Perhatian : Media kedokteran hewan VETMEDICINAE tidak akan menggantikan peran dokter hewan. Terutama dalam hal diagnosa penyakit dan pemberian obat hewan. Kami hanya memberikan informasi kesehatan hewan berdasarkan literatur yang ada.

"Manusya Mriga Satwa Sewaka"

Gigih Fikrillah S, S.K.H. | Hubungi Kami

Mengenal Lumpy Skin Disease (LSD)

Indonesia merupakan negara agraris dengan populasi hewan ternak yang besar, mulai dari ternak unggas hingga hewan besar seperti ruminansia. Sebagian besar sumber makanan didapatkan dari komoditas hasil peternakan. Pembenahan pengelolaan bidang peternakan menjadi hal yang sangat penting bagi pemerintah, khususnya dalam hal penanganan penyakit ternak. Keberadaan penyakit tentu dapat mengganggu kualitas dan kuantitas produksi yang akan dihasilkan nantinya.

LSD atau Lumpy Skin Disease merupakan penyakit virus serius yang harus segera ditangani. LSD pertama kali ditemukan di Afrika pada tahun 1929 dan menjadi endemis. Penyakit ini kemudian menyebar ke berbagai negara termasuk Timur tengah, Eropa, dan Asia. Keberadaan LSD menjadikan ternak seperti sapi dan kerbau mengalami demam, nafsu makan menurun, hingga tubuh yang kurus dengan tingkat penularan yang cepat (Sendow et al. 2021). Keberadaan penyakit LSD dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang besar jika mewabah.

Di Indonesia penyakit LSD masih jarang dilaporkan keberadaannya, namun belakangan ini beberapa laporan terkait dengan penyakit LSD pada sapi mulai bermunculan. LSD sebelumnya merupakan penyakit eksotik, apabila mulai bermunculan maka diperlukan dokter hewan untuk turun langsung ke lapangan dan mencegah terjadinya penyebaran LSD yang semakin luas. Makalah ini akan membahas mengenai pengertian, penyebab, gejala, cara penularan, diagnosa, penyebaran, dan pengobatan LSD (Lumpy Skin Disease).

A. Penyebab LSD

Lumpy Skin Disease atau LSD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus LSD dari genus Capripox, famili Poxviridae. Virus LSD adalah virus double stranded deoxy-ribo nucleic acid (DNA), memiliki lipid envelope, dan bereplikasi pada sitoplasma. Virus LSD terdiri dari 150 kilobase pairs, dengan diameter berkisar 230–260 nm (Lojkic et al. 2018).

LSD Virus atau LSDV merupakan virus dengan virulensi yang tinggi, sehingga dapat menyebar dengan cepat antara satu hewan ke hewan yang lain. Virus LSD sensitif terhadap suhu 55°C selama 2 jam atau 65°C selama 30 menit. Virus ini juga peka terhadap pH basa atau asam, namun stabil pada pH 6,6 hingga pH 8,6 selama 5 hari pada suhu 37°C (OIE, 2017). Induk semang utama untuk penyakit LSD adalah sapi Bos taurus dan Bos indicus. Spesies lain seperti impala, dan kerbau juga dapat terinfeksi LSDV (Gibbs et al. 2013 ; Sendow et al. 2021).

B. Gejala LSD

Gejala Lumpy Skin Disease LSD
Nodul pada kulit sapi yang terinfeksi LSDV
(Coetzer, 2004).

Sapi yang terinfeksi LSDV pada tahap awal akan menunjukkan leukopenia dan efek imunosupresif. Pada tahap akhir sapi akan mengalami anemia hemolitik, leukositosis, dan peningkatan serum creatine phosphokinase. Sapi dengan infeksi LSDV juga akan mengalami gangguan hati dan ginjal. LSDV pada kerbau kurang rentan dibandingkan pada sapi (Nugroho et al. 2021).

Gejala klinis penyakit LSD pada sapi betina yang dapat dijumpai adalah demam mencapai 41,5°C, nafsu makan menurun, produksi susu menurun, ingusan, konjungtivitis, hipersalivasi, depresi, dan pembengkakan limfoglandula subscapularis dan limfoglandula prefemoral, serta terdapat nodul pada kulit yang berbatas, jelas, dan menonjol dengan diameter 2-5 cm. Sedangkan pada sapi jantan dapat menyebabkan infertilitas permanen atau sementara (Sendow et al. 2021).

Lumpy Skin Disease LSD pada Sapi
Lesi LSD pada hewan terjangkit. (a) Sapi lokal dengan nodul dan lesi pada kulit di atas wajah dan leher. (b) Sapi lokal dengan nodular skin lession di seluruh tubuh. (c) Kerbau dengan nodul kulit pada tubuh (Koirala et al, 2022).

