Kastrasi pada Kucing

Kastrasi pada Kucing

cara kastrasi pada kucing

Kastrasi pada kucing atau orchiectomy pada kucing merupakan tindakan pembedahan yang ditujukan untuk menghilangkan atau mengangkat organ testis pada individu jantan. Tindakan pembedahan (operasi) dilakukan pada hewan dalam keadaan tidak sadar.

Pelaksanaan kastrasi sebaiknya dilakukan sebelum hewan memasuki masa puber karena dapat mencegah perilaku hewan yang tidak diinginkan, seperti stres. Meskipun demikian, kastrasi juga dapat dilakukan pada hewan yang sudah tua.

DOWNLOAD PDF – Kastrasi pada Kucing

Kucing merupakan hewan peliharaan yang peminatnya terus mengalami peningkatan. Selain karena lucu dan menggemaskan, kucing banyak dipelihara karena perawatannya yang cukup mudah dan murah.

Di antara banyaknya pecinta kucing di Indonesia, ada sebagian orang yang kucing lokal sebagai hewan peliharaannya.

Sebagai hewan peliharaan, tentu pemilik hewan selalu mengharapkan kucingnya sehat. Namun, baru-baru ini terjadi peningkatan populasi kucing lokal yang signifikan.

Di mana hal tersebut dapat mengganggu kesehatan lingkungan karena banyaknya penyakit zoonosis yang dapat ditularkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penekanan populasi untuk menciptakan lingkungan yang sehat.

Solusi yang dapat dilakukan untuk menekan populasi kucing liar yang melonjak adalah dengan melakukan kastrasi pada kucing. Selain itu, kastrasi pada kucing juga berguna untuk menghindari sifat abnormal yang mungkin diturunkan dan mengurangi resiko terjadinya penyakit hormonal.

Kastrasi juga digunakan sebagai salah satu metode penggemukan pada hewan ternak, terutama sapi. Berikut adalah pengertian kastrasi, tujuan dilakukannya kastrasi, dan perawatan pasca kastrasi pada kucing :

A. Pengertian Kastrasi

Kastrasi (Orchiectomy/Orchidectomy) merupakan suatu tindakan pembedahan yang dilakukan untuk menghilangkan atau mengangkat organ testis individu jantan.

Sedangkan pada individu betina, istilah medis yang digunakan untuk kebiri adalah Ovariectomy (Pengangkatan Ovarium) maupun Ovariohysterectomy (Pengangkatan Ovarium beserta Uterus).

Tindakan kastrasi pada hewan seperti kucing dilakukan oleh dokter hewan. Ruangan dan peralatan yang dilakukan pun harus steril untuk menghindari terjadinya infeksi pada saat dilakukan operasi.

Berikut adalah sistem reproduksi kucing jantan :

B. Tujuan Kastrasi pada Kucing

Kastrasi dilakukan untuk berbagai tujuan, di mana semua tujuan tersebut untuk kesejahteraan manusia maupun hewan itu sendiri.

Berikut adalah beberapa tujuan dilakukannya kastrasi pada kucing :

  1. Menurunkan populasi kucing liar yang melonjak
  2. Menghindari sifat abnormal yang mungkin diturunkan oleh induk yang dikastrasi
  3. Mengurangi resiko terjadinya penyakit hormonal
  4. Kucing tidak mudah stress
  5. Meningkatkan kesejahteraan kucing secara umum
  6. Menurunkan keinginan kucing untuk berkeliaran sehingga resiko penyakit dari luar kecil

Baca juga : ” Cara Memotong Kuku Kucing dengan Benar “

C. Operasi Kastrasi pada Kucing

Terdapat dua metode yang dapat digunakan dalam tindakan kastrasi, yaitu metode terbuka dan metode tertutup.

Metode terbuka dilakukan dengan melakukan insisi pada scrotum dan tunica vaginalis, kemudian dilakukan pengangkatan testis dan cordaspermatica tanpa membuang tunica vaginalis.

Sedangkan pada metode tertutup, kastrasi hanya dilakukan dengan menginsisi scrotum saja tanpa tunica vaginalis. Kemudian dilakukan pengangkatan testis dan cordaspermatica.

Metode tertutup biasanya dilakukan untuk hewan dengan usia muda, atau pada anjing ras kecil.   Metode tertutup memiliki keuntungan tersendiri, yaitu dengan tidak dibukanya tunica vaginalis maka resiko terjadinya hernia scrotalis dapat dihindari.

Sedangkan pada metode terbuka, ikatan pembuluh darah lebih terjamin. Namun, keadaan tunica vaginalis yang terbuka dan terhubung dengan abdomen membuat resiko hernia scrotalis tinggi.

1. Pre Operasi Kastrasi

Pre operasi merupakan tindakan persiapan awal yang dilakukan sebelum proses operasi berlangsung.

Tindakan yang dilakukan selama pre operasi terdiri dari persiapan ruangan operasi dan persiapan alat yang akan digunakan selama operasi.

a. Persiapan Ruang Operasi

Persiapan ruang operasi dilakukan untuk menghilangkan mikroorganisme infektif seperti bakteri dan virus. Persiapan dapat dilakukan dengan sterilisasi ruangan dengan radiasi sinar Ultra Violet(UV).

b. Persiapan Peralatan Operasi

Dilakukan sterilisasi peralatan yang akan digunakan untuk tindakan operasi. Misalnya menggunakan desinfektan alcohol 70%.

2. Premedikasi dan Anastesi Kastrasi

Premedikasi adalah tindakan pemberian obat sebelum dilakukan anstesi, di mana premedikasi berguna untuk mengurangi rasa takut, amnesia, pencegahan terjadinya hal yang tidak diinginkan selama operasi seperti hipersalivasi, bradikardi (detak jantung di bawah normal), dan muntah.

Meskipun sebelumnya, kucing yang akan dikastrasi harus dipuasakan selama 8-12 jam sebelum operasi dilaksanakan.   Premedikasi pada kastrasi kucing dapat dilakukan dengan injeksi Atropin sulfat dengan dosis 0,04 mg/kg BB (Berat Badan) secara subcutan selama 15 menit.

Setelah itu, baru diberikan obat anastesi berupa ketamin dengan dosis 2 mg/kg BB dan xylazine dengan dosis yang sama secara Intramuscular (IM).

Ketamin-xylazine merupakan kombinasi obat anastesi yang ideal karena menghasilkan efek yang sinergis, yaitu analgesik yang kuat dan relaksasi otot yang bagus.

Anastesi merupakan suatu tindakan yang dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri ketika dilakukan operasi. Anastesi berasal dari bahasa Yunani, yaitu An yang berarti tidak dan Aesthesis yang berarti rasa atau sensasi nyeri.

Anastesi terbagi menjadi anastesi lokal dan anastesi umum. Kedua anastesi tersebut dilakukan dengan berbagai pertimbangan, seperti kondisi pasien, sifat anastetika yang ditimbulkan, jenis operasi yang akan dilakukan, serta peralatan dan obat-obatan yang tersedia.

Sifat anastetika ideal yang diharapkan dari sebuah anastesi adalah :

  • Murah
  • Mudah didapatkan
  • Tidak beracun
  • Tidak menimbulkan efek samping terhadap organ vital
  • Tidak mudah terbakar
  • Cepat dieliminasi oleh tubuh
  • Stabil
  • Relaksasi musculus (otot) yang baik
  • Kesadaran tubuh cepat kembali, dan tidak meninggalkan efek samping yang merugikan.

Selain itu, obat anastesi yang diberikan tidak boleh dipengaruhi oleh variasi umur dan kondisi tubuh hewan penderita.

3. Operasi Kastrasi pada Kucing

Setelah anastesi berhasil dilakukan, kucing direbahkan dengan posisi terlentang. Setelah itu dilakukan pencukuran rambut pada daerah scrotum untuk mempermudah insisi.

Namun pada kucing tidak dilakukan pencukuran bulu, melainkan hanya perlu dicabut dengan tangan. Setelah rambut tercabut, dilakukan sterilisasi dengan pemberian alcohol 70% dan providone iodine.

Selanjutnya testis ditekan menuju dasar scrotum dan dilakukan insisi dengan panjang kurang lebih 1 cm di atas testis pada ujung scrotum dari cranial (depan) ke caudal (belakang).   Setelah insisi pada bagian scrotum berhasil dilakukan, dilanjutkan dengan insisi lebih dalam hingga fascia spermatica untuk mengeluarkan testis.

Kemudian ligamentum scrotum dipotong dan dilakukan insisi pada tunica vaginalis di atas testis. Testis diangkat dengan melakukan penekanan ke luar melalui irisan dan ditarik ke luar.

Insisi harus dilakukan secara hati-hati tanpa melukai tunica albuginea, karena dapat menyebabkan jaringan parenkim testis keluar.

