Mengenal Berbagai Bentuk Sediaan Obat (BSO)

Pada dasarnya, obat yang kita gunakan memiliki beragam bentuk sediaan. Mulai dari bentuk sediaan obat (BSO) padat, BSO setengah padat, BSO cair, dan BSO gas. Masing-masing dari bentuk sediaan obat tersebut memiliki karakteristik dan penggunaan yang berbeda satu sama lain. Misalnya, rute pemberian obat ke dalam tubuh pasien. Mulai dari rute pemberian obat enteral, parenteral, intranasal, topikal, hingga transdermal memiliki bentuk sediaan obatnya masing-masing.

DOWNLOAD PDF – Bentuk Sediaan Obat (BSO)

Contoh lain, ada zat yang tidak stabil jika berada di dalam tablet, sehingga harus menggunakan kapsul. Ada juga obat yang dimaksudkan larut di dalam usus halus, sehingga obat tersebut harus melewati lambung terlebih dahulu. Tentu saja diperlukan pemilihan bentuk sediaan obat yang tepat untuk mencapai efek farmakoterapi yang baik.

Hal tersebut mendasari bahwa pemilihan bentuk sediaan obat (BSO) yang tepat dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengobatan yang dilakukan untuk kesembuhan pasien. Berikut adalah 4 bentuk sediaan obat (BSO) yang harus kamu ketahui :

A. Betuk Sediaan Obat Padat

Bentuk sediaan obat padat terdiri dari Pulvis, Pulveres, Capsulae, Pilulae, Suppositoria, Bacilla. Berikut adalah masing-masing penjelasan dari BSO padat :

1. Pulvis

Pulvis atau serbuk adalah serbuk yang tidak dibagi. Biasanya digunakan sebagai alternatif bagi anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet. Bentuk sediaan obat serbuk memiliki keuntungan, yaitu memiliki permukaan yang luas sehingga serbuk lebih mudah terdispersi dan lebih larut dari pada bentuk sediaan yang dipadatkan.

Kekurangan dari serbuk sendiri adalah rasa yang tidak enak, bisa berupa (pahit, kelat, asam, dan lengket dilidah). Hal tersebut dapat diperbaiki dengan penambahan corigens saporis. Selain itu, serbuk juga memiliki kelemahan lain, yaitu untuk obat higroskopis mudah terurai jika kelembaban tinggi.

2. Pulveres

Pulveres atau serbuk bagi adalah serbuk yang dibagi-bagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum. (Murtini, 2016) Biasanya pulveres dibungkus dengan kertas perkamen, atau bahan pengemas lain yang cocok.

Umumnya, bobot serbuk setiap bungkus adalah 500 mg. Jika bobot suatu serbuk bagi kurang dari 500 mg bisa ditambahkan suatu zat tambahan yang memiliki sifat netral atau tidak berkhasiat.

3. Capsulae

Kapsul adalah bentuk sediaan obat padat yang terbungkus dalam suatu cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Pada umumnya, cangkang terbuat dari gelatin, tetapi bisa juga dari pati atau bahan lain yang sesuai. Dalam hal ini, kapsul terbagi menjadi kapsul cangkang keras (Capsulae durae, hard capsule) dan kapsul cangkang lunak (Capsulae molles, soft capsul).

Kapsul cangkang keras terdiri dari bagian wadah dan tutup (Capsulae overculateae) yang terbuat dari metilselulosa, gelatin, pati, atau bahan lain yang sesuai. Biasanya, kapsul ini diisi dengan bahan padat seperti serbuk, butiran, atau granul. Pabrik yang terkenal memproduksi cangkang kapsul di Indonesia adalah “Parke Davis”. (Susanti, 2017)

Kapsul cangkang lunak merupakan satu kesatuan yang berbentuk bulat atau silindris (pearl) atau bulat telur (globula) yang dibuat dari gelatin (kadang disebut gel lunak) atau bahan lain yang sesuai. (Susanti, 2017) Kapsul cangkang lunak biasanya lebih tebal dibandingkan dengan cangkang keras. Pada umumnya, kapsul cangkang lunak dipakai untuk pemberian obat rute oral, vaginal, rektal, atau topikal. Sediaan tablet berbentuk kapsul disebut juga dengan kapsitab atau kaplet.

Penggunaan bentuk sediaan obat kapsul memiliki beberapa keuntungan, yaitu memiliki bentuk yang menarik dan praktis, mudah ditelan dan cepat hancur sehingga obat cepat diabsorbsi, cangkang kapsul tidak memiliki rasa sehinga dapat menutupi rasa dan bau obat yang tidak enak, dokter dapat mengkombinasikan berbagai macam obat dengan dosis yang berbeda, serta kapsul lebih cepat diisi daripada pil dan tablet karena tidak memerlukan zat tambahan.

