11 Teknik Pemberian Obat yang Harus Diketahui

11 Teknik Pemberian Obat yang Harus Diketahui

berbagai teknik pemberian obat

Mengetahui teknik pemberian obat adalah hal yang penting. Karena dengan mengetahui teknik pemberian obat, kita juga dapat mengetahui efektivitas dan manajemen resiko terhadap obat yang diberikan.

Obat merupakan suatu benda yang tidak asing lagi bagi masyarakat. Obat diartikan sebagai suatu benda yang terdiri atas bahan kimia untuk mencegah dan/atau membunuh mikroorganisme penyebab penyakit.

DOWNLOAD PDF – 11 Teknik Pemberian Obat yang Harus Diketahui

Penggunaan obat pada makhluk hidup harus dilakukan secara hati-hati. Karena apabila terjadi kesalahan, baik kesalahan dosis maupun kesalahan teknik pemberiannya dapat berakibat fatal.

Selain itu, cara atau teknik pemberian obat juga berpengaruh pada mekanisme obat di dalam tubuh. Baik itu mekanisme farmakodinamik maupun mekanisme farmakokinetik.

Farmakodinamik adalah perjalanan obat dari pertama masuk ke dalam tubuh menuju organ target. Sedangkan farmakokinetik adalah kerja obat selama obat berada di organ target.

Apabila teknik pemberiannya salah, mekanisme obat akan terhambat. Bahkan bisa membahayakan individu tersebut. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami berbagai teknik pemberian obat.

A. Pengertian Obat

Secara umum, obat merupakan semua substansi yang dapat mempengaruhi kehidupan.

Obat digunakan untuk membunuh mikroorganisme penyebab penyakit, menghilangkan atau meredakan gejala, dan untuk mencegah terjadinya penyakit sekunder lainnya.

Penggunaan obat harus sesuai dengan resep dokter. Karena apabila terjadi kesalahan dosis (terutama overdosis), alih-alih bisa sembuh tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Pembelian obat dalam jumlah banyak juga tidak diperbolehkan. Harus menyertakan surat izin kerja sebagai medis atau yang bersangkutan.

Baca juga : ” Proses Pembentukan Telur Ayam “

B. Jenis Obat Berdasarkan Bentuk Sediaan

1. Padat

Obat yang berbentuk padat umumnya digunakan sebagai obat oral (dimakan). Seperti pil, tablet, dan dan serbuk.

Penggunaan obat padat dapat dilakukan oleh pasien itu sendiri sesuai dengan resep dokter.

2. Setengah Padat

Obat setengah padat biasanya digunakan dengan cara di oles permukaan tubuh. Seperti salep mata, gel, pasta, dan krim.

3. Cair

Obat cair merupakan obat yang berbentuk cairan. Penggunaannya bisa dengan cara dilakukan injeksi (suntikan) maupun oral.

Beberapa obat cair juga bisa digunakan untuk pengobatan di permukaan tubuh.4. Gas   Inhaler merupakan contoh obat dalam bentuk gas. Penggunaanya biasanya untuk mengobati penyakit yang berkaitan dengan pernafasan.

Meskipun kebanyakan obat anastesi berbentuk cair, namun obat dalam bentuk gas juga bisa digunakan.

C. Teknik Pemberian Obat

Terdapat berbagai teknik pemberian obat yang dapat dilakukan, semua itu tergantung dengan jenis obat dan kondisi pasien pada saat akan diberikan obat. Teknik pemberian obat yang akan kita pelajari meliputi enteral, seperti secara sublingual, oral dan rektal. Juga parenteral yang dilakukan menggunakan jarum suntik.

1. Enteral

Teknik pemberian obat secara enteral didasarkan atas jalur yang dilalui obat itu sendiri. Obat enteral akan meleweati saluran pencernaan. Kemudian akan dilakukan absorbsi menuju ke organ target.

a. Sublingual

Pemberian obat dilakukan dengan cara diletakkan di bawah lidah. Karena obat dapat menuju sistem sirkulasi melalui anyaman kapiler di bawah lidah.

Pemberian obat secara sublingual memiliki keuntungan. Yaitu waktu yang diperlukan untuk menuju organ target relatif lebih cepat dibandingkan dengan pemberian secara oral.

Karena obat tidak perlu melalui sistem pencernaan dan hati. Selain itu, pemberian obat secara sublingual juga dapat mencegah perusakan obat oleh pH lambung yang asam dan berbagai enzim pencernaan.

Biasanya, obat yang diberikan secara sublingual memiliki rasa yang cenderung manis.

b. Oral

Obat oral merupakan obat yang diberikan melalui mulut.

Kebanyakan obat oral diabsorbsi di bagian lambung. Namun, beberpa obat ada yang diabsorbsi melalui epitel di duodenum. Karena permukaan absorbsinya yang lebih luas dibandingkan di lambung.

Waktu yang diperlukan untuk sampai ke organ target lebih lama dibandingkan dengan cara lain. Hal itu karena jalur yang dilalui cukup panjang.

Seperti absorbsi pada saluran pencernaan, ikut bersama aliran darah menuju ke hati baru disalurkan menuju jaringan atau organ target. Beberapa obat oral juga memiliki sifat tidak tahan asam, sehingga apabila terlalu lama di dalam lambung menyebabkan obat terbeut rusak.