Setelah testis berhasil diangkat, dilakukan ligasi pada cordaspermatica menggunakan arterial clamp. Kemudian ductus defferent pada cordaspermatica dipotong searah yang menuju organ testis.

Selanjutnya ductus defferent beserta pembuluh darah diikat dengan simpul mati sebanyak tiga kali baru dilakukan pemotongan pada bagian bawah ikatan tersebut.

Kemudian ikatan tersebut dimasukkan ke dalam rongga scrotum. Tindakan akhir kastrasi pada kucing tidak dilakukan penjahitan, karena luka insisi akan menyatu dengan sendirinya selama beberapa hari.

Daerah luka bekas insisi ditutup dengan kasa steril yang sudah diberi providone iodine. Kemudian dilakukan injeksi antibiotika seperti betamox LA.

Penutupan luka insisi dengan kasa cukup dilakukan selama 1 x 24 jam. Hal tersebut dilakukan untuk memudahkan proses drynase (pengeringan) luka. Namun tetap harus diingat, bahwa kondisi lingkungan pasca operasi juga harus dijaga kebersihannya.

4. Post Operasi Kastrasi pada Kucing

Post operasi terdiri dari berbagai tindakan yang dilakukan untuk mendukung penyembuhan. Tindakan tersebut terdiri dari pemberian nutrisi yang cukup, pemberian obat untuk proses penyembuhan luka, dan injeksi antibiotika.

Pemberian antibiotika seperti betamox LA dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder akibat operasi yang kurang steril.

Selain itu, kebersihan hewan pasca operasi juga harus diperhatikan. Seperti pembersihan urin dan feses yang dikeluarkan.

Perawatan post operasi dapat dilakukan selama 14 hari untuk memaksimalkan proses penyembuhan luka bekas kastrasi.

Baca juga : ” Cara Memandikan Kucing dengan Baik dan Benar “

D. Kesimpulan

Kastrasi pada kucing merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan manusia dan kucing. Karena dengan dilakukannya kastrasi, peningkatan populasi kucing liar dapat menurun secara perlahan.

Selain itu, kastrasi memberikan manfaat lain seperti perbaikan mutu genetik dan menurunkan resiko penyakit zoonosis dari kucing liar karena populasinya yang menurun.

Kesejahteraan kucing dapat meningkat secara umum karena kucing yang terlantar semakin berkurang.   Meskipun kastrasi pada kucing memberikan banyak manfaat, namun biaya kastrasi yang cukup mahal membuat tindakan kastrasi minim dilakukan.

Kastrasi yang dilakukan di klinik hewan merupakan permintaan dari client, bukan inisiatif dokter hewan untuk melakukan hal tersebut.

Namun, hal tersebut dapat diatasi oleh keberadaan berbagai komunitas pecinta kucing yang sadar akan pentingnya dilakukannya kastrasi pada kucing liar. Mengingat, biaya kastrasi satu individu kucing memang terbilang mahal. Kesadaran client akan manfaat kastrasi kucing juga harus ditingkatkan. Bahwa kastrasi tidak dilakukan untuk menggemukkan kucing peliharaan.

Meskipun salah satu efek dilakukannya kastrasi adalah hal tersebut, karena stress pada kucing dapat diminimalisir.

Kesehatan dan kebugaran kucing peliharaan tetap bergantung pada makanan dan perawatan yang diberikan. Semakin bagus pakan dan perawatan yang diberikan, maka kucing tentu akan tumbuh dengan sehat dan menggemaskan.

Terima kasih telah membaca artikel mengenai kastrasi pada kucing. Semoga artikel ini bermanfaat bagi semua pihak yang membaca.

Daftar Pustaka :

  • Hanif, Abdurrahman., dkk. 2017. Castrate : Solusi Menekan Ledakan Populasi Kucing Lokal. Yohya : Universitas Gadjah Mada.
  • Hidayati, Dina Anisa Isnu. 2014. Laporan Praktikum Ilmu Bedah Khusus Orchiectomy pada Kucing. Malang : Laboratorium Ilmu Bedah Khusus. Program Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya.
  • Resmihariningsih, Ida Ayu., dkk. Tugas Laporan Praktikum Ilmu Bedah Khusus Veteriner Bedah Sistem Reproduksi Dan Genitalia II (Operasi Kastrasi Kucing). Bali : Laboratorium Bedah Veteriner. Fakultas Kedokteran hewan Universitas Udayana.