Di samping berbagai kelebihan yang dimiliki, pemberian obat dalam bentuk kapsul juga memiliki beberapa kerugian. Di antaranya adalah kapsul tidak dapat digunakan untuk zat yang mudah menguap, higroskopis, dan zat yang dapat bereaksi dengan cangkang kapsul. Selain itu, kapsul juga tidak bisa diberikan untuk balita dan tidak dapat dibagi-bagi.

4. Pilulae

Pil atau pilulae adalah suatu sediaan dengan bentuk bulat yang mengandung satu atau lebih bahan obat. Berdasarkan beratnya, bentuk sediaan obat ini dibagi menjadi beberapa, yaitu Pil (dengan berat 60-300 mg), Boli (pil yang beratnya >300 mg), Granula (1/3-1 grain, di mana 1 grain adalah 64,8 mg), dan Parvul (dengan berat <1/3 grain).

5. Suppositoria

Supositoria menurut FI edisi IV adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektum, vagina, atau uretra; umumnya meleleh, melunak, atau melarut pada suhu tubuh. (Susanti, 2017)

Dalam hal ini, supositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan dan pembawa zat terapeutik yang bersifat lokal atau sistemik. Berdasarkan penggunaannya, supositoria terbagi menjadi supositoria rektal, supositoria vaginal (ovula), dan supositoria uretra (bacilla, bougis).

Baca juga : ” 11 Teknik Pemberian Obat yang Harus Diketahui “

B. Bentuk Sediaan Obat Setengah Padat

Bentuk sediaan obat setengah padat terdiri dari Linimentum, Unguenta, Cream, Pasta, Cerates, Sapo, Emplastrum. Berikut adalah masing-masing penjelasan dari BSO setengah padat :

1. Linimentum

Linimentum berasal dari bahasa latin “Linere” yang berarti gosokkan. Linimentum atau obat gosok umumnya adalah sediaan cair atau kental, mengandung analgetikum dan zat yang mempunyai sifat rubefacient melemaskan otot atau menghangatkan, digunakan sebagai obat luar. (Sari, 2019) Pada dasarnya, linimentum tidak digunakan untuk kulit dengan luka terbuka atau kulit yang mengalami iritasi.

2. Unguentum

Unguentum atau salep adalah sediaan obat setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Pada dasarnya, unguentum memiliki konsistensi seperti mentega, tidak mencair pada suhu biasa, tetapi mudah dioleskan tanpa memakai tenaga. Obat yang terkandung dalam unguentum harus terdispersi homogen.

Berdasarkan kegunaan dalam terapi, unguentum atau salep dapat dikelompokkan sebagai berikut :

  • Salep Epidermis : Digunakan untuk melindungi kulit atau mengobati epithelium. Vehikulum (basis salep) berupa vaselin atau campuran hidrokarbon.
  • Salep Mukosa : Biasanya digunakan pada rectum, hidung, dan mata. Vehikulum salep mukosa terdiri dari campuran vaselin dan Adeps lanae. Hal ini ditujukan untuk memudahkan salep melekat pada mukosa yang basah.
  • Salep Endodermis : Penetrasi salep melalui kulit dan bekerja lebih dalam daripada permukaan kulit. Vehikulum salep endodermis dapat berupa lemak, campuran bahan yang mirip lemak kulit, adeps lanae, atau lanoline.

3. Cream

Cream adalah bentuk sediaan obat setengah padat berbentuk salep yang banyak mengandung air, mudah diserap oleh kulit, dan dapat dicuci dengan air. Pada dasarnya, dalam pembuatan cream, selain campuran minyak / lemak atau bahan lain yang sesuai dengan bahan cari (umumnya air), pembuatan cream juga membutuhkan bahan ke III yang disebut dengan Emusifying agent / Emulgator.

4. Pasta

Pasta adalah salep dengan kandungan zat padat (serbuk) lebih dari 50%. Pasta memiliki sifat tidak memberikan rasa berminyak serta lebih kental dan lebih kaku daripada salep. Pasta digunakan sebagai penutup atau pelindung bagian kulit yang diolesi, sehingga salep jenis pasta tebal.

Penggunaan pasta memiliki berbagai keuntungan, di antaranya adalah mengikat cairan atau sekret dari lesi akut, tidak ada peluang terjadi iritasi lokal karena tidak memiliki daya penetrasi, lebih melekat pada kulit, dan memiliki daya abrasif.

Selain memiliki keuntungan, penggunaan pasta juga memiliki beberapa kekurangan, yaitu pasta lebih keras sehingga sukar dioleskan dan kadang menimbulkan rasa nyeri, pasta sukar dibersihkan, serta pasta juga tidak sesuai untuk bagian yang berbulu.

