Penyakit Jembrana pada Sapi Bali

Penyakit Jembrana pada Sapi Bali

Penyakit Jembrana pada sapi bali termasuk emerging desease di Indonesia. Jembrana ditemukan pertama kali pada tahun 1964, tepatnya di daerah Sangkar Agung, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali.

Oleh karena itu, virus emerging ini dinamakan dengan virus Jembrana. Pada tahun tersebut, Jembrana Desease Virus (JDV) berhasil membuat sekitar 26.000 – 70.000 ekor sapi Bali mati  dalam kurun waktu 12 bulan.

Hal tersebut merupakan kejadian yang menggemparkan. Meskipun tidak ada korban jiwa, kerugian dari segi ekonomi sangat banyak.

Sapi merupakan salah satu hewan ternak yang paling banyak dikembangkan di beberapa daerah di Indonesia.

Selain karena perawatannya yang cukup mudah, harga pasaran daging sapi juga cukup stabil. Oleh karena itu, banyak kalangan peternak yang menjadikan sapi sebagai hewan ternak mereka. Baik untuk diambil daginya (sapi potong), maupun untuk diambil susunya (sapi perah).

DOWNLOAD PDF – Penyakit Jembrana pada Sapi Bali

Terdapat banyak sekali jenis sapi di dunia, baik yang berasal indonesi, manca negara, maupun sapi hasil persilangan. Salah satu sapi yang berasal dari Indonesia adalah sapi Bali.

Sapi Bali merupakan sapi yang berasal dari provinsi Bali. Dengan ciri-cirinya yang paling mencolik yaitu memiliki bokong berwarna putih. Tentu saja sapi Bali juga memiliki kelebihan dan kelemahan seperti sapi yang lain.

Sapi Bali merupakan jenis sapi yang mudah dikembangbiakkan, karena nilai service per conception sapi Bali mecapai angka yang cukup baik, dimana service per conception adalah angka keberhasilan dalam inseminasi buatan.

Oleh karena itu, sapi Bali banyak digunakan sebagai ternak sapi potong oleh peternak. Akan tetapi, sapi Bali memiliki satu kelemahan, yaitu JDV (Jembrana Desease Virus) yang hanya menyerang sapi Bali.

Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian dan pembelajaran mengenai JDV ini.

A. Pengertian Jembrana (Jembrana Desease Virus)

Jembrana merupakan jenis virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh atau antibodi sapi Bali. Terdapat dua jenis antibodi dalam biologis, yaitu antibodi humoral dan antibodi seluler.

Salah satu contoh antobodi humoral adalah pemberian vaksin, di mana vaksin merupakan antibodi yang bersifat spesifik, dalam artian hanya mampu menangani satu jenis antigen saja.

Antigen itu dapat berupa bakteri, parasit, virus, dan fungi. Sedangkan antibodi humoral adalah antibodi yang bersifat umum.

Baca juga : ” Sistem Pernapasan pada Amfibi “

Jembrana Desease Virus(JDV) merupakan virus yang menyerang antibodi seluler pada sapi Bali.

Virus Jembrana memiliki keunikan tersendiri, yaitu virus berjenis RNA yang mampu berdiferensiasi menjadi cDNA, yang kemudian menempel pada DNA host.

Oleh karena itu, virus Jembrana merupakan jenis virus yang dapat mengakibatkan pathogenesis carrier pada sapi Bali.

Untuk saat ini, masih terus dilakukan penelitian oleh balai besar veteriner, khususnya Balai Besar Veteriner Bali(BBVet Bali) yang memiliki tugas khusus dalam penelitian virus Jembrana ini melalui laboratorium Bioteknologi nya.

Karena sampai saat ini (2019), belum ada kepastian alasan kenapa Jembrana Desease Virus hanya menyerang sapi Bali. Berikut adalah beberapa informasi mengenai Jembrana Desease Virus (JDV) :

  • Famili : Retroviridae
  • Subfamili : Orthoretrovirinae
  • Genus : Lentivirus
  • Species : Bovine Immunodeficiency Virus

B. Penularan Jembrana (Jembrana Desease Virus)

Jembrana Desease Virus (JDV) dapat menular dengan beberapa cara. Berikut adalah beberapa cara penularan penyakit Jembrana pada sapi Bali :

1. Penularan secara Mekanis :

  • Transfusi Darah
  • Gigitan Insecta terutama Tabanus ribidus yang merupakan lalat penghisap dan Boophilus Sp.)
  • Jarum Suntik

2. Penularan melalui Kontak Langsung

  • Melalui Saliva
  • Melalui Urine    

C. Gejala Jembrana (Jembrana Desease Virus)

1. Gejala Klinis

a. Limfoglandula Mengalami Pembengkakan

Jembrana Virus Desease (JDV) dapat menyebabkan limfoglandula, khususnya Lgl. Prefemoralis, Lgl. Prescapularis, dan Lgl. Parotidea mengalami pembengkakan.

