12 Contoh Hewan Metamorfosis Tidak Sempurna

12 Contoh Hewan Metamorfosis Tidak Sempurna

hewan metamorfosis tidak sempurna

Metamorfosis tidak sempurna merupakan sebuah fase pertumbuhan pada hewan tanpa menunjukkan perubahan yang signifikan. Metamorfosis tidak sempurna disebut juga dengan Hemimetabola. Perkembangan hewan berubah secara bertahap pada bentuk luarnya, mulai dari telur hingga dewasa.

Terdapat berbagai contoh hewan metamorfosis tidak sempurna, seperti golongan Phthiraptera (kutu), Dictyoptera (Lipas), Orthoptera (Belalang), Isoptera (Rayap), Homoptera (Tonggeret), dan Hemiptera (Kepik). Selain itu, terdapat juga golongan Odonata (Capung) yang fase pradewasanya berada di air.

DOWNLOAD PDF – 12 Contoh Hewan Metamorfosis Tidak Sempurna

Pemahaman mengenai contoh metamorfosis tidak sempurna penting untuk dipelajari. Mengingat, beberapa contoh hewan tersebut memiliki sifat parasit. Di mana, parasit merupakan individu yang memiliki peran besar dalam penyebaran sebuah penyakit.

Baca Juga : Contoh Hewan Metamorfosis Sempurna

A. Metamorfosis Tidak Sempurna

Metamorfosis tidak sempurna atau Hemimetabola merupakan perkembangan dan pertumbuhan individu yang melibatkan perubahan fisiologi dan anatomi. Namun, perubahan anatomi yang ditunjukkan oleh kelompok hemimetabola tidak begitu signifikan.

Berbeda halnya dengan kelompok hewan metamorfosis sempurna atau holometabola. Di mana struktur tubuhnya mengalami perubahan yang signifikan selama melewati proses metamorfosis. Setidaknya, terdapat tiga fase yang terjadi dalam metamorfosis tidak sempurna, yaitu fase telur, fase nimfa, dan fase dewasa.

1. Fase Telur

Fase telur merupakan fase awal dari sebuah metamorfosis, baik itu metamorfosis sempurna maupun metamorfosis tidak sempurna. Pada umumnya, induk akan menempatkan telur mereka di tempat yang aman.

Selain pemilihan tempat yang aman, telur sendiri memiliki struktur luar yang keras. Struktur tersebut terbentuk dari zat kitin yang padat. Hal tersebut tentu akan membantu telur untuk tetap terjaga hingga menuju fase pertumbuhan selanjutnya.

2. Fase Nimfa

Pada metamorfosis tidak sempurna, bentukan yang menetas dari sebuah telur menyerupai bentukan dewasa yang disebut dengan nimfa. Nimfa akan mengalami beberapa pergantian kulit (molting) dan menuju fase selanjutnya, yaitu fase imago atau fase dewasa.

3. Fase Dewasa

Fase dewasa merupakan fase akhir dari sebuah metamorfosis tidak sempurna. Di mana, pada fase dewasa individu telah mengalami tingkatan pertumbuhan paling maksimal. Hal tersebut ditandai dengan kesiapan untuk melakukan reproduksi. Menghasilkan telur, telur menjadi nimfa, dan nimfa menjadi dewasa. Begitu seterusnya siklus dalam metamorfosis tidak sempurna.

Baca Juga : 11 Cara Merawat Anak Kucing yang Baru Lahir

B. Contoh Hewan Metamorfosis Tidak Sempurna

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai metamorfosis tidak sempurna, berikut adalah beberapa contoh hewan metamorfosis tidak sempurna. Beberapa hewan menguntungkan bagi manusia, namun sebagian lainnya bersifat parasit terhadap manusia. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengawasan yang lebih mendalam.

1. Jangkrik

Jangkrik merupakan hewan omnivora yang mengalami metamorfosis tidak sempurna. Metamorfosis pada jangkrik berlangsung selama kurang lebih 83 hari, yaitu melalui fase telur, nimfa, dan jangkirk dewasa. (Widani, 2019)

Telur jangkrik membutuhkan waktu tiga hari untuk menetas. Setelah itu, fase nimfa berlangsung selama kurang lebih 40 hari untuk menjadi imago dan siap bereproduksi. Jangkrik dikenal oleh masyarakat sebagai pakan satwa peliharaan, khususnya burung kicau dan berbagai jenis vertebrata pemakan serangga. Oleh karena itu, beberapa masyarakat membudidayakannya untuk dijual sebagai pakan.

