Penyakit Canine Distemper atau Demam pada Anjiing

Penyakit Canine Distemper atau Demam pada Anjiing

canine distemper atau demam pada anjing

Kelestarian dan kesejahteraan anjing harus diperhatikan. Seperti pemenuhan kebutuhan pakan yang baik, tempat yang nyaman, dan kesehatan yang terjaga. Penyakit canine distemper atau distemper pada anjing merupakan penyakit dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi.

DOWNLOAD PDF – Penyakit Canine Distemper atau Demam pada Anjing

Dengan demikian, perlu dilakukan monitoring secara rutin agar tidak terjadi wabah atau outbreak yang dapat menimbulkan kerugian besar. Berikut adalah penyebab, cara penularan, gejala, juga pencegahan dan pengobatan yang dapat dilakukan untuk menangani distemper pada anjing.

Sebelumnya, canine distemper juga dikenal dengan Carre’s Disease (CD), Canine influenza, Febris catarrhalis et infectiosa canum, dan Canine Plague, La maladie de Carre.

A. Penyebab Canine Distemper

Canine distemper atau demam pada anjing merupakan penyakit akut yang amat menular, terutama pada anjing muda. Canine distemper disebabkan oleh virus distemper yang termasuk ke dalam famili Paramyxoviridae dari genus Morbilivirus.

Termasuk ke dalam virus ss-RNA dengan ukuran 90-25- nm. Memiliki amplop virus yang terdiri dari lipoprotein yang peka terhadap pemberian ether. Virus ini dapat hidup pada suhu 55 derajat Celcius selama 60 menit. Sedangkan pada suhu 60 derajat, hanya mampu hidup selama 30 menit.

Virus distemper memiliki kemampuan untuk menyerang sel-sel epitel pada kulit, mukosa konjunctiva mata, mukosa saluran pernafasan, dan mukosa saluran pencernaan. Bahkan otak yang termasuk ke dalam susunan saraf pusat (SSP) dapat mengalami dampaknya.

Baca juga : ” Perbedaan Virus dan Bakteri “

B. Penularan Canine Distemper

Canine distemper tidak termasuk ke dalam penyakit zoonosis, sehingga manusia tidak akan terdampak. Meskipun begitu, manusia dapat bertindak sebagai media penular dari anjing penderita ke anjing yang sehat.

Penularan canine distemper dapat terjadi secara kontak langsung, batuk anjing, saliva, urine, feses, bersin, serta peralatan atau benda yang terkontaminasi oleh virus. Virus distemper memiliki hubungan antigenik dengan Measles dan Rinderpest.

Anjing yang sudah pernah terserang virus rinderpest akan memberikan kekebalan terhadap canine distemper. Begitu juga dengan anjing yang sembuh dari distemper, memiliki kekebalan terhadap penyakit measles.

Penularan lain juga dapat terjadi melalui inokulasi atau suntikan pada hewan percobaan. Inokulasi virus ditujukan untuk mencari tahu titer antibodi dari serum yang terdapat pada hewan coba, seperti ferret contohnya.  

Baca juga : ” Yuk, Ketahui Cara Memandikan Anjing dengan Benar “

C. Gejala Canine Distemper

Gejala mendasar pada pada penyakit canine distemper adalah demam difasik, catarrhal akut pada mukosa tractus respiratorius dan tractus digestivus. Juga dapat terjadi gejala pada central neuron sistem.

Pada demam difasik, suhunya bisa naik hingga 40 derajat Celcius, bahkan pada beberapa kasus mencapai 41 derajat Celcius.

Gejala klinis lain yang tampak adalah nafsu makan yang menurun, lesu, depresi, dan menggigil akibat panas. Pada bagian hidung akan tampak kering dan panas akibat demam. Rambutnya juga tampak kusam dan kasar.

Virus distemper dapat menyebabkan dermatitis vesikular dan pustular. Juga akan dijumpai bintik-bintik merah pada bagian abdomen dan paha dalam. Bintik-bintik merah akan berubah menjadi lepuh yang berisi nanah. Apabila pecah, akan mengering membentuk keropeng berwarna kekuningan.

Pada daerah mata, terjadi catarrhal konjunctivitis yang purulen. Selain itu, hewan akan menunjukkan perilaku photopobia atau menghindari cahaya.

Pada alat pernafasan, hewan akan mengalami batuk kering sebagai efek dari catarrhal larynx. Sedangkan pada saluran pencernaan, hewan mengalami anorexia, vomite, dan diare.

Selain itu, canine distemper juga dapat menyebabkan gangguan dari sistem saraf pusat. Dapat berupa gangguan sistem motorik, pada beberapa kasus juga dapat terjadi konvulsi. Gangguan lain juga dapat diamati dengan terjadinya paralysis saraf motorik.  

D. Pencegahan dan Pengobatan Canine Distemper

Pencegahan penyakit yang parah dapat dilakukan dengan program vaksinasi distemper, yaitu dengan menggunakan vaksin aktif. Vaksin aktif berasal dari virus distemper yang telah diatenuasi pada telur ayam berembrio (TAB) dan tissue culture pada fibrobalst embrio ayam.

Karena virus distemper memiliki hubungan antigenik dengan measles, maka vaksin measles juga dapat diberikan untuk anak anjing dengan umur kurang dari 3 bulan. Di mana pada saat itu, anak anjing masih memiliki antobodi maternal dari induknya.

Pengobatan dapat dilakukan secara symptomatis atau dengan serum hiperimun. Pengobatan symptomatis digunakan untuk menghilangkan gejala yang merugikan. Sedangkan serum hiperimun merupakan antiserum dengan kadar antibodi yang tidak diketahui, berasal dari anjing dengan inokulasi virus distermper secara berulang.

Baca juga : ” 6 Tahap Replikasi Virus pada Sel “

E. Kesimpulan

Selain dipelihara sebagai pet animal, anjing juga banyak digunakan sebagai penjaga keamanan di berbagai tempat. Beberapa jenis anjing juga sering digunakan sebagai hewan pembantu ketika melakukan perburuan. Beragam manfaat dapat kita ambil dari hewan cerdas yang satu ini.

Penyakit canine distemper merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus distemper. Memiliki hubungan antigenik dengan rinderpest dan measles. Gejala canine distemper dapat terjadi pada sistem saraf pusat, saluran respirasi, saluran pencernaan, kulit, dan mata.

Program vaksin diberikan agar ketika anjing terserang virus distemper, anjing telah memiliki antibodi yang dapat menyerang virus tersebut secara langsung. Program vaksin harus diperhatikan agar tidak terjadi kegagalan vaksinasi.

Terima kasih telah membaca artikel mengenai canine distemper. Semoga membantu kamu dalam mencari solusi permasalah hidup.  

Daftar Pustaka :

  • Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Manual Penyakit Hewan Mamalia. Jakarta, 2014.
  • Susatyoratih. 1985. Distemper pada Anjing. Bogor : Institut Pertanian Bogor. Fakultas Kedokteran Hewan.