Penyebab dan Gejala Penyakit Pulpy Kidney

Penyebab dan Gejala Penyakit Pulpy Kidney

penyakit pulpy kidney

Pulpy Kidney adalah kejadian keracunan yang disebabkan karena absorbsi toksin yang dibentuk oleh Clostridium perfringens tipe C dan tipe D. Toksin yang dihasilkan diabsorbsi melalui selaput lendir usus, kemudian masuk bersama aliran darah menyebabkan pembengkakan paru dan ginjal.

DOWNLOAD PDF – Penyebab dan Gejala Penyakit Pulpy Kidney

Spesies yang rentan terkena penyakit pulpy kidney adalah bangsa ruminansia seperti domba, sapi, dan kambing. Tetapi juga bisa terjadi pada babi dan kuda, bahkan manusia dan unggas juga bisa terkena pulpy kidney.

Pulpy kidney tersebar di Australia, Selandia baru, Inggris, German, dan Amerika Serikat. Sedang kejadian di Indonesia sendiri masih belum tecatat atau belum jelas keberadaannya.  

A. Penyebab Pulpy Kidney

Pulpy Kidney disebabkan karena adanya absorbsi toksin yang dihasilkan oleh Clostridium perfringens tipe C dan tipe D. Di mana bakteri tersebut berbentuk batang, jarang membentuk rantai, tetapi kadang membentuk filament.

Merupakan bakteri gram positif pada biakan muda, dan bakteri gram negatif pada biakan tua. Bersifat nonmotil dan bisa menghasilkan spora besar dengan bentuk oval di bagian sentral atau subterminal dari bakteri.

Perhatikan tata letak spora dari bakteri berikut ini :

pulpy kidney

Clostridium perfringens disebut juga dengan Clostridium welchii tipe D, Bacillus aerogenes capsulatus, Bacillus phlegmonis emphysematousae, Welch bacillus, Bacillus paludis, Clostridium ovitoxicum, dan Gas Bacillus.

Sebenarnya terdapat 6 tipe toksigenik dari Clostridium perfringens, yaitu tipe A, B, C, D, E, dan F. Namun, pada umumnya pulpy kidney disebabkan oleh tipe C dan tipe D. Tipe D merupakan penyebab enteroxemia, disebut juga Bacillus ovitoxicus. Di mana, B. ovitoxicus dapat menghasilkan alpha toxin dan epsilon toxin.

Baca juga : ” Dehorning (Pemotongan Tanduk) pada Sapi “

B. Phatogenesis

Pada mulanya Clostridium perfringens masuk secara oral, sampai ke usus dan menyebabkan enterocolitis (peradangan usus). Terjadinya enterocolitis membuat permeabilitas pembuluh darah meningkat, sehingga absorbsi juga meningkat. Toksin yang dihasilkan Clostridium perfringens masuk ke pembuluh darah menyebabkan pembengkakan paru dan ginjal.

Pada bentuk perakut, kondisi karkas umumnya baik-baik saja dan tidak ditemukan adanya lesi. Hanya saja, terdapat ptechiae pada pericardium dan endocardium.

Selain itu, juga terdapat cairan kuning yang berlebihan pada pericardium, sebagian abomasum mengalami kongesti, dan mukosa intestinal biasanya mengandung makanan yang lembut seperti bubur encer (Pulpy). Sedangkan pada ginjal (Kidney), terjadi kerusakan jaringan hingga melunak beberapa jam sebelum kematian.     

C. Cara Penularan Penyakit Pulpy Kidney

Pulpy kidney dapat menular secara oral melalui kontaminasi Clostridium perfringens pada pakan atau air minum. Kemudian keluar bersama feses hewan penderita dalam bentuk phatogen, dan menginfeksi hewan lainnya.

Baca juga : ” Cara Mengobati Perut Sapi Kembung “

D. Gejala Klinis Penyakit Pulpy Kidney

Gejala klinis yang ditimbulkan akibat penyakit puly kidney berbeda-beda antara satu spesies dengan spesies lainnya. Berikut adalah beberapa gejala yang ditimbulkan pada domba, kambing, sapi, babi, dan unggas :  

1. Gejala Pulpy Kidney Domba

Clostridium perfringens tipe A menyebabkan anemia hemolitika dengan ciri ikterus dan hemoglobinuria. Sedangkan Clostridium perfringens tipe B dapat menyebabkan dysentri pada anak domba beberapa jam post partus.

Clostridium perfringens tipe C menyebabkan struck pada domba dewasa dan menyebabkan kematian setelah terjadi konvulsi. Gejala pasca mati dapat terlihat dengan adanya enteritis, peritonitis, dan gas gangrene pada otot.

Pada anak domba kejadiannya sangat singkat dengan tingkat kematian yang tinggi. Gejala awal ditunjukkan dengan depresi dan kehilangan nafsu makan. Pada kasus akut, terlihat konvulsi dengan buih dimulut dilanjutkan dengan kematian mendadak. Kejadian itu sangat singkat, terkadang kurang dari dua jam dan tidak lebih dari 12 jam.

