Perhatian : Media kedokteran hewan VETMEDICINAE tidak akan menggantikan peran dokter hewan. Terutama dalam hal diagnosa penyakit dan pemberian obat hewan. Kami hanya memberikan informasi kesehatan hewan berdasarkan literatur yang ada.

"Manusya Mriga Satwa Sewaka"

Gigih Fikrillah S, S.K.H. | Hubungi Kami

Waspada 3 Penyakit Ginjal dan Ureter pada Hewan Kesayangan

Hewan kesayangan merupakan sebutan yang umum bagi hewan kecil, yaitu kucing dan anjing. Keberadaan hewan kesayangan menjadi sebuah hal yang menyenangkan bagi pemiliknya, karena dapat mengurangi tingkat stress akibat rutinitas yang dilakukan sehari-hari.

Anjing dan kucing memiliki hubungan emosional yang sangat dekat manusia, dibandingkan dengan hewan-hewan yang lain (Sudipa, 2021). Apabila anjing dan kucing sakit, tentu saja akan mempengaruhi fisiologi dari pemilik hewan tersebut. Oleh karena itu, kesehatan anjing dan kucing menjadi hal yang penting untuk diperhatikan.

Salah satu bentuk penyakit yang sering menyerang anjing dan kucing adalah penyakit yang berkaitan dengan ginjal dan ureter. Berikut adalah beberapa penyakit ginjal dan ureter pada anjing dan kucing :

1. Chronic Kidney Disease

Gagal ginjal kronis merupakan sebuah gangguan fungsi ginjal yang bersifat progresif dan irreversible. Pada kondisi ini ginjal gagal mempertahankan fungsi metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit, sehingga menyebabkan uremia (Mardasella, 2021).

Chronic kidney disease (CKD) merupakan penyakit yang umum terjadi pada kucing. CKD pada kucing memiliki prevalensi yang bervariasi antara 1-3%, meningkat pada usia 10 tahun menjadi 7,5% dan mencapai antara 15 dan 30% pada usia di atas 15 tahun (Paepe, 2014 dalam Handayani, 2021).

1.2 Kausa

Kelebihan protein yang disaring akan diserap kembali oleh sel-sel epitel tubulus kontortus proksimal, dipecah oleh lisosom seluler, dan masuk kembali darah sebagai asam amino. Proses pemecahan protein dapat melepaskan radikal bebas oksigen yang merangsang pelepasan sitokin inflamasi. Peningkatan tekanan kapiler intraglomerular juga menghasilkan jaringan parut dan akhirnya menjadi sumbatan glomerulus.

1.3 Patofisiologi

Patofisiologi CKD dapat terjadi pada tingkat organ dan sistemik. CKD tingkat renal berupa perubahan patologis rusaknya nefron dan penurunan GFR. Penurunan fungsi GFR menghasilkan peningkatan konsentrasi zat seperti ureum dalam plasma darah. Gangguan berupa sindrom uremia yaitu ketidakseimbangan natrium dan air, anemia.

1.4 Gejala Klinis

Gejala awal CKD pada umumnya poliuria dengan polidipsia kompensatorik, anoreksia, letargi, kaheksia, dan yang jarang ditemui pada awal CKD tetapi umum pada fase lanjutan yaitu gejala gastrointestinal.

1.5 Diagnosis

Diagnostik standar untuk ginjal yaitu pemeriksaan darah lengkap, biokimia serum, dan urinalisis. Ultrasonografi (USG) dan radiografi juga digunakan sebagai diagnosis dini untuk menegakkan diagnosa.

1.6 Diagnosa Banding

Diagnosa banding dari penyakit Chronic Kidney Disease adalah Acute Kidney Injury (AKI). Dengan perbedaan pada penyakit akut ditandai dengan patofisiologi dan kejadian penyakit yang lebih singkat.

1.7 Tatalaksana Terapi

Ringer laktat sebagai sumber energi yang dikonversi dari asetat menjadi bikarbonat dalam menangani asidosis. Kondisi asidosis terjadi ketika produksi asam ditubuh berlebihan atau saat ginjal tidak mampu membuang asam (August 2009). Pemberian gastroprotektan sebagai penanganan masalah gastrointestinal (Dowd et al. 2016 dalam Handayani, 2021).

Baca juga artikel : “Kenali Penyakit Chlamydia pada Kucing”

2. FLUTD (Feline Lower Urinary Tract Disease)

Penyakit FLUTD pada kucing (Feline Lower Urinary Tract Desease) atau FUS (Feline Urologic Syndrome) merupakan penyakit yang menyerang vesica urinaria dan urethra kucing. Kebanyakan FLUTD terjadi akibat kelalaian pemilik dalam memberikan makanan. Pada umumnya terdapat dua jenis makanan kucing, yaitu makanan kering dan makanan basah.

