Botulismus : Penyebab, Phatogenesis, dan Gejala

Botulismus : Penyebab, Phatogenesis, dan Gejala

Botulismus merupakan kejadian keracunan yang diakibatkan oleh neurotoksin dari mikroorganisme Clostridium botulinum. Penyakit ini sangat berbahaya karena targetnya adalah sistem saraf motorik induk semang.

Oleh karena itu, Clostridium botulinum digolongkan ke dalam mikroorganisme neuroparalitik (dapat melumpuhkan sistem saraf).

DOWNLOAD PDF – Botulismus : Penyebab, Phatogenesis, dan Gejala

Penyakit botulismus dapat menyerang manusia, hewan mamalia, dan ikan. Nama penyakitnya pun berbeda antara manusia dan hewan. Sebut saja botulismus untuk manusia, Limberneck untuk unggas, dan Lamziekte untuk sapi.

Penyakit ini dapat terjadi di mana saja, karena C. botulinum dapat membentuk spora, di mana spora tersebut dapat ditemukan di tanah, tanaman, isi usus hewan mamalia, unggas, dan ikan. (Natalia, 2012)

A. Penyebab Botulismus

Botulismus merupakan keracunan akibat neurotoksin dari Clostridium botulinum.
Clostridium botulinum sendiri tergolong ke dalam bakteri anaerob yang bersifat gram positif. Bentuknya batang tunggal dan dapat melakukan pergerakan (motil).   Bakteri ini dapat membentuk spora yang dapat bertahan hingga 30 tahun dalam keadaan kering.

Meskipun begitu, spora bisa mati dengan perlakuan pemanasan dengan suhu 105 derajat Celcius dalam waktu 100 menit. Cara lain dapat dilakukan dengan pemberian klorin atau larutan hipoklorit.

Klasifikasi :

  • Kelas : Clostridia
  • Ordo : Clostridiales
  • Famili : Clostridiaceae
  • Genus : Clostridium
  • Spesies : Clostridium botulinum

Baca juga : ” Scabies pada Kucing “

B. Phatogenesis

Bakteri C. botulinum dapat masuk ke dalam tubuh inang melalui luka terbuka, oral (mulut), dan inhalasi (pernafasan).

Setelah berhasil masuk ke dalam tubuh inang, C. botulinum akan memproduksi neurotoksin, baik yang ada di jaringan maupun yang ada di dalam saluran pencernaan.

Neurotoksin yang sudah diproduksi akan diabsorbsi oleh tubuh, mengikuti peredaran darah dan menuju ke synaps melalui NMJ (Neuromuscular junction).

Baca juga : ” Jenis Kucing Peliharaan yang Lucu dan Menggemaskan “

Setelah itu, toksin masuk ke dalam sitoplasma. DI mana di dalam sitoplasma terjadi pemecahan protein oleh endopeptidase dari light chain toksin.

Pemecahan itu membentuk sebuah synaptic fusion complex. Synaptic protein ini dikenal juga dengan sebutan soluble N-ethylmaleimide-sensitive factor attachment protein receptors (SNARE).

Proses yang terjadi selanjutnya adalah bersatunya membran terminal neuron dengan Synaptic Vessicle oleh Synaptic Fussion Complex.

Pecahnya Synaptic Fussion Complex menyebabkan terjadinya kegagalan fusi antara vesikel dengan membran terminal, sehingga pelepasan acetylcholine (ACH) menuju celah synaptic akan terhambat.

Tanpa adanya pelepasan ACH, maka otot yang berhubungan dengan saraf (Neuromuscular Junction) tidak dapat bergerak. Sehingga terjadi kelumpuhan.

Meskipun begitu, penghambatan ACH hanya berlangsung selama beberapa bulan saja. Selanjutnya, otot akan melakukan fungsi normalnya dengan kembalnya protein SNARE atau melalui pembentukan synaps yang baru.

Kematian yang disebabkan oleh botulismus merupakan akibat dari kehancuran atau obstruksi otot respirasi.

C. Gejala Botulismus pada Hewan dan Manusia

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, bahwa botulismus dapat menular melalui oral (mulut). Hal tersebut tentu pertama kali akan menimbulkan efek pada saluran penceranaan, seperti muntah, mual, kram perut, dan diare.

Sedangkan gejala yang timbul akibat penurunan kinerja saraf adalah pada daerah kepala, seperti pandangan yang kabur, kelopak mata yang layu, kaku sendi, gangguan berbicara dan kesulitan menelan, bahkan tidak bisa menelan.

Kelemahan pada otot berlangsung secara simetrik, diawali dari daerah kepala turun ke lengan dan menuju otot pernafasan yang berakibat fatal (kematian).

Sedangakan pada hewan, gejala klinis yang terlihat adalah nafsu makan yang menurun, lesu, lemas, muntah, dan adanya gejala kembung yang ditandai dengan perut bagian kiri membesar (pada ruminansia).

Kemudian dilanjutkan dengan adanya demam, kesulitan berdiri, kesulitan menelan, dan kelumpuhan otot lidah. Sedangakn pada bagian mata, pupil terlihat mengalami dilatasi.   Selain dengan melihat gejala klinis, botulismus juga dapat dideteksi dengan melakukan pemeriksaan laboratorium untuk melihat adanya toksin atau tidak, baik melalui pengujian secara biologik maupun pengujian secara serologis.

Baca juga : ” Pengujian Virus dengan HA dan HI “

D. Kesimpulan

Botulismus merupakan penyakit yang harus diwaspadai oleh peternak. Karena tidak hanya menyerang ternak mereka saja, tetapi juga dapat menyerang manusia.

Pencegahan yang dapat dilakukan oleh peternak untuk menghindari terjadinya botulismus adalah dengan tidak memberikan makanan yang sudah rusak, menghindari penggunaan formol toxoid sebagai pengganti vaksin.

Sedangkan tindakan yang dapat dilakukan pasca terlihat gejala keracunan adalah dengan pemberian antibiotika (oleh dokter hewan), pengobatan sympatomatic, dan menggunakan cara tradisional dengan pemberian air kelapa sebagai penawar toxin.

Terima kasih telah membaca artikel mengenai Botulismus, keracunan akibat Clostridium botulinum. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Daftar Pustaka :

  • Natalia, Lily., A. Priadi. 2012. Botulismus: Patogenesis, Diagnosis, dan Pencegahan. Bogor : WARTAZOA Vol. 22 No. 3
  • Tyasningsih, Wiwiek., dkk. 2009. Penyakit Infeksius 1. Surabaya : Airlangga University Press