Ciri Bibit Sapi Perah yang Baik

Ciri Bibit Sapi Perah yang Baik

Pemilihan bibit sapi perah penting untuk dilakukan sebelum memulai usaha peternakan sapi perah.

Karena pemilihan sapi perah yang akan diternakkan mempengaruhi bagaimana manajemen pemberian pakan, manajemen kandang, serta perawatan sapi perah akan dilakukan nantinya. Berbeda jenis sapi, berbeda juga kebiasaan mereka.

DOWNLOAD PDF – Ciri Bibit Sapi Perah yang Baik

Sapi Friesian Holstein(FH) merupakan ternak sapi perah yang umum digunakan oleh peternak untuk diambil susunya sebagai hasil utama peternakan.

Bagaimana tidak, perawatannya yang cukup mudah dan tidak rewel membuat sapi ini digemari oleh peternak.

Pada awalnya sapi Friesian Holstein (FH) didatangkan dari Belanda, tepatnya dari daerah Friesland. Hal tersebut dilakukan oleh pemerintah colonial pada abad ke-18 untuk memenuhi kebutuhan susu orang Belanda yang ada di Indonesia ketika zaman penjajahan.

Bagaimanapun juga, buah yang bagus dihasilkan oleh tumbuhan yang bagus. Begitu juga dengan susu, susu yang bagus dihasilkan oleh sapi perah yang bagus.

Sapi adalah hewan ternak yang memiliki banyak manfat bagi masyarakat, salah satunya adalah susu hasil perahan yang dapat dimanfaatkan menjadi bahan tambahan dalam berbagai macam olahan makanan, seperti  ice cream, salad buah, dan keju. Selain itu, susu juga dapat dikonsumsi secara langsung.

Terlepas dari berbagai manfaat yang diberikan oleh susu, terdapat peran peternak sapi perah yang begitu besar.

Dalam praktiknya, peternak sapi perah akan menjual susu hasil perahan ke pabrik pengolahan susu maupun ke koperasi susu dan dipasarkan ke masyarakat luas.

Baca juga : ” UMB dan UMMB sebagai Suplemen Ternak Ruminansia “

Berbagai permasalahan baik dari segi manajemen pemberian pakan, manajemen kandang, dan manajemen penanganan penyakit sudah biasa dilakukan oleh peternak sapi perah.

Namun, sebelum memulai usaha ternak sapi perah, peternak harus memperhatikan berbagai aspek yang nantinya akan mendukung usaha peternakan sapi perahnya.

Pemilihan bibit sapi perah unggul merupakan aspek penting yang harus diperhatikan peternak sebelum memulai usahanya.

Selain itu, aspek yang harus dipertimbangkan oleh peternak sapi perah sebelum memulai usahanya meliputi lokasi peternakan, biaya pembuatan kandang, kemudahan mencari pakan, dan pemasaran.

Dalam artikel ini, akan dijelaskan lebih lajut bagaimana ciri bibit sapi perah yang baik untuk diternakkan dan diambil manfaat susunya.

A. Ciri Sapi Perah yang Baik

Dalam menentukan sapi perah yang baik, perlu diperhatikan beberapa hal seperti berat badan sapi, kualitas ambing, posisi puting, kapasitas tubuh, bulu di sekitar ambing, kaki bagian belakang, serta mammary sistem yang dimiliki oleh sapi perah tersebut.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan penjelasan berikut ini :

1. Kaki Bagian Belakang

Kaki belakang diusahakan memiliki bentuk yang seimbang antara kaki belakang bagian kanan dan sapi belakang bagian kiri. Kaki belakang yang kuat dapat memudahkan proses partus (kelahiran) karena dapat menopang beban janin yang akan keluar.

Kaki belakang yang kuat juga dapat menghindarkan ternak sapi perah mengalami hypocalcemia saat postpartus (pasca kelahiran).

2. Kapasitas Tubuh

Sapi perah yang bagus memiliki kapasitas tubuh yang relative besar. Hal itu berguna juga selama proses partus (kelahiran). Tubuh yang relative besar memudahkan janin untuk keluar dari tubuh induk sapi perah.