2. Kecoa

Kecoa merupakan salah satu hewan yang mengalami metamorfosis tidak sempurna. Kecoa mengalami tiga fase pertumbuhan, yaitu fase telur, fase nimfa, dan fase dewasa. Pada stadium telur, kecoa membutuhkan waktu sekitar 30 sampai 40 hari untuk menetas. (Rokhmah, 2016)

Setelah telur menetas, telur akan menjalani fase nimfa selama 5 sampai 6 bulan. Dalam fase nimfa, kecoa P.americana akan mengalami pergantian kulit sebanyak 13 kali.

Pada fase dewasa, seekor kecoa memiliki panjang sekitar 35 mm dengan lebar 13 mm. Dalam fase ini, seekor kecoa mampu menggunakan sayapnya untuk terbang jarak pendek. Sehingga pergerakannya menjadi lebih luas. Pada fase dewasa, seekor kecoa mampu hidup selama 1 hingga 2 tahun.

3. Tonggeret

Tonggeret merupakan serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna. Pertumbuhannya meliputi fase telur, fase nimfa, dan fase dewasa. Tonggeret memiliki dua pasang sayap, dengan antena pendek seperti bulu keras berbentuk filiform. Fase dewasa pada tonggeret berlangsung beberapa minggu saja. (Darmayanti, 2017)  

4. Capung

Sama dengan serangaa lainnya, metamorfosis tidak sempurna pada capung terbagi menjadi fase telur, fase nimfa, dan fase dewasa atau imago. Induk capung akan meletakkan telurnya dengan dua cara yang berbeda, yaitu endofitik dan eksofitik.

Peletakan secara endofitik terjadi dalam jaringan tanaman air, tanaman di pinggiran sungai, atau di dalam lumpur. Sedangkan tipe eksofitik telur dikeluarkan secara tunggal, bertahap, atau berkelompok melalui lubang kelamin karena capung tidak memiliki ovipositor. (Utari, 2018)

Setelah telur menetas, capung akan menuju fase perkembangan berikutnya yang disebut dengan nimfa. Selama itu, capung mengalami pematangan organ reproduksi yang terjadi selama kurang lebih 30 hari. Pada iklim sedang, proses tersebut bisa memakan waktu sekitar 45 hari.

Proses pematangan organ reproduksi diikuti dengan perubahan warna tubuh, warna sayap, dan perkembangan alat kelamin. Setelah itu, capung menuju fase dewasa. Pada fase ini, capung siap bereproduksi dan akan menyebar ke berbagai tempat.

5. Belalang

Metamorfosis tidak sempurna pada belalang diawali dengan fase telur. Pada fase ini, lamanya penetasan bergantung pada musim yang atau cuaca lingkungan. Ketika musim dingin, telur belalang akan mengalami penundaan penetasan.

Setelah telur menetas, belalang akan menuju fase nimfa atau belalang muda. Pada fase nimfa, belalang belum memiliki sayap. Sehingga, proses mencari makan hanya di sekitar tempat itu. Pada fase ini, belalang mengalami beberapa kali pergantian kulit luar dan proses pematangan alat reproduksi.

Setelah fase nimfa berlalu, belalang akan mencapai fase dewasa. Dalam fase ini, belalang sudah memiliki sayap yang dapat digunakan untuk terbang jarak pendek. Selain itu, sistem reproduksinya juga sudah dapat digunakan secara optimal.

6. Kutu Daun

Kutu daun merupakan serangga dengan ukuran tubuh yang kecil, yaitu sekitar 1-6 mm. Kutu daun termasuk ke dalam serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna, dengan tahapan perkembangan berupa fase telur, fase nimfa, dan fase dewasa.

Embrio kutu daun terbentuk di dalam tubuh induk kutu daun itu sendiri. Kemudian dilahirkan dalam bentuk nimfa. Kutu daun memiliki empat tahapan nimfa, di mana masing-masing nimfa menunjukkan perbedaan pada ukuran yang dimilikinya. Nimfa dalam waktu 1 minggu akan menjadi dewasa atau fase imago. Dalam fase ini, kutu daun dapat menghasilkan nimfa kembali pada umur 4 sampai 5 hari. (Pangestu, 2017)

Perlu diketahui, kutu daun memiliki dua bentuk imago yang berbeda yaitu kutu daun yang bersayap dan kutu dan yang tidak bersayap. Perkembangan kutu daun sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan.

Pada suhu 25 derajat Celcius, kutu daun membutuhkan waktu 6 hari untuk menyelesaikan siklus hidupnya. Sedangkan pada suhu 15 derajat Celcius, kutu daun membutuhkan waktu sekitar 20 hari untuk menyelesaikan siklus hidupnya.  

7. Rayap

Rayap merupakan hewan yang hidup berkoloni. Satu koloni rayap terbentuk dari sepasang laron betina dan jantan. Setelah menemukan pasangan, laron akan tinggal di suatu tempat yang menjadi sarang mereka. Variasi penetasan telur rayap bervariasi, tergantung dari jenis rayap itu sendiri. Namun, pada umumnya memiliki kisaran 20-27 hari.

Setelah telur menetas, rayap akan mengalami pergantian kulit pada fase nimfa sebanyak 8 kali dan menjadi rayap dewasa. Pada saat dewasa, rayap terbagi menjadi kasta pekerja, prajurit, dan calon laron. (Febriantina, 2008)

8. Anggang-Anggang

Anggang-anggang adalah hewan yang bermanfaat bagi lingkungan. Anggang-anggang dapat digunakan sebagai indikator kebersihan air sungai. Semakin banyak anggang-anggang, maka semakin bersih juga air di sungai tersebut.

Anggang-anggang memiliki ciri khas berupa kaki yang panjang dan dapat berdiri di atas air. Sama halnya dengan yang lain, anggang-anggang memiliki fase metamorfosis tidak sempurna berupa fase telur, fase nimfa, dan fase dewasa. Sewaktu saya kecil, saya sering bermain di sungai dan menemukan banyak sekali anggang-anggang.

9. Kepik

Kepik merupakan serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna dengan fase telur, nimfa, dan imago. Menurut Miller (1993) dalam (Bayu, 2014) menyebutkan bahwa lama stadium imago dari kepik berkisar antara 25 sampai 74 hari, dengan rata-rata 41,6 hari. Telur kepik diletakkan secara berkelompok di atas permukaan daun atau di polong. Setiap kelompok telur terdiri dari dua baris, di mana masing-masing baris terdiri dari 9-12 butir telur.

Setelah telur menetas, kepik akan melalui fase nimfa. Nimfa kepik terdiri dari lima istar, dengan instar 1 berkembang dalam 2-3 hari. Pada masa instar 1, kepik tidak makan. Namun, membutuhkan dukungan kelembaban yang tinggi agar tetap terjaga.

Nimfa instar 2 berlangsung selama 2-3 hari. Setelah itu, berkembang menjadi instar 3, instar 4, dan instar 5. Setidaknya, kepik membutuhkan waktu sekitar 14-22 hari pada fase nimfa.  

10. Earwig

Contoh hewan metamorfosis sempurna yang lain adalah earwig atau cocopet. Cocopet berkembang dengan fase telur, nimfa, dan dewasa. Cocopet memiliki semacam penjepit (forcep) yang digunakan untuk menangkap mangsanya.

11. Walang Sangit

Walang sangit tergolong ke dalam serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna. Fase pertama diawali dengan telur, kemudian berkembang menjadi nimfa, dan dewasa. Telur walang sangit berbentuk bulat dan pipih, memiliki warna cokelat dan ditempatkan dengan posisi berjajar. Periode telur berkisar antara 4-7 hari.

Setelah telur menetas, nimfa walang sangit berwarna hijau dan tidak memiliki sayap. Kemudian mengalami 4 kali pergantian kulit (molting). Lama pergantian stadia pada walang sangit sangat bergantung pada suhu lingkungan. Semakin tinggi suhu, maka prosesnya akan semakin cepat. Setidaknya, periode nimfa membutuhkan waktu sekitar 17 hari pada suhu 21-32 derajat Celcius.

Setalah mengalami molting, walang sangit dewasa memiliki warna cokelat dan hidup berpindah-pindah. Lama periode bertelur kurang lebih selama 57 hari.

12. Wereng Putih

Wereng pucuk merupakan hama pengganggu tumbuhan berbuah. Serangga ini mengalami metamorfosis tidak sempurna, yaitu fase telur, fase nimfa, dan fase dewasa. Telur wereng pucuk berwarna putih, diletakkan secara berkelompok di bawah permukaan daun dengan lapisan lilin sebagai penutupnya.

