Perbedaan Hewan Ruminansia dan Nonruminansia

Perbedaan Hewan Ruminansia dan Nonruminansia

Pada dasarnya, perbedaan antara hewan ruminansia dan nonruminansia hanya terletak pada jumlah lambung yang dimilikinya.

Hewan ruminansia memiliki lambung majemuk (polygastric), sedangkan hewan nonruminansia hanya memiliki lambung lambung tunggal (monogastric).

Perbedaan lambung pada kedua jenis hewan tersebut membuat sistem digestiva (sistem pencernaan) mereka berbeda satu dengan lainnya.

Proses pencernaan pada hewan ruminansia lebih rumit dibandingkan dengan proses pencernaan pada hewan nonruminansia karena harus melalui beberapa tahap yang terus diulang.

Hewan merupakan makhluk hidup yang banyak berperan dalam kehidupan manusia. Selain menjaga stabilitas ekosistem lingkungan, hewan juga berperan dalam pemenuhan kebutuhan papan, sandang, maupun kebutuhan pangan.

Oleh karena itu, sebagai manusia yang baik kita wajib untuk memperlakukan hewan dengan baik. Karena bagaimanapun juga, kehidupan manusia tidak dapat lepas dari hewan.

DOWNLOAD PDF – Perbedaan Hewan Ruminansia dan Nonruminansia

A. Klasifikasi Hewan

Hewan dapat diklasifikasikan menjadi hewan yang memiliki tulang belakang (Vertebrata) dan hewan yang tidak memiliki tulang belakang (Invertebrata).

Berdasarkan subkelasnya, vertebrata terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu Pisces (Ikan), Amphibia (Amfibi), Reptilia (Reptil), Aves (Burung), dan Mamalia (hewan menyusui).   Sedangkan hewan invertebrata merupakan kelompok hewan yang tidak memiliki tulang belakang.

Hewan invertebrata terbagi menjadi beberapa filum yaitu Protozoa, Porifera, Cnidaria, Ctenophora, Platyhelminthes, Nematoda, Annelida, Mollusca, dan Artropoda.   Salah satu jenis hewan vertebrata adalah mamalia. Hewan berjenis mamalia sering dikembangbiakkan sebagai ternak yang kemudian dapat diambil manfaatnya.

Dalam dunia peternakan, ternak terbagi menjadi ternak ruminansia dan ternak nonruminansia.

Baca juga : ” Kastrasi pada Kucing “

B. Contoh Hewan Ruminansia

Hewan ruminansia disebut juga hewan memamah biak. Hal itu disebabkan karena kebiasannya yang terus mengunyah makanan meskipun aktivitas makan telah usai.

Hewan ruminansia seperti sapi akan terus mengunyah makanan sembari duduk dan berbaring. Berikut adalah beberapa contoh hewan ruminansia :

  • Sapi
  • Domba
  • Kerbau
  • Kambing
  • Jerapah
  • Rusa
  • Unta
  • Keledai

C. Pencernaan pada Hewan Ruminansia

Hewan ruminansia memiliki lambung majemuk (polygastric) yang berjumlah empat. Di antaranya adalah rumen, retikulum, omasum, dan abomasum.

Dimana rumen, retikulm, dan omasum hanyalah lambung semu. Sedang abomasum adalah lambung sejati.

Berikut adalah struktur anatomis sistem digestivus (sistem pencernaan) yang dimiliki oleh hewan ruminansia :

Berikut adalah alur perjalanan makanan dari mulut hingga anus secara urut pada hewan ruminansia :    

1. Rongga Mulut

Di dalam rongga mulut, terjadi dua macam pencernaan. Yaitu pencernaan secara mekanis dengan menggunakan gigi, dan pencernaan kimiawi dengan menggunakan bantuan enzim amylase.

Di dalam rongga mulut terdapat lidah yang berfungsi untuk mengatur arah pergerakan makanan di dalam mulut. Lidah juga berfungsi untuk menelan. Pada sapi, lidah digunakan sebagai alat prehensi (pengambilan makanan). Yaitu dengan cara mencengkeram rumput dengan memutarkan lidah menjadi spiral.

Sedangkan pada kuda, yang merupakan hewan nonruminansia, proses prehensi dilakukan dengan bantuan bibirnya.

Di dalam rongga mulut, pada hewan herbivora dan omnivora sekresi karbohidrat mulai dilakukan. Yaitu dengan mengeluarkan enzim saliva. Selain lidah, di dalam rongga juga terdapat gigi yang digunakan untuk mengunyah makanan. Pada ruminansia sapi, tidak memiliki gigi seri pada rahang bawahnya.

Oleh karena itu, lidah digunakan untuk mengatur dan mengarahkan makana menuju gigi geraham bagian dalam.

2. Faring

Pada intinya, faring merupakan jalur perpisahan antara saluran respirasi dan saluran digesti. Faring dan laring merupkana pertigaan yang memiliki katup yang disebut dengan epiglotis.

Ketika terjadi pernafasan, epiglotis akan menutupi faring. Sedangkan ketika terjadi penelanan makanan, maka epiglotis akan menutup kearah laring. Penutupan epiglotis yang tidak sempurna dapat menyebabkan terjadinya pengeluaran makanan secara paksa, atau dalam baha Indonesia dikenal dengan aktivitas tersedak.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan skema berikut ini :

Proses Makan

Proses Bernapas

3. Oesophagus

Oesophagus merupakan saluran pencernaan yang terletak di dalam leher. Berbentuk seperti paralon yang memiliki cincin pada setiap bagiannya. Utamanya, oesophagus berfungsi untuk menyalurkan makanan dari faring menuju lambung.

Pada oesophagus, terdapat otot polos yang berfungsi untuk menggerakkan makanan menuju lambung. Gerakan yang dihasilkan disebut dengan gerakan peristaltik.

4. Lambung

Lambung merupakan organ pencernaan yang terletak di antara oesophagus dan ususu halus (intestine). Ruminansia memiliki empat buah lambung dengan fungsi yang berbeda satu dengan lainnya.

Lambung ruminansia terbagi menjadi empat bagian, bagian tersebut adalah rumen, retikulum, omasum dan abomasum.

a. Rumen

Rumen merupakan bagian lambung pertama yang mencerna makanan dari oesophagus. Bentuknya menyerupai handuk, disebut dengan istilah Pillae ruminis.

Rumen memiliki fungsi utama sebagai pencernaan fermentative pada lambung.

b. Retikulum

Lambung retikulum ruminansia memiliki ciri struktur seperti sarang tawon yang dinamakan Cellulae retuculi.

Lambung retikulum berfungsi untuk membantu proses ruminasi bolus. Ruminasi merupakan proses pencernaan berulang yang hanya terjadi pada hewan ruminansia.

Tujuannya adalah membuat makanan menjadi lebih halus.

Karena tumbuhan merupakan sumber makanan yang mengandung lignin yang keras dan sulit untuk dicerna. Proses ruminasi terbagi menjadi empat tahap, yaitu :

  • Regurgitasi

Yaitu pemuntahan kembali bolus yang belum sempurna. Sehingga dikembalikan lagi ke mulut, untuk dihaluskan lagi. Selanjutnya terjadi proses remastikasi. Proses pemuntahan kembali juga melibatkan gerak peristaltic oesophagus dan tekanan pada lambung.

  • Remastikasi :

Yaitu pengunyahan kembali. Bolus akan dikunyah kembali untuk dihaluskan.

  • Resalivasi

Yaitu pemberian saliva kembali untuk memaksimalkan pencernaak karbohidrat atau pencernaan secara fermentatif.

  • Reswallowing

Yaitu penelanan kembali bolus yang sudah mengalami regurgitasi, remastikasi, dan resalivasi. Apabila bolus sudah halus, maka proses pencernaan makanan akan berlanjut menuju usus halus.

c. Omasum

Omasum merupakan bagian lambung ruminansia yang memiliki struktur lembaran, sehingga disebut dengan istilah Lamina omasi.

Pada omasum, terjadi absorbsi Natrium (Na) dan Kalium (K) bersamaan dengan absorbsi air (H2O).

Penyerapan air di dalam omasum ditujukan untuk menghindari penurunan pH menjadi asam secara drastis.

d. Abomasum

Pada abomasum, ditemukan lipatan lipatan yang begitu banyak, sehinnga disbut dengan Plicae abomasi. Abomasum merupakan lambung sejati yang dimiliki oleh ruminansia.

Sedangkan rumen, retikulum, dan omasum merupakan diferensiasi dari abomasum. Pada abomasum, terjadi pencernaan secara fermentatif.

Hal itu karena di dalam abomasum terdapat banyak kelenjar pencernaan.   Lambung pada ruminansia bagian rumen dapat dibedakan menjadi empat berdasarkan posisi pencernaannya, yaitu lambung depan (kanan dan kiri), juga lambung bagian belakang (kanan dan kiri).

Proses ruminasi melibatkan perputaran lambung bagian depan, kemudian ke lambung bagian belakang. Bolus yang sudah halus diteruskan menuju tahap pencernaan selanjutnya. Sedangkan bolus yang belum halus dikembalikan lagi ke lambung depan dan terjadi proses ruminasi.

Baca juga : ” Sistem Reproduksi pada Ayam “

5. Usus Halus

a. Duodenum

Duodenum merupakan bagian paling proximal dari usus halus, dengan ukuran yang lebih pendek daripada bagian intestine yang lain.

Sebelum duodenum, ditemukan adanya struktur pylorus yang memiliki M. Spinchter pilory, berfungsi sebagai alat gerak peristaltik. Pada duodenum, proses digesti terus berlanjut.

b. Jejunum

Pada jejunum bagian proximal, proses digesti masih terus berlanjut. Sedangkan pada bagian distal, terjadi absorbs elektrolit dan hasil digesti. Jejunum merupakan bagian terbesar pada intestine.

c. Ileum

Ileum merupakan bagian paling distal dari intestine. Pada ileum, terjadi absorbs elektrolit dan hasil digesti.    

6. Usus Besar

Usus besar merupakan saluran pencernaan dengan bentuk pipa yang lebih besar daripada usus halus. Pada usus besar, tidak lagi ditemukan microvilli sebanyak di usus halus.

Tetapi lebih banyak ditemukan sel goblet yang berguna untuk mengeluarkan cairan mucouse. Dimana cairan mucouse ini berguna untuk melumasi feses. Berikut adalah bagian-bagian usus besar :

a. Caecum

Caecum merupakan saluran buntu yang bersambungan dengan ileum.

b. Colon

Pada colon, terjadi absorbs vitamin, elektrolit, dan air.

c. Rectum

Rectum merupakan bagian terakhir dari sistem digestiva sebelum anus.

d. Anus

Perbatasan antara rectum dengan anus disebut dengan istilah rectoanal junction. Anus merupakan bagian terakhir saluran pencernaan.

D. Kesimpulan

Pada dasarnya, perbedaan antara hewan ruminansia dan nonruminasia hanya terletak pada bagian sistem pencernaannya (sistem digestiva).

Pada ruminansia terdapat empat lambung dengan bagiannya yaitu rumen, reticulum, omasum, dan abomasum.

Abomasum merupakan lambung sejati, sedangkan rumen, reticulum, dan omasum merupakan diferensiasi dari abomasum.

Pada ternak ruminansia, diperlukan proses ruminasi yang meliputi regurgitasi, remastikasi, resalivasi, dan reswallowing. Proses ruminasi ditujukan untuk melunakkan bolus, karena tanaman memiliki lignin yang keras. Terima kasih telah membaca artikel mengenai perbedaan ruminansia dan nonruminansia di website kami Veterinarii Medicinae. Semoga dapat membantu dan menambah pemahaman kita.

Baca juga : ” Cara Memandikan Kucing dengan Benar “

Daftar Pustaka :

  • Tillman, Allen D. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. ISBN : 979-420-015-8