3. Posisi Puting

Sebenarnya posisi puting adalah masalah estetika. Namun, hal ini juga tidak dapat disepelekan. Posisi puting susu yang bagus terletak di tengah setiap quarter.

Posisi puting susu sapi perah yang tidak benar, seperti di luar quarter (outside) dapat membuat anak sapi kesulitan ketika menyusu.

4. Bulu

Bulu yang dimaksudkan di sini adalah bulu di sekitar ambing. Sapi perah yang bagus memiliki bulu-bulu halus di sekitar ambingnya.

5. Ambing yang Bagus

Ambing yang bagus tidak terlihat bengkok dan terlihat melebar dari depan ke belakang. Selain itu, pada daerah ambing tidak terdapat jaringan lemak. Kulit ambing juga memiliki tekstur lunak dan lentur.

6. Mammary System

Mammary system menentukan seberapa besar produksi susu yang dapat dihasilkan oleh sapi perah. Mamary system mengandalkan pembuluh darah vena dalam memberikan supply susu menuju ambing.

Adanya bentukan vena mammarica yang menonjol pada bagian luar ambing dan terlihat jelas menunjukkan sapi perah tersebut memiliki mammary system yang bagus.

Baca juga : ” Proses Pengolahan susu Sapi yang Baik “

B. Manajemen Kandang Sapi Perah

Selain menentukan kualitas bibit sapi perah yang akan diternakkan, peternak harus menyiapkan kandang yang sesuai dengan fungsi pemerahan. Sehingga pekerjaan pemerahan dapat dilakukan dengan mudah.

Kandang merupakan tempat di mana sapi perah makan dan beristirahat sehingga diperlukan kandang yang bersih dan nyaman. Berikut adala beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam pembuatan kandang sapi perah :

1. Efektivitas Kerja

Efektivitas kerja merupakan hal yang penting untuk mempermudah pekerjaan dalam manajemen perawatan sapi perah nantinya.

Model kandang sapi perah dan sapi potong juga berbeda, biasanya kandang sapi potong memiliki model head to head untuk memudahkan pemberian pakan. Sedangkan kandang sapi perah memiliki model head to head untuk mempermudah pemerahan.

2. Ventilasi

Ventilasi merupakan hal yang penting untuk membangun sanitasi kandang yang bagus. Ventilasi membuat sirkulasi udara di dalam kandang tetap terjaga, sehingga bau urine dan feses tidak terkepung di dalam kandang.   Ventilasi juga dapat membantu menjaga suhu di dalam kandang tetap stabil. Suhu kandang yang terlalu panas tidak baik karena dapat mengganggu kesehatan ternak sapi perah.

3. Penerangan

Hendaknya kandang sapi perah diberi lampu sebagai penerangan. Lampu tidak boleh terlalu terang karena dapat mengganggu ternak. Penerangan di sini berguna untuk membantu fertilitas.

4. Lantai Kandang

Lantai kandang yang bagus memiliki beberapa kriteria, yaitu tidak mudah basah, tidak licin, dan yang paling penting adalah tidak melukai kaki ternak.

Untuk memudahkan pembersihan lantai kandang, sebaiknya lantai didesign sedikit miring agar urine dapat mengalir. Lantai kandang yang licin dapat menyebabkan sapi perah terpeleset, sehingga perlu digunakan bahan yang tidak licin, seperti karet. Memang pada praktiknya, karet merupakan lantai kandang yang mahal.

Namun steril dan mudah kering. Lantai kandang dengan semen yang disapu mudah kering namun dapat melukai ternak.

Sedangkan lantai kandang dari tanah tidak dianjurkan dalam usaha sapi perah, karena kontaminasi bakteri sangat mudah terjadi.

5. Space Kandang

Space kandang berguna memberi ruang gerak bagi sapi perah, sehingga sapi perah tetap bisa bergerak.

Space kandang disesuaikan dengan kegunaan kandang tersebut, entah itu kandang untuk anakan atau kandang untuk sapi perah memiliki ukuran yang berbeda.   Pergerakan sapi dapat melatih sapi untuk menguatkan otot kaki belakang, sehingga proses kelahiran dapat dengan mudah dilakukan.

Selain itu exercise dapat membuat sapi perah tidak mudah stress dan tetap sehat.

6. Atap Kandang

Selain dipengaruhi ventilasi udara, suhu di dalam kandang juga dipengaruhi oleh ketinggian dan atap kandang. Atap kandang yang bagus adalah atap kandang yang tidak mudah menyerap panas matahari, seperti ijuk dan tanah liat.

Atap kandang yang terbuat dari seng perlu dihindari, karena dapat menyebabkan suhu kandang meningkat.

7. Biaya Pembangunan

Hal terakhir yang harus diperhatikan adalah biaya pembangunan kandang. Bahan yang digunakan untuk membangun kandang digunakan bahan dengan biaya terjangkau, namun tetap memenuhi aspek bangunan kandang yang baik.

Dalam analisis biaya usaha, terdapat poin penyusutan biaya. Di mana penyusutan biaya merupakan penyusutan efisiensi kegunaan peralatan kandang dan bangunan kandang itu sendiri.

Bahan bangunan dan peralatan kandang yang bagus dan tahan lama dapat menekan biaya penyusutan ini. Semakin kecil biaya penyusutan, maka semakin besar pendapatan bersih yang didapatkan.

Baca juga : ” Penyakit BEF (Demam Tiga Hari) pada Sapi “

C. Pemberian Pakan Sapi Perah

Pemberian pakan sapi perah ditujukan untuk memenuhi gizi sapi perah. Sehingga susu, sebagai hasi utamanya dapat diproduksi dengan maksimal.

Pemenuhan pemberian pakan harus bisa memenuhi kebutuhan basal untuk hidup, reproduksi, pertumbuhan foetus, dan produksi susu. Pemberian pakan pada sapi perah dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa bahan pakan berikut ini :

1. Hijauan

Hijauan adalah sumber pakan utama herbivore. Karena sapi perah termasuk herbivore ruminansia, di mana kebutuhan pakan utma bersumber dari berbagai jenis tumbuhan.

Hijauan dapat berupa hijauan segar, seperti rumput gajah dan batang gandum. Selain itu, juga terdapat hijauan kering seperti jerami padi, jerami jagugn, dan jerami kacang tanah.

2. Konsentrat

Pemberian konsentrat hendaknya dilakukan sebelum hijauan diberikan. Hal tersebut berguna untuk mengaktifkan mikroba di dalam rumen.

Sehingga nutrisi yang ada pada hijauan dapat terserap tubuh dengan maksimal.

3. Air

Air berguna untuk membantu metabolisme sapi perah. Selain itu, 87.90 % merupakan air yang bersumber dari air minum sapi. (Saleh, 2004)

Pemberian air pada sapi perah hendaknya tersedia secara terus menerus. Hal ini dikenal sebagai sistem pemberian air adlibitum.

D. Kesimpulan

Memulai usaha sapi perah tidaklah mudah, namun dalam menjalankannya terdapat banyak aspek yang harus dipelajari sehingga kemungkinan kegagalan dapat diminimalisir.

Beternak sapi perah merupakan pilihan yang bagus, mengingat permintaan susu di pasar Indonesia begitu besar. Sehingga peluangnya masih terbuka lebar.

Selain dijual secara langsung, kerjasama sebagai mitra perusahaan juga dapat menjadi pasar penjualan hasil susu sapi perah anda.

Tetap semangat memerah susu dan sukses selalu. Tetap jaya peternakan Indoensia. Terima kasih telah membaca artikel ini, semoga membantu dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada dalam peternakan sapi perah anda.

Daftar Pustaka :

  • Maheswari, Rarah R.A., dkk. 2008. Petunjuk Teknis Penanganan dan Pengolahan Susu. Jakarta : Direktorat Pengolahan Hasil Pertanian
  • Saleh, Eniza. 2004. Dasar Pengolahan Susu dan Hasil Ikutan Ternak. Sumatera Utara : USU digital Library.