Nimfa wereng pucuk juga dilapisi lilin berwarna putih. Imago wereng pucuk berwarna putih, putih kemerahan, atau hijau cokelat. Nimfa dan imago wereng pucuk tikda aktif bergerak, namun akan melompat apabila diganggu. (Mardiningsih, 2007)

Baca Juga : Cara Mengangkat Kelinci dengan Benar

C. Kesimpulan

Metamorfosis tidak sempurna merupakan proses perkembangan suatu individu yang meliputi fase telur, fase nimfa, dan fase dewasa. Sedangkan metamorfosis sempurna melibatkan larva dan pupa di dalam prosesnya. Terdapat banyak contoh hewan yang mengalami metamorfosis tidak sempurna. Beberapa di antaranya bersifat hama bagi tanaman atau manusia.

Pengetahuan mengenai hewan metamorfosis tidak sempurna penting untuk dipelajari. Hal tersebut dapat digunakan sebagai acuan untuk menciptakan inovasi agar masyarakat terhindar dari kerugian. Populasi hama yang terus meningkat tentu saja sangat merugikan, terutama hama tanaman yang merugikan petani.

Terima kasih telah membaca artikel mengenai contoh hewan metamorfosis tidak sempurna atau hemimetabola. Tetap semangat menjalani kehidupan.

Daftar Pustaka :

  • Bayu, Marida Santi Yudha Ika., Wedanimbi Tengkano. 2014. Endemik Kepik Hijau Pucat, Piezodorus hybneri Gmelin (Hemiptera: Pentatomidae) dan Pengendaliannya. Buletin Palawija No. 28: 73 – 83.
  • Darmayanti, Susi., dkk. 2017. Serangga Hama pada Tanaman Rambutan (Nephelium Lappacium) di Gampong Lamsiteh Cot Kecematan Kuta Malaka Sebagai Referensi Mata Kuliah Entomologi. Aceh : UIN Ar-Raniry.
  • Famukti, Dini Anggraini. 2013. Keanekaragaman Cocopet (ORdo Dermaptera) pada Bunga Jantan Kelapa Sawit di Kebun Cimulang PTPN VIII Bogor. Bogor : Institut Pertanian Bogor. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam : Departemen Biologi.
  • Febriantina, Rahmi. 2008. Arsitektur Sarang Rayap Termitidae pada Vegetasi Hutan Karet di Pangkalan Balai dan Pengajrannya di SMA Negeri 4 Palembang. Palembang : Universitas Muhammadiyah.
  • Mardiningsih, Tri Lestari. 2007. Potensi Cendawan Synnematium sp. untuk Mengendalikan Wereng Pucuk Jambu Mete (Sanurus indecora Jacobi). Jurnal Litbang Pertanian, 26(4).
  • Pangestu, Widya Wahyuning. 2017. Komposisi Spesies Parasitoid Kutu Daun pada Beberapa Jenis Tanaman Inang. Digital Repository Universitas Jember.
  • Rumanta, Maman. 2009. Sejarah, Teori, Konsep Dasar Perkembangan dan Reproduksi Hewan. PEBI4310/MODUL 1.
  • Rokhmah, Siti Nur. 2016. Efektivitas Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata L) sebagai Biopestisida Pengendali Kecoa Amerika (Periplaneta americana (L)) (Blattaria:Blattidae) di Pemukiman. Bandung : Universitas Pasundan.
  • Syahrin, Fajri Alfi. 2019. Keaneragaman Ordo Orhoptera (Belalang) di Kawasan Situs Gunung Padang Cianjur Jawa Barat sebagai Bahan Ajar SMA. Bandung : Universitas Pasundan.
  • Utari, Endah Hari. 2018. Komunitas Capung (Odonata) di Hutan Sokokembang, Pekalongan, Jawa Tengah. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah.
  • Widani, Ni Nyoman., A.A Ketut Sri Candrawati. 2019. BE Jangkrik dan BE Bluang Sebagai Kuliner Musiman di Bali. Bali : Politeknik Internasional Bali. JOURNEY Volume 1 Nomor 1. ISSN 2654-9999.
  • Widiyaningrum, Priyantini. 2009. Pertumbuhan Tiga Spesies Jangkrik Lokal yang Dibudidayakan pada Padat Penebaran dan Jenis Pakan Berbeda. Semarang : Universitas Negeri Semarang. Fakultas MIPA : Biologi. Berkas Penelitian Hayati : 14 (173-177).