Makanan kering cenderung memikiki kadar Magnesium yang lebih tinggi dibandingkan makanan basah. Oleh karena itu, makanan seharusnya diberikan secara bervariasi, tidak melulu kering dan juga tidak melulu basah. Hal itu akan menjaga pencernaan kucing tetap sehat.

Kucing merupakan hewan peliharaan yang paling banyak diminati di Indonesia. Selain karena tingkah lakunya yang lucu dan menggemaskan, perawatan hewan yang satu ini tergolong cukup mudah.

Meskipun begitu, banyak masyarakat yang menyepelekan perawatannya sehingga menyebabkan kucing menjadi sakit. Mulai dari kebersihan kandang yang kurang, hingga pola makan yang tidak teratur.

Kesehatan dan keteraturan pola makan merupakan dasar dari kesehatan hewan peliharaan. Karena, hewan membutuhkan makanan yang sehat dan bergizi untuk menghasilkan energi, baik energi basal untuk hidup maupun energi sampingan untuk aktivitas lainnya.

Makanan dengan gizi yang buruk akan menghambat pertumbuhan hewan peliharaan, bahkan dapat membuat ia menjadi sakit. Mulai dari penyakit yang sederhana, hingga penyakit kelas berat.

2.2 Kausa

Penyebab umum terjadinya FLUTD (Feline Lower Urinary Tract Desease) :

a. Urothiliasis
Urothiliasis terjadi karena adanya pengendapan Kristal pada Urinary Tract (Saluran Kencing). Pengendapan Kristal dapat terjadi pada bagian ureter maupun urethra dari saluran kencing.
b. Infeksi Bacteria
Infeksi bakteri merupakan manifestasi dari terjadinya urothiliasis. Adanya endapan Kristal pada saluran kecil memudahkan bakteri untuk menginfeksi saluran kencing.
c. Pola makan
Beberapa pemilik kucing memberikan pakan dengan intensitas yang tinggi tanpa melakukan rolling food atau pergantian makanan secara berkala. Hal tersebut tidak baik bagi kesehatan kucing.
Makanan basah yang terus menerus diberikan pada kucing dapat menyebabkan terjadinya diare. Sedangkan makanan kering yang diberikan secara terus menerus dapat menyebabkan terjadinya FLUTD.

2.3 Patofisiologi

Patofisiologi terjadinya FLUTD bergantung pada penyebab dari FLUTD itu sendiri. Apabila FLUTD disebabkan oleh bakteri, maka patofisiologinya akan terjadi infeksi, inkubasi, kemudian inflamasi. Sedangkan apabila FLUTD disebabkan karena urothiliasis, akan terjadi inflamasi.

2.4 Gejala Klinis

Berikut adalah gejala klinis pada kucing yang terkena FLUTD (Feline Lower Urinary Tract Desease) :

  • Nafsu makan menurun
  • Tingkah laku ketika kencing berbeda, hal tersebut dikarenakan kucing yang terkena FLUTD akan merasakan sakit ketika urinasi.
  • Lemas
  • Penurunan berat badan yang sangat menonjol akibat dari gejala nomor Satu, dan
  • Muntah pada beberapa kasus

2.5 Diagnosis

Diagnosis FLUTD dapat dilakukan dengan menggunakan tangan, yaitu dengan melakukan palpasi di daerah vesica urinaria. Selain itu, untuk menegakkan diagnosa juga dapat dilakukan dengan USG atau Ultrasonografi.

2.6 Diagnosa Banding

Penyakit yang mirip dengan kejadian urolithiasis struvite adalah cystitis, nephritis dan urolith kalsium oxalate dihidrat jika dilihat di bawah mikroskop memiliki penampakan atau struktur yang mirip, yaitu bentukan maltese cross atau amplop, karenanya dijadikan diagnosa banding untuk kasus ini. Namun, hal ini dapat dibedakan jika keduanya disandingkan, urolith calsium oxalate lebih berbentuk segi empat, sedangkan urolithiasis struvite lebih berbentuk persegi panjang (Rizzi, 2014 dalam Elviani, 2021).

2.7 Tatalaksana Terapi

  • Pemberian cairan infus sebagai solusi atas terjadinya dehidrasi
  • Pemberian obat obatan yang kerjanya mirip seperti hormon aldosteron, yaitu obat obatan yang bersifat antispasmodik seperti atropin. Hal itu dikarenakan obat obatan yang bersifat antispasmodik berdampak pada relaksasi otot polos.
  • Pemijatan yang dilakukan pada urethra dengan istilah ‘Milking Technique’
  • Apabila beberapa cara di atas tidak berhasil maka perlu dilakukan adanya operasi
  • Pembedahan dalam penangan kasus obstruksi ureter. Dalam penanganannya, pilihan bedah yang dapat dilakukan adalah Ureteroneocystostomy dan anastomosis (Cohen dkk, 2015)
  • Pemberian katater (Kataterisasi). Ini merupakan langkah yang tidak begitu dianjurkan perlakuannya oleh dokter hewan.

3. Acute Kidney Injury (AKI)

Acute Kidney Injury (AKI) merupakan penurunan filtrasi ginjal mendadak yang ditandai dengan peningkatan kadar kreatinin serum, uremia akut, dan perubahan volume urin, AKI dapat berasal dari pre-renal, intrinsic renal, dan post-renal dengan 35% disebabkan oleh obstruksi ureter (Umar, 2021).

1.2 Kausa

Acute Kidney Injury (AKI) biasanya terjadi akibat obstruksi ureter, namun infestasi parasit juga dapat memicu terjadinya AKI, terhitung lebih dari 90% kasus yang dilaporkan adalah leptospirosis (Mulyani, 2017).

1.3 Patofisiologi

Patofisiologi dapat terjadi pada pre-renal, seperti penurunan fungsional ginjal itu sendiri. Menanggapi cedera sel, reaksi inflamasi dengan produksi sitokin dan kemokin terjadi. Sel yang terkelupas ke dalam lumen tubular dapat membentuk gips, menyebabkan obstruksi di dalam tubulus dan mengakibatkan kebocoran kembali ultrafiltrasi dan peningkatan tekanan balik glomerulus, sehingga berkontribusi pada penurunan GFR lebih lanjut (Umar, 2021). Sedangkan pada post-renal disebabkan karena obstruksi saluran kemih.

1.4 Gejala Klinis

Hewan yang menderita AKI biasanya memiliki gejala seperti dehidrasi (selaput lendir kering, tenda kulit memanjang dan juga mata cekung) dan hipovolemia (takikardia, membran mukosa pucat dan kualitas denyut nadi perifer yang buruk).

1.5 Diagnosis

Diagnosis dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah lengkap CBT (Complete Blood Test), yaitu hematologi dan biokimia darah. Selain itu, juga dapat dilakukan USG.

1.7 Tatalaksana Terapi

Hewan dengan penyakit AKI dapat diberikan terapi berupa antibiotik, dekontaminasi, etanol, dan perlakuan Haemodyalysis.

Baca juga artikel : “Prosedur Enukleasi Mata Kucing”

Daftar Pustaka :

  • August JR. 2009. Consultation in Feline Internal Medicine, Volume 6. Saunders Elsevier. China. 300-764.
  • Cohen, Liat., dkk. 2012. Bilateral ureteral obstruction in a cat due to a ureteral transitional cell carcinoma. Can Vet J 2012;53:535–538.
  • Elviani, B. 2021. Urolithiasis Struvite pada Kucing Persia di Klinik Hewan Pendidikan Universitas Hasanuddin. (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS HASANUDDIN).
  • Handayani., dkk. 2021. “Chronic kidney disease pada kucing domestic short hair.” ARSHI Veterinary Letters 5, no. 2 (2021): 23-24.
  • Luckschander, Nicole., dkk. 2004. Dietary NaCl Does Not Affect Blood Pressure in Healthy Cats. J Vet Intern Med 2004;18:463–467.
  • Mardasella, A. 2021. Gagal ginjal kronis pada Kucing Domestik Rambut Pendek. Media Kedokteran Hewan, 32(1), pp.29-39.
  • Mulyani, Guntari Titik, dkk. 2017. “Kejadian Leptospirosis pada Anjing di Daerah Istimewa Yogyakarta.” Jurnal Veteriner 8.3 (2017): 403-408.
  • Nelson R, Couto G. 2014. Small Animal Internal Medicine 5th Edition. California.
  • Nurozzi, Alfarisa., dkk. 2019. Terapi Ammonium Khlorida-Asam Askorbat untuk Menurunkan Tingkat Keasaman Urin dan Kristalisasi Struvit pada Kucing Urolithiasis. Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan : Jurnal Veteriner.
  • O’neill, D. G., dkk. 2013. “Chronic kidney disease in dogs in UK veterinary practices: prevalence, risk factors, and survival.” Journal of veterinary internal medicine 27.4 (2013): 814-821.
  • Paramita, Intan Maria., dkk. 2018. Pijat Uretra (Urethral Massage) Alternatif Penanganan Kasus Obstruksi Uretra Akibat FLUTD pada Kucing Jantan. Bogor : IPB.
  • Sudipa, P.H., dkk. 2021. Identifikasi dan Prevalensi Jamur Curvularia pada Anjing dan Kucing di Kabupaten Badung, Bali Tahun 2020. Indonesia Medicus Veterinus.
  • Umar, Nur Sulalatin. 2021. “KASUS ACUTE KIDNEY INJURY (AKI) PADA KUCING MIXDOMESTIC-PERSIA DI MAROS PET CARE.” PhD diss., Universitas Hasanuddin.
Gigih Fikrillah S
Gigih Fikrillah S

Content writer yang tertarik dengan dunia digital. Suka hewan dan sayang kekasih.

Articles: 171

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *