Perhatian : Media kedokteran hewan VETMEDICINAE tidak akan menggantikan peran dokter hewan. Terutama dalam hal diagnosa penyakit dan pemberian obat hewan. Kami hanya memberikan informasi kesehatan hewan berdasarkan literatur yang ada.

"Manusya Mriga Satwa Sewaka"

Gigih Fikrillah S, S.K.H. | Hubungi Kami

3 Jenis Dehidrasi yang Harus Kamu Tahu

Beberapa hari lalu kita sudah membahas mengenai dehidrasi pada kucing. Mulai dari gejala hingga penanganan dehidrasi. Kali ini mari kita bahas lebih mendalam mengenai jenis dehidrasi. Pada kesempatan kali ini jenis dehidrasi tidak saya golongkan pada berapa persen (%) atau persentase cairan yang hilang dari tubuh.

Tetapi akan digolongkan berdasarkan perbandingan jumlah natrium dengan jumlah air yang hilang. Dehidrasi terbagi menjadi tiga, yaitu dehidrasi isotonik, dehidrasi hipotonik, dan dehidrasi hipertonik.

Sebelumnya mungkin kamu tertarik untuk membaca mengenai gejala dehidrasi pada kucing dan pemasangan IV Catheter pada kucing ? Terima kasih

Wait, untuk membahas hal ini kamu harus mengetahui konsep osmosis. Osmosis adalah pergerakan air melalui membran dari larutan dengan tonisitas lebih rendah ke larutan dengan tonisitas lebih tinggi. Hal tersebut terjadi antara air dengan natrium. Perhatikan skema jenis dehidrasi berikut ini :

tipe atau jenis dehidrasi

Sekarang mari kita bahas satu persatu tipe atau jenis dehidrasi tersebut.

A. Dehidrasi Isotonik

Dehidrasi isotonik merupakan kondisi di mana jumlah air yang hilang sebanding dengan jumlah natrium yang hilang. Pada umumnya dehidrasi isotonik tidak mengakibatkan perpindahan cairan ekstraseluler ke dalam ruang intraseluler (Leksana, 2015). Dehidrasi isotonik merupakan dehidrasi yang paling sering terjadi dengan tingkat kejadian mencapai 80%. Penyebab dehidrasi isotonik di antaranya adalah :

  • Muntah atau diare akut yang serius
  • Kulit terbakar di area yang luas
  • Gambaran terjadinya asites
  • Paralytic ileus

B. Dehidrasi Hipotonik

Dehidrasi hipotonik disebut juga dengan hiponatremik. Pada dehidrasi hipotonik, jumlah Natrium yang hilang lebih besar daripada jumlah air yang hilang. Akibatnya cairan intravaskuler akan berpindah atau masuk ke ruang ekstravaskuler. Jenis dehidrasi ini dapat menyebabkan penderita kejang karena terjadi hiponatremia.

Penyebab paling umum terjadinya dehidrasi hipotonik adalah kehilangan cairan disertai penggantian air atau glukosa sebanyak 5% saja.

C. Dehidrasi Hipertonik

Kebalikan dengan dehidrasi hipotonik, pada dehidrasi hipertonik jumlah air yang hilang lebih banyak daripada jumlah Natrium yang hilang. Akibatnya cairan esktravaskuler berpindah atau masuk ke ruang intravaskuler.

Penanganan jenis dehidrasi ini harus dilakukan secara hati-hati karena dapat mengakibatkan pembengkanan, ruptur sel, dan edema serebral. Oleh karena itu, rehidrasi secara perlahan lebih dari 48 jam dapat meminimalkan resiko ini (Leksana, 2015).

Dehidrasi hipertonik dapat disebabkan karena beberapa hal, di antaranya adalah :

  • kesulitan menelan: oesophageal canceer
  • tidak sadar atau dalam keadaan koma
  • cedera otak yang mengakibatkan gangguan sensasi haus
  • tidak tersedianya air minum yang cukup

Untuk membedakan ketiga jenis dehirasi tersebut. Perlu dilakuakan pengujian laboratorium dengan sampel darah dan urin penderita. Terima kasih telah membaca artiken mengenai jenis atau tipe dehidrasi berdasarkan osmolaritasnya. Next time mari kita bahas mengenai cara melakukan test CRT atau Capillary Refill Time pada Kucing.

Daftar Pustaka :

  • Hassan A. 2013. Disorders of water-electrolytes metabolism. On servingnature : Healthy Bodhy Healthy Mind.
  • Leksana, E. 2015. Strategi terapi cairan pada dehidrasi. Cermin Dunia Kedokteran, 42(1), 70-73.
  • Modric, Jean. 2018. Dehydration Types: Pathophysiology, Lab Tests and Values. eHealthStar : Evidence Based Health Articles.
Gigih Fikrillah S
Gigih Fikrillah S

Content writer yang tertarik dengan dunia digital. Suka hewan dan sayang kekasih.

Articles: 157

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *