proses force molting ayam secara konvensional dilakukan dengan melakukan pembatasan pakan dan minum. Namun, di Indonesia hanya dilakukan pembatasan pakan saja, karena iklimnya yang tropis.

Sedangkan proses froce molting secara non konvensional dilakukan dengan menggunakan obat-obatan tertentu. Dalam proses force molting ayam secara konvensional, terdapat tiga metode yang bisa diterapkan. Yaitu metode konvensional, Washington, Maxcindoe dan Milo (California Program).

Berikut adalah berbagai metode force molting ayam dalam bentuk tabel :

1. Metode Konvensional

Pada metode konvensional, proses force molting ayam dilakukan dengan pemuasaan dari makan dan minum. Selain itu, pada hari ke 1 hingga hari ke 3 dilakukan pembatasan pencahayaan.

Yaitu hanya 8 jam per hari. Perhatikan program force molting ayam dengan metode konvensional berikut ini :

metode force molting ayam petelur konvensional

2. Metode Macxindoe

Pada metode Macxindoe, proses force molting ayam menggunakan kombinasi daun lamtoro. Karena, daun lamtoro memiliki kandungan mimosin yang dapat mempercepat proses molting pada ayam petelur.

Setelah 6 minggu dari hari ke-26, produksi telur dapat berlangsung kembali. Berikut adalah program force molting ayam dengan metode Macxindoe :

metode force molting ayam petelur Macxindoe

3. Metode Milo

Pada metode Milo, proses force molting ayam menggunakan pakan berupa jagung atau gandum saja dalam waktu yang lama.

Metode Milo merupakan metode force molting ayam yang cocok digunakan di wilayah dengan iklim tropis seperti Indonesia. Selama tahap awal, pencahayaan dibatasi 8 jam per hari.

Kemudian pada hari ke 61 hingga hari ke 68 dilakukan penambahan pencahayaan sekitar 3 jam sampai 4 jam. Sehingga lamanya pencahayaan dalam sehari antara 14-16 jam.

Berikut adalah tabel program force molting ayam dengan metode Milo :

metode force molting ayam petelur Milo

4. Metode Washington

Pada metode Washington, proses force molting ayam dilakukan dengan membatasi pakan perhari. Yaitu hanya 2,7 kg/100 ekor/hari.

Kemudian pada hari ke 50 dilakukan penambahan pencahayaan sekitar 3 jam sampai 4 jam. Sehingga lamanya pencahayaan dalam sehari antara 14-16 jam.

Berikut adalah tabel dari program force molting ayam metode Washington :

metode force molting ayam petelur Washington

Baca juga : ” Penyakit Berak Darah (Koksidiosis) pada Ayam “

D. Kesimpulan

Force molting ayam merupakan tidakan yang dapat dipilih dalam suatu usaha peternakan untuk memaksimalkan pendapatan yang masuk.

Meskipun demikian, proses force molting ayam harus dilakukan secara hati-hati. Karena beberapa ayam dapat stress dan berujung dengan kematian.

Oleh karena itu, monitoring (pemantauan) harus dilakukan dengan benar agar hasil dari proses force molting sesuai harapan.

Terima kasih telah membaca artikel mengenai Force Molting Ayam Petelur. Semoga artikel ini menjadi salah satu solusi dari berbagai permasalahan yang sedang anda hadapi saat ini. Jaya peternakan Indonesia !

Daftar Pustaka :

  • Fitroh, Mohammad Nurdiana., dkk. 2016. Pengaruh Metode Force Molting yang Berbeda Terhadap Rontok Bulu Ayam Peterlur Afkir. Kendari : Jurusan Produksi Ternak Fakultas Peternakan UHO. JITRO VOL.3 NO.2.
  • Mulyono, Ali Mursyid Wahyu., dkk. 2008. Penerapan Teknologi Force Molting pada Ayam Petelur Afkir: Kajian Parameter Produksi, Organ Pencernaan dan Reproduksi,  Pertahanan Tubuh. Universitas Veteran Bangun Nusantara : Fakultas Pertanian. Sains Peternakan Vol. 6 (2). ISSN 1693-8828.
  • Setioko, Argono Rio. 2005. Ranggas Paksa (Forced Molting) : Upaya Memproduktifkan Kembali Itik Petelur. Bogor : Balai Penelitian Ternak. WARTAZOA Vol. 15 No. 3.
  • Wijayanti, Dwi. 2019. Pengaruh Force Molting terhadap Produksi Telur Tetas dan Fertilitas Induk Ayam Broiler. Sukabumi : CV. Selabintana.