5. Cerates

Cerates adalah bentuk sediaan obat setengah padat yang mengandung substansi medisinal dengan basis dari lemak atau lilin homogen, memiliki konsistensi lunak, serta lembut untuk dioleskan.

6. Sapo

Sapo atau sabun adalah bentuk sediaan obat setengah padat yang digunakan untuk tubuh bagian luar. Cara penggunaannya adalah dengan digosokkan sampai berbusa, dibiarkan sebentar, kemudian dicuci bersih. Sapo dihasilkan melalui proses penyabunan alkali dengan lemak atau asam lemak yang tinggi.

Penggunaan sapo memiliki keutungan, yaitu tidak berbekas dan bisa digunakan untuk terapi secara luas. Penggunaan sapo atau sabun sebagai obat terdiri dari sapo kalinus, sapo medicatus, dan sapo superadipatus

7. Emplastrum

Emplastrum atau plester adalah hasil proses penyabunan asam lemak dengan logam berat. Contoh dari emplastrum adalah Emplastrum plumbici oxydi. Selain emplastrum, terdapat juga colemplastrum. Colemplastrum merupakan BSO setengah padat yang digunakan untuk obat luar dengan cara dioleskan pada kain yang elastis, dan diaplikasikan pada kulit yang sakit.

Emplastrum diberikan kepada pasien dengan tujuan memberikan proteksi dan bantuan mekanis pada kulit, obat memiliki kontak yang kuat dengan kulit yang diobati, obat tidak mudah meleleh sehingga memberikan efek lokal yang lebih intensif.

Baca juga : ” Cara Memandkan Anjing dengan Baik dan Benar “

C. Bentuk Sediaan Obat Cair

Bentuk sediaan obat cair terdiri dari Solutio, Mixtura, Mixtura agitanda, Suspensio, Emulsum, Saturatio, Galenika, Guttae, Sirupus, Injeksio, dan Aerosol. Berikut adalah masing-masing penjelasan dari masing-masing BSO cair :

1. Solutio

Solutio adalah bentuk sediaan cari, jernih, homogen, dan mengandung bahan kimia terlarut. Dalam hal ini, bahan kimia terlarut disebut dengan solvendum atau solut, sedangkan pelarutnya disebut dengan solvent.

Bentuk sediaan solutio memiliki beberapa keuntungan, di antaranya adalah memiliki Onset of Action yang lebih cepat daripada bentuk obat oral lain, bersifat homogen sehingga setiap takar berisi jumlah bahan dengan khasiat yang sama, jernih sehingga secara psikis menyenangkan penderita. Selain itu, pada kemasan bentuk sediaan solutio tidak perlu menuliskan kocok dahulu sebelum pengunaan.

Bentuk sediaan obat solutio juga memiliki beberapa kerugian, di antaranya yaitu rasa solvendum yang lebih menonjol, tidak praktis dibawa, serta lebih mudah rusak dibandingkan bentuk obat padat.

2. Mixtura

Mixtura berasal dari kata “Mixture” yang berarti campuran. Dalam hal ini, mixture memiliki arti yang sangat luas. Mixture dapat berarti campuran bahan padat dengan bahan padat, bahan padat larut dengan bahan cair, bahan padat tidak larut dengan bahan cair, dan bahan cair dengan bahan cair. Dalam hal bentuk sediaan obat (BSO) cair, mixtura diartikan dengan campuran bahan cair dengan bahan cair yang saling larut. Mixtura dapat digunakan sebagai obat luar maupun obat dalam.

3. Mixtura agitanda

Mixtura agitanda adalah bentuk sediaan obat cair yang terdiri dari campuran bahan cair dengan bahan padat yang tidak larut, sehingga terdapat endapan. Oleh karena itu, pada kemasan mixtura agitanda harus disertai dengan tulisan “Kocok Terlebih Dahulu”. Agitanda berasal dari kata “Agitare” yang berarti kocok. Penggunaan obat dengan sediaan mixtura agitanda selalu untuk obat luar.

4. Suspensio

Suspensi adalah bentuk sediaan obat cair yang merupakan campuran bahan padat dan bahan cair yang tidak saling larut. Hal yang membedakan mixtura dengan suspensi adalah pada pembuatan suspensi, diperlukan bahan ke tiga yang disebut dengan suspensator. Suspensator memiliki sifat seperti lendir, sehingga proses terbentuknya endapan lama.

5. Emulsum

Emulsum atau emulsi adalah bentuk sediaan obat cair yang terdiri dari campuran bahan minyak dan bahan air yang homogen. Dalam pembuatannya, emulsum juga membutuhkan bahan ketiga yang disebut dengan emulgator atau emulgens. Bahan minyak dalam emulsi disebut dengan emulgendum, sedangkan bahan air dalam emulsi disebut dengan menstrum. Bentuk emulsum dapat berupa air dalam minyak (W/O) atau minyak dalam air (O/W).