Sedangkan pada anak domba yang hidup beberapa jam akan menunjukkan diare kental berwarna hijau, lemas, opisthotonus, dan konvulsi. Kematian terjadi saat konvulsi atau beberapa saat setelah koma terjadi.

Domba dewasa yang terserang pulpy kidney dapat bertahan hidup hingga 24 jam. Gejala klinis yang terlihat seperti domba tertinggal kawanannya, lemas, menghentakkan kaki, mengerutkan rahang, nafas yang tidak teratur, dan terjadi salivasi. Gejala konvulsi, tremor otot, dan salivasi dapat terjadi. Namun, kejadiannya tidak sering dibandingkan pada anak domba yang baru lahir.    

2. Gejala Pulpy Kidney Kambing

Gejala pada kambing yang paling terlihat adalah terjadinya diare. Pada bentuk akut, diawali dengan peningkatan suhu yang drastis (40,5 derajat Celcius), kemudian terjadi konvulsi beserta diare dan diikuti kematian setelah 4-36 jam.

Pada bentuk sub akut, hewan sakit hingga beberapa minggu, terjadi anorexia dan diare intermiten yang berat. Bahkan, pada beberapa kasus terdapat lepasan epitel dalam feses. Sedangkan pada bentuk kronis, gejala yang terlihat adalah tubuh kurus, anemia, dan diare kronis (parah).    

3. Gejala Pulpy Kidney Sapi

Terjadinya Enterotoxemia yang disebabkan oleh Clostridium perfringens tipe C dengan gambaran enteritis hemorhagik. Sedangkan gejala lain yang ditimbulkan hampir sama dengan gejala pulpy kidney pada domba dewasa.

Selain tipe C, sapi juga dapat terserang toksin yang dihasilkan oleh Clostridium perfringens tipe D, A, dan E.    

4. Gejala Pulpy Kidney Babi

Terjadi kematian setalah 72 jam post partus akibat infeksi Clostridium perfringens tipe C. Gejala yang dapat ditemukan adalah gejala pasca mati, ditandai dengan Enteritis hemorhagik pada jejunum.    

5. Gejala Pulpy Kidney Unggas

Pada unggas, pulpy kidney dapat menyebabkan kematian dengan gejala pasca mati berupa Enteritis nekrotikans dan Enteritis ulceratif.    

E. Pengendalian Penyakit Pulpy Kidney

1. Pengobatan

Pengobatan penyakit pulpy kidney kronis sudah sulit dilakukan. Namun, pada kasus ringan hewan penderita dapat dieberikan antitoxin untuk menetralisisr toksin bakteri. Antibiotik seperti Penicilline juga efektif untuk melawan infeksi Clostridium perfringens.

Obat lain yang dapat diberikan adalah golongan analgesik seperti Banamine sebagai pereda rasa nyeri, pemberian vitamin B1 (Thiamine) dan elektrolit untuk menjaga keseimbangan biokimia dalam tubuh, pemberian antacidadoen untuk mengatasi asidosis usus akibat toksin, dan pemberian probiotik untuk mengembalikan populasi normal mikroflora di dalam usus.

2. Pencegahan

Pencegahan penyakit pulpy kidney dapat dilakukan dengan berbagai cara. Seperti pemberian imunisasi, baik imuniasai aktif maupun imunisasi pasif. Pada hewan bunting, dapat diberikan imunisasi aktif agar di dalam kolostrum terkandung antitoksin yang cukup untuk anaka sapi yang baru lahir.

Selain itu, pergantian pakan juga diusahakan dilakukan secara bertahap agar hewan tidak mengalami stress akibat pakan. Pakan dalam bentuk butiran lebih baik tidak diberikan secara berlebihan.

Baca juga : ” Kenali Bahaya Obesitas pada Kucing Sejak Dini “

F. Kesimpulan

Pulpy kidney merupakan kejadian keracunan yang disebabkan karena absorbsi toksin yang dihasilkan oleh Clostridium perfringens. Toksin tersebut diabsorbsi melalui mukosa usus, masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan pembengkakan paru dan ginjal.   Pada bentuk perakut, mukosa intestinal biasanya mengandung makanan yang lembut seperti bubur encer (Pulpy).

Sedangkan pada ginjal (Kidney), terjadi kerusakan jaringan hingga melunak. Oleh karena itu, penyakit ini disebut dengan penyakit Pulpy Kidney.

Terima kasih telah membaca artikel mengenai penyakit pulpy kidney. Semoga artikel ini membantu kamu sebagai calon dokter hewan untuk terus belajar. Sehingga hewan yang sakit bisa segera kamu obati dengan baik. Viva Veteriner !

Daftar Pustaka :

  • Direktorat Kesehatan Hewan. 2014. Manual Penyakit Hewan Mamalia.  Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Bina Produksi Peternakan, Departemen Pertanian RI, Jakarta Indonesia.
  • Tyasningsih, Wiwiek., dkk. 2010. Buku Ajar Penyakit Infeksius I. Surabaya : Airlangga University Press.