b. Demam Tinggi

Virus Jembrana dapat menyebabkan demam tinggi mencapai 41 derajat Celcius. Hal tersebut menyebabkan sapi menjadi lemas dan lesu.

c. Diare Darah

Diare darah dapat terjadi karena virus Jembrana mengakibatkan sistem pencernaan terganggu. Virus Jembrana mengakibatkan penurunan aktivitas limfosit B

Hal tersebut berakibat pada meningkatnya aktivitas bakteri pada beberapa bagian tubuh yang memiliki kontak langsung dengan udara luar, seperti alat pernafasan dan alat pencernaan.

d. Blood Sweating (Keringat Darah)

Keringat darah merupakan istilah yang digunakan ketika terjadi gigitan insect pada tubuh sapi.

Karena Jembrana merupakan virus yang menyebabkan antikoagulan darah seperti trombosit tidak berfungsi.

Sehingga pada bekas gigitan insecta akan terlihat aliran darah. Persitiwa tersebut dinamakan dengan istilah keringat darah atau dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah Blood Sweating.

2. Gejala Pasca Mati

a. Pembengkakan Limpa

Pembengkakan limpa atau Spleen merupakan gejala pascamati yang paling jelas, yang dapat ditemukan pada sapi yang terserang Jembrana Desease Virus(JDV).

b. Ulser pada Lidah

Ulser adalah nama lain dari sariawan. Virus Jembrana dapat mengakibatkan infeksi sekunder seperti sariawan.

c. Hemoragik

Hemoragik merupakan pecahnya sebagian pembuluh darah berupa arteri di otak. Sehinnga aliran darah ke otak mengalami sumbatan.

d. Nefritis

Nefritis merupakan istilah radang ginjal yang digunakan dalam dunia medis.

e. Enteritis

Selain nefritis, Virus Jembrana juga dapat menyebabkan terjadinya Enteritis. Enteritis merupakan istilah radang saluran pernafasan yang digunakan dalam dunia medis.  

D. Diagnosa Jembrana (Jembrana Desease Virus)

Pengujian virus Jembrana perlu dilakukan secara hati-hati, karena kontaminasi dari berbagai agen penyakit lain dapat ikut di dalam sample yang akan diuji.

Sample pengujian dapat berupa organ, Peripheral Blood Mononuclear Cell (PBMC), dan serum tergantung teknik pengujian yang akan dilakukan. Sedangkan pengujian Jembrana Desease Virus meliputi :

  • Pengujian secara Klinis, Epidemologik, Patologik, dan Hispatologi. Pengujian secara klinis dapat dilakukan dengan mendiagnosa, yaitu memperhatikan gejala yang tampak pada sapi yang terserang.
  • Diagnosa molekuler dengan ISH dan PCR
  • Serologik ELISA, Western Immunoblotting (WIB), dan Imumohistokimia (IHK)

Baca juga : ” Prinsip Kerja dan Manfaat PCR (Polymerase Chain Reaction) “

E. Distribusi Penyakit Jembrana

Salah satu faktor yang menyebabkan virus Jembrana menyebar ke berbagai provinsi di Indonesia adalah manusia.

Transportasi sapi Bali ke luar daerah secara illegal dapat menyebabkan virus Jembrana menyebar dengan mudah. Sebut saja provinsi Lampung, Sumatera Barat, Bali kecuali Nusapenida, Jambi, Riau, Jawa Timur tepatnya di Banyuwangi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.

Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan sebelum sapi Bali didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia.   Pengendalian penyakit Jembrana bisa dilakukan dengan vaksinasi. Vaksin  pada sapi Bali yang akan didistribusikan  dilakukan 3 hari sebelum keberangkatan.

Vaksinasi juga dilakukan pada daerah tujuan atau daerah endemis. Kemudian vaksinasi berikutnya dilakukan sesuai pada peraturan daerah endemis masing-masing.

F. Kesimpulan

Jembrana merupakan virus yang memiliki morbiditas penuh, namun mortalitasnya tidak seperti HIV. Sehingga penyakit pada sapi Bali yang terkena Jembrana, masih dapat dilakukan pengobatan suportif seperti pemberian vitamin.

Karena virus Jembrana tidak menyebabkan kematian pada sapi Bali, akan tetapi infeksi sekundernya lah yang menyebabkan sapi Bali menjadi mati. Terima kasih telah membaca artikel ini, semoga bermanfaat bagi semua. Gunakan ilmu pengetahuan dengan bijaksana.

Baca juga : ” Pemalsuan Bahan Pakan Ternak dan Pemeriksaannya “

Daftar Pustaka :

  • Direktorat Kesehatan Hewan. 2015. Pedoman Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Jembrana. Kementerian Pertanian : Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan
  • Hartaningsih, N. 2002. Manual Diagnosa Laboratorik Penyakit Jembrana. Denpasar : ACIAR – BPPV VI