Untuk mengatasi hal itu, obat yang tidak tahan asam biasanya dibungkus dengan salut enterik. Sehingga obat terlindungi. Contoh obat dengan salut enterik adalah penicillin.

c. Rektal

Sama halnya dengan pemberian obat sublingual. Tetapi pemberiannya dilakukan secara rektal melalui dubur (tepatnya di daerah rectum).

Pemberian obat secara rektal juga memiliki kelebihan seperti pemberian obat secara sublingual. Yaitu tidak terjadi penghancuran obat oleh pH asam lambung dan beberapa enzim pencernaan.

Selain itu, pemberian obat secara rektal juga dapat menjadi solusi apabila pasien mengalami vomiting (muntah) ketika diberikan obat secara oral.

Baca juga : ” Pemalsuan Bahan Pakan Ternak dan Pemeriksaannya “

2. Parenteral

Teknik pemberian obat secara parenteral harus dilakukan dengan bantuan alat, yaitu spuit dan needle. Selain itu, pemberian obat secara parenteral harus dilakukan oleh tenaga medis.

Meski demikian, pemberian obat secara parenteral memiliki kelebihan. Yaitu waktu yang dibutuhkan untuk menuju organ target lebih cepat karena rute perjalanan obat menuju sirkulasi darah lebih cepat bahkan secara langsung.

Hal tersebut membuat pemberian obat secara parenteral harus dilakukan dengan hati-hati, karena apabila terjadi kesalahan dosis atau kesalahan pemberian obat, obat tidak bisa lagi dikeluarkan.

Oleh karena itu, perlu dilakukan cek riwayat alergi obat.

teknik pemberian obat injeksi

a. Intravena

Vena merupakan pembuluh darah dengan sirkulasi kembali menuju jantung. Kebanyakan injeksi obat dilakukan melalui intravena(IV).

Pemberiaannya juga harus memenuhi SOP yang berlaku, seperti penggunaan needle dan spuit yang steril (bebas dari mikroorganisme peneyabab penyakit).

b. Intramuskular

Reaksi obat yang diberikan secara intramuskular (IM) lebih lama dibandingkan dengan pemberian obat secara intravena.

Karena obat di dalam jaringan otot akan larut secara perlahan dan memberikan dosis sedikit demi sedikit.

c. Subkutan

Teknik pemberian obat secara subkutan dilakukan pada jaringan subkutan dengan sudut kemiringan needle sekitar 45 derajat.

Perbedaan pemberian obat secara parenteral pada berbagai jaringan membuat teknik pemberiannya berbeda juga.

3. Lain-lain

a. Intranasal

Intranasal merupakan pemeberian obat yang dilakukan melalui hidung. Seperti pemberian desmopressin untuk pengobatan diabetes insipidus.

Juga penggunaan obat narkotika kokain yang dihisap melalui hidung.

b. Inhalasi

Obat yang diberikan secara inhalasi biasanya berkaitan dengan penyakit yang menyerang sistem pernafasan atau yang berkaitan dengan hal itu.

Seperti pengobatan penyakit asma. Efeknya bekerja cepat hampir seperti pemberian obat secara intravena.

c. Intraventrikular

Teknik pemberian obat secara intraventrikular jarang dilakukan. Teknik ini hanya digunakan apabila memang perlu dilakukan.

Seperti penggunaan metotreksat pada pengobatan leukimia limfositik yang bersifat akut.

d. Topikal

Teknik pemberian obat secara topikal dilakukan pada permukaan tubuh bagian luar. Seperti kulit dan mata. Obat yang digunakan biasanya berupa krim atau salep, dan tetes mata.

Sama halnya dengan pemberian obat secara parenteral, pemberian obat secara topikal juga dapat menghindari terjadinya iritasi lambung.

e. Transdermal

Transdermal merupakan teknik pemberian obat melalui kulit, tepatnya melalui ‘transdermal patch’, di mana kecepatan absorbsinya ditentukan oleh sifat fisik kulit yang bersangkutan di area tertentu.

Efek kerjanya bersifat lambat. Contohnya adalah pemberian antiangina untuk mengatasi penyakit angina.

Baca juga : ” Penyakit Hog Cholera pada Babi “

D. Kesimpulan

Perbedaan pemberian obat sangat mempengaruhi efisiensi dan efektivitas kinerja obat itu sendiri. Perlakuan pemberian obat juga harus diawasi oleh tenaga medis atau sesuai anjuran dokter, sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Masing-masing teknik pemberian obat memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Karena sesuai dengan kondisi pasien saati itu.

Seperti tidak mungkin dilakukan pemberian obat secara oral apabila pasien mengalami muntah atau kesulitan menelan. Sebagai tenaga medis, baik itu paramedic, dokter umum, dokter gigi, dan dokter hewan mengetahui teknik pemberian obat adalah satu hal yang harus diketahui.

Karena berbeda penyakit, berbeda bentuk obat, berbeda juga teknik pemberiannya.   Terima kasih telah membaca artikel mengenai teknik pemberian oabat. Semoga ilmu dapat tersampaikan dengan jelas. Tetap sehat masyarakat Indonesia.

Daftar Pustaka :

  • Gunani, Sri Budi. 2009. Uji Daya Antiinflamasi Krim Tipe A/M Ekstrak Etanolik Jahe 10% (Zingiber ifficinale Roscoe) yang Diberikan Topikal Terhadap Udem Kaki Tikus yang Diinduksi Karagenin. Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta
  • Noviani, Nita., Vitrinurilawaty. 2017. Bahan Ajar Keperawatan Gigi : Farmakologi. Jakarta : Pusat Pendidikan Sumber Daya Manusia Kesehatan