C. Cara Penularan LSD

Lumpy skin disease (LSD, Pseudo-urtikaria, penyakit virus Neethling, eksantema nodularis bovis, dan knopvelsiekte) adalah penyakit menular. Penularan mekanis penyakit LSD berkaitan dengan vektor serangga terbang melalui pengamatan epidemi LSD pada aktivitas gigitan serangga terbesar.

Mekanisme penularan diawali dengan adanya vektor berupa anrthropoda meskipun belum jelas (Al salihi, 2014). Vektor penularan virus LSD yang paling mungkin adalah arthropoda penghisap darah seperti lalat stable (Stomoxys calcitrans), nyamuk (Aedes aegypti), dan caplak (Rhipicephalus dan Amblyomma). Lalat rumah Musca domestica, juga dapat berperan dalam penularan virus LSD (Sprygin et al. 2019).

Baca juga : ” Perbedaan Kandang Sapi Perah dan Sapi Potong “

D. Diagnosa LSD

Penyakit LSD dapat didiagnosa melalui gejala klinis dan uji laboratorium secara serologis, virologis, biologi molekuler, serta identifikasi virus menggunakan mikroskop elektron. Sampel untuk pengujian LSD yaitu lesi noduler di kulit, swab mulut/saliva, swab hidung, semen, darah dengan antikoagulan EDTA untuk uji deteksi virus, sedangkan serum untuk uji serologi (Sudhakar et al. 2020 ; Sendow et al. 2021).

Diagnosis banding LSD di antaranya adalah pseudo-lumpy skin disease yang disebabkan oleh Bovine Herpesvirus-2 dengan gejala klinis yang lebih ringan dan berlangsung lebih singkat dibanding LSD, dermatophilosis, rinderpest, ringworm, gigitan serangga, demodekosis, infestasi Hypoderma bovis, bovine papular stomatitis, urtikaria, cutaneous tuberculosis, dan onchocercosis (BBVET Wates, 2021).

E. Penyebaran LSD di Dunia, Asia, dan Indonesia

Persebaran LSD
Penyebaran Lumpy Skin Disease (LSD) pada tahun 2014 MRVSA 3(3), 6-23. (Al-Salihi, 2014).

Sherrylin et al. (2013) menyebutkan bahwa terdapat berbagai variasi besar dalam tingkat morbiditas dan mortalitas wabah penyakit LSD. Hal tersebut tergantung pada faktor-faktor :

  • Lokasi geografis dan iklim
  • Kondisi manajemen
  • Status gizi dan keadaan umum hewan
  • Jenis ternak yang terkena dampak
  • Status kekebalan
  • Tingkat populasi dan penyebaran vektor serangga diduga di berbagai habitat
  • Virulensi virus.

Tingkat morbiditas LSD berkisar antara 5% hingga 45%. Namun, tingkat morbiditas 1-5% dianggap biasa. Angka morbiditas yang lebih tinggi telah ditemukan di epizootik di Afrika Selatan, Barat dan Timur dan Sudan meskipun sejauh ini tingkat yang lebih rendah dapat terjadi selama epizootik yang sama. Selain itu, tinggi tingkat morbiditas dan mortalitas masing-masing 30-45% dan 12% juga dilaporkan di Oman pada tahun 2009 dalam populasi peternakan sapi Holstein.

Negara pertama Asia yang tertular penyakit LSD adalah Bangladesh (Juli 2019), kemudian India dan China (Agustus 2019). Selanjutnya Taiwan (Juli 2020), Vietnam (Oktober 2020), Thailand (Mei 2021), dan Malaysia (Juni 2021) (Leestyawati, 2022). Sedangkan di Indonesia, hingga saat ini belum ada laporan terjadinya kasus LSD.

Menurut Sendowati et al. (2021), dalam rangka pencegahan penyebaran penyakit LSD di Indonesia, beberapa rekomendasi yang diperlukan antara lain :

  • Dilakukan bimbingan teknis kepada praktisi lapangan baik dokter hewan lapang, penyuluh dan peternak serta melaporkan terduganya kasus LSD dalam rangka diagnosis dini dan penanganan kasus LSD yang tepat,
  • Melakukan kontrol dan pengawasan yang ketat dan aktif apabila terdapat kasus yang diduga LSD,
  • Penerapan sanitasi dan biosekuriti untuk meningkatkan keterlibatan peternak dalam melakukan tindakan pencegahan termasuk lalu lintas ternak,
  • Bila diperlukan melakukan survei entomologi pada zona prevalensi tinggi untuk mengidentifikasi kemungkinan keberadaan vektor dan lokasi berkembangbiaknya serta laju penularan dalam rangka pengendalian vektor dan surveilans serologis pada ruminansia liar lokal untuk mengetahui peran potensial hewan tersebut dalam siklus penularan penyakit.