6. Saturatio

Saturatio adalah bentuk sediaan obat cair, namun bersifat jenuh dengan CO2. Dalam saturatio, CO2 berfungsi sebagai corrigen rasa. Contoh sederhana saturatio adalah sprite dan fanta.

7. Galenika

Galenika adalah bentuk sediaan obat cair yang terbentuk dari hasil penyaringan dari simplisia atau crude drug dengan bahan cair tertentu. Galenika dibuat dengan menggunakan metode ekstraksi yang terbagi menjadi infusum, decoctum, macerasio, dan percolasi.

8. Guttae

Guttae atau obat tetes adalah bentuk sediaan obat cair yang pemakaiannya menggunakan alat tetes. Guttae atau obat tetes digunakan karena volume obat yang diberikan lebih kecil dibandingkan dengan volume obat cair lainnya. Sehingga lebih mudah ditelan terutama untuk hewan yang masih menyusui. Namun, penggunaan obat tetes harus diperhatikan karena salah sedikit saja dosisnya sudah jauh berbeda.

9. Sirupus

Sirupus atau syrup adalah bentuk sediaan obat cair berupa larutan yang mengandung sacarose dengan kadar 64-66%. Kadar tersebut harus terpenuhi pasti, karena apabila kadar sacarose lebih dari 66% akan mudah terbentuk kristal. Namun, apabila kadar sacarose kurang dari 64% akan mengalami fermentasi.

10. Injeksio

Injeksi adalah bentuk sediaan obat (BSO) cair steril yang berupa larutan, emulsi, atau suspensi dalam air atau pembawa lain yang sesuai. Sedaan injeksi digunakan dengan cara pemberian obat parenteral. Dosis bentuk sediaan obat injeksio harus diperhatikan, karena reaksi yang dihasilkan lebih cepat dibandingkan dengan bentuk sediaan obat lainnya.

11. Aerosol

Aerosol merupakan bentuk sediaan obat cair yang cara pemakainnya dengan disemprotkan, sehingga terbentuk butir air yang sangat kecil menyerupai kabut. Apabila bentuk sediaan obat aerosol dihisap melalui hidung atau mulut, maka obat tersebut dapat disebut dengan inhalan.

Baca juga : ” Pemalsuan Bahan Pakan Ternak dan Pemeriksaannya “

D. Bentuk Sediaan Obat Gas

Bentuk sediaan obat (BSO) gas adalah sediaan yang dikemas di bawah tekanan, mengandung zat aktif terapeutik yang dilepas pada saat sistem katup yang sesuai ditekan. (Sholihah, 2021) Bentuk sediaan ini juga dapat disebut sebagai aerosol. Karena, aerosol merujuk pada partikel yang ada di udara ataupun di gas.

E. Kesimpulan

Ada berbagai bentuk sediaan obat (BSO) yang dapat menjadi pilihan bagi tenaga medis untuk memberikan obat kepada pasien. Pemilihan BSO sangat berpengaruh pada efektifitas dan efisiensi pengobatan yang dilakukan. Karena menyangkut proses absorbsi hingga eksresi. Oleh karena itu, pemilihan BSO harus didasarkan pada pengetahuan dan tujuan pengobatan tersebut dilakukan.

Daftar Pustaka :

  • Murtini, Gloria. 2016. Modul Bahan Ajar Cetak Kebidanan Farmestika Dasar. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  • Sari, Mutia B. 2019. Formulasi dan Pembuatan Obat Gosok (Linimentum) Minyak Lada Hitam (Piper nigrum L.) dan Minyak Biji Cabai Merah (Capsicum annuum L.). Repository Poltekkes Tanjungkarang.
  • Sholihah, Indah. Bentuk-bentuk Sediaan Obat. Diakses melalui studylib.com pada 5 April 2021.
  • Susanti, Nora. 2017. Sumber Belajar Penunjang PLPG 2017 Farmasi/SMK BAB II Bentuk Sediaan Obat. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan.
Default image
Gigih Fikrillah S
Content writer yang tertarik dengan dunia digital. Suka hewan dan sayang kekasih.
Articles: 112

Leave a Reply

Manusya Mriga Satwa Sewaka

Five Freedoms of Animal Welfare :

  • Freedom From Hunger and Thrist
  • Freedom From Thermal and Physical Discomfort
  • Freedom From Injury, Disease, and Pain
  • Freedom to Express Most Normal Pattern of Behavior
  • Freedom from Fear and Distress

 

POWERED BY :

VETMEDICINAE