F. Pengobatan LSD

Pengobatan LSD hingga saat ini belum ditemukan, namun dapat dilakukan berbagai tindakan pencegahan seperti vaksinasi, pembatasan lalulintas ternak, pengendalian vektor, pelaksanaan karantina, dan stamping out apabila memungkinkan. Terdapat tiga jenis vaksin yang dapat digunakan dalam penanggulangan LSD, di antaranya adalah vaksin homolog, vaksin heterolog, dan vaksin inaktif. Vaksin homolog terdiri dari virus LSD live yang dilemahkan. Vaksin heterolog terdiri dari virus sheep pox atau goat pox yang dilemahkan (SPPV/GPPV).

G. Kesimpulan

Lumpy Skin Disease atau LSD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus LSD dari genus Capripox, famili Poxviridae. LSD Virus atau LSDV merupakan virus dengan virulensi yang tinggi, sehingga dapat menyebar dengan cepat antara satu hewan ke hewan yang lain.

Gejala klinis penyakit LSD pada sapi betina yang dapat dijumpai adalah demam mencapai 41,5°C, nafsu makan menurun, produksi susu menurun, ingusan, konjungtivitis, hipersalivasi, depresi, dan pembengkakan limfoglandula subscapularis dan limfoglandula prefemoral, serta terdapat nodul pada kulit yang berbatas, jelas, dan menonjol dengan diameter 2-5 cm. Sedangkan pada sapi jantan dapat menyebabkan infertilitas permanen atau sementara.

Penularan mekanis penyakit LSD berkaitan dengan vektor serangga terbang melalui pengamatan epidemi LSD pada aktivitas gigitan serangga terbesar. Mekanisme penularan diawali dengan adanya vektor berupa anrthropoda meskipun belum jelas. Negara pertama Asia yang tertular penyakit LSD adalah Bangladesh (Juli 2019), kemudian India dan China (Agustus 2019). Selanjutnya Taiwan (Juli 2020), Vietnam (Oktober 2020), Thailand (Mei 2021), dan Malaysia (Juni 2021) (Leestyawati, 2022). Sedangkan di Indonesia, hingga saat ini belum ada laporan terjadinya kasus LSD.

Penyakit LSD dapat didiagnosa melalui gejala klinis dan uji laboratorium secara serologis, virologis, biologi molekuler, serta identifikasi virus menggunakan mikroskop elektron. Sampel untuk pengujian LSD yaitu lesi noduler di kulit, swab mulut/saliva, swab hidung, semen, darah dengan antikoagulan EDTA untuk uji deteksi virus, sedangkan serum untuk uji serologi.

Baca juga : ” Ruminal Tympany (Kembung pada Sapi) “

Daftar Pustaka :

  • Al-Salihi, K. 2014. Lumpy skin disease: Review of literature. Mirror of research in veterinary sciences and animals, 3(3), pp.6-23.
  • Azeem, S., et al. 2022. Lumpy skin disease is expanding its geographic range: A challenge for Asian livestock management and food security. The Veterinary Journal, 279, p.105785.
  • BBVET Wates. 2021. Lumpy Skin Disease: Ancaman Baru Sapi dan Kerbau Indonesia. Diakses melalui http://bbvetwates.ditjenpkh.pertanian.go.id/ pada 09 April 2022.
  • Coetzer, J.A.W. dan Tuppurainen, E. 2004. Lumpy skin disease. Infectious diseases of livestock, 2, pp.1268-1276.
  • Koirala, P., et al. 2022. Molecular Characterization of the 2020 Outbreak of Lumpy Skin Disease in Nepal. Microorganisms, 10(3), p.539.
  • Leestyawati, Ni Wajan. 2022. Waspada Penyakit Lumpy Skin Diseases (LSD). Dinas Pertanian Pangan. Diakses melalui distanpangan.baliprov.go.id pada tanggal 09 April 2022.
  • Lojkic I., et al. 2018. Complete genome sequence of a lumpy skin disease virus strain isolated from the skin of a vaccinated animal. Genome Announc. 6. doi: 10.1128/genomeA.00482-18.
  • Nugroho, EP., et al. 2021. Potency of nuisance flies as vector of Coxiella burnetii on dairy farms in Ampel and Mojosongo Districts, Boyolali Regency, Middle Java, Indonesia. Adv. Anim. Vet. Sci. 1781-90.
  • [OIE] Office International des Epizooties. 2017. Manual of diagnostic tests and vaccines for terrestrial animals, chapter 2.4.14, Lumpy skin disease [Internet]. [accessed 28th July 2018].
  • Sendow, Indrawati., et al. 2021. Lumpy Skin Disease: Ancaman Penyakit Emerging Bagi Kesehatan Ternak Sapi Di Indonesia. WARTAZOA. Indonesian Bulletin of Animal and Veterinary Sciences. 31(2):85-96.
  • Sprygin, A., et al. 2019. Transmission of lumpy skin disease virus: A short review. Virus Res. 269:197637.
Default image
Rini Apriliawati
Articles: 2

Leave a Reply