Taeniasis pada Babi

Taeniasis pada Babi

porcine taeniasis pada babi

Taeniasis merupakan penyakit parasitik yang disebabkan oleh cacing dari genus Taenia. Terdapat berbagai spesies Taenia, salah satunya adalah Taenia solium yang menyerang babi. Taeniasis pada babi termasuk penyakit zoonosis. Manusia dapat tertular dengan memakan daging babi yang mengandung stadium infektif cacing.

Taenia solium dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan pada babi. Penyakit ini dapat ditemukan di berbagai daerah, khususnya daerah dengan tingkat konsumsi daging babi yang tinggi. Setidaknya, terdapat tiga provinsi endemik penyakit Taeniasis, yaitu Sumatera Utara, Papua, dan Bali.

DOWNLOAD PDF – Taeniasis pada Babi

Penyakit Taeniasis berkaitan erat dengan faktor sosio-kultural, di mana dalam hal ini cara pemeliharaan ternak yang tidak dikandangkan dan kebiasaan pengolahan makanan yang kurang matang sangat menentukan besar kecilnya angka infeksi Taenia solium di daerah pedalaman. Oleh karena itu, pemahaman mengenai penyakit  parasiter penting untuk ditingkatkan.

A. Penyebab Taeniasis pada Babi

Taeniasis pada babi disebabkan oleh spesies cacing Taenia solium. Cacing ini termasuk ke dalam subklas cestoda yang merupakan cacing pita (tapeworm). Taenia solium memiliki tubuh bersegmen, satu segmen pada tubuhnya dinamakan dengan proglotid. Cacing ini juga memiliki kepala yang disebut dengan skoleks. Pada kepala, terdapat sucker sebagai alat hisap. Juga kait yang disebut dengan rostelum.

Taenia solium merupakan cacing yang bersifat zoonosis. Cacing ini tumbuh dalam usus halus manusia. Panjangnya bisa mencapai 3-5 meter dan dapat hidup selama kurang lebih 25 tahun. Dalam hal ini, manusia berperan sebagai induk semang utama (definitif). Sedangkan babi berperan sebagai induk semang perantara.

Larva Taenia solium disebut dengan Cysticercus cellulose. Larva tersebut dapat ditemukan pada jaringan otot daging, dan sangat jarang ditemukan pada organ visceral babi. Daging yang mengandung cysticercus cellulose apabila termakan akan berkembang menjadi T. solium dewasa yang dapat menginfeksi saluran pencernaan.

Baca juga : ” Tips Beternak Babi dengan Baik dan Benar “

B. Cara Penularan dan Siklus Hidup Taenia solium

siklus hidup taenia solium

Taenia solium membutuhkan inang perantara, yaitu babi domestik dan babi liar sebelum menginfeksi manusia. Berbeda denga Taenia saginata, Taenia solium dapat ditularkan secara langsung antar manusia. Yaitu melalui telur dalam feses yang mengandung larva infektif.

Cara penularan dimulai dari masuknya telur Taenia solium ke dalam tubuh babi melalui pakan yang terkontaminasi proglotid fravid Taenia solium. Selama berada di dalam pencernaan, telur akan menetas menjadi oncosphere. Oncosphere pecah dan menginvasi mukosa usus. Selanjutnya bermigrasi menuju jaringan otot menjadi sistiserkus. Sistiserkus dapat betahan selama bertahun-tahun di dalam otot.

Manusia dapat terinfeksi apabila memakan daging mentah yang mengandung sistiserkus. Sistiserkus yang sampai di usus manusia akan berkembang menjadi cacing dewasa. Perkembangan sistiserkus menjadi cacing dewasa setidaknya membutuhkan waktu sekitar 2 bulan. Cacing dewasa akan menempel pada mukosa usus dengan bantuan rostelum dan sucker yang terdapat pada skoleks (kepala).

Cacing dewasa akan tumbuh memanjang menghasilkan banyak segmen (proglotid). Proglotid akan keluar bersama feses melalui anus manusia dan berkembang menjadi gravid atau telur. Apabila telur termakan oleh babi, atau manusia lain maka siklus hidup berikutnya akan dimulai. Sebab, telur hanya bertahan beberapa minggu di luar induk semang. 

Baca juga : ” Penyakit Hog Cholera pada Babi “

C. Gejala Taeniasis pada Babi

Gejala Taeniasis dipengaruhi oleh jumlah dan lokasi larva di dalam tubuh induk semang. Pada umumnya, babi yang terinfeksi Taenia solium tidak menjukkan gejala apapun. Namun, sistiserkus tetap bisa dijumpai di dalam otot, otak, hati, dan jantung. Pada manusia, gejala yang biasanya timbul dapat berupa sakit perut dan terjadi diare. Pada balita, dapat terjadi vomite disertai demam dan diare. Hal tersebut diiringi dengan penurunan berat badan.

D. Diagnosa Taeniasis pada Babi

Diagnosa yang paling sederhana adalah dengan melakukan pemeriksaan feses malalui mikroskop. Telur cacing Taenia berbentuk spherical, berwarna cokelat, dan mengandung embrio. Sedangkan diagnosis sistiserkus sangat sulit untuk dilakukan pada hewan hidup. Pada hewan kecil, identifikasi sistiserkus dilakukan dengan metode Magnetic Resonance Imaging(MRI).

Sedangkan pada hewan besar, identifikasi sistiserkus dapat dilakukan dengan palpasi tongue atau lidah. Ketika dilakukan palpasi lidah, akan terasa benjolan atau nodul di bawah jaringan kulit atau intramuscular. Palpasi merupakan satu-satunya cara identifikasi sistiserkus ante mortem hewan besar yang dapat dilakuan. Sedangkan pada post mortem, identifikasi dapat dilakukan dengan memeriksa daging babi yang diduga terinfeksi Taenia solium.  

E. Pencegahan dan Pengobatan Taeniasis pada Babi

Pencegahan dapat dilakukan dengan meminimalisir angka infeksi yang ditimbulkan dari konsumsi daging babi. Memasak daging babi secara sempurna dapat membunuh sistiserkus yang terdapat di dalam lapisan daging. Selain itu, proses pembekuan daging juga dapat melemahkan sistiserkus.

Penerapan sanitasi yang baik pada kandang babi juga harus dilakukan. Seperti menjaga kebersihan kandang, menjaga kebersihan pakan, juga melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Pengobatan Taeniasis pada hewan secara umum dapat dilakukan dengan pemberian obat cacing praziquantel, epsiprantel, febantel, mebendazole, dan fenbendazole. Sedangkan pada manusia, dapat diberikan obat cacing praziquantel, niclosamide, buclosamide, atau mebendazole.

F. Kesimpulan

Taeniasis pada babi disebabkan oleh infeksi parasit Taenia solium. Taeniasis juga termasuk ke dalam penyakit zoonosis, sehingga harus dieperhatikan cara penularan, pencegahan, dan pengobatannya. Sebab sistiserkus dapat menembus sapai ke otak. Bahkan pada beberapa kasus menyebabkan epilepsi.

Baca juga : ” Protozoa Trypanosoma spp. “

Daftar Pustaka :

  • Carabin, Helene., Aminata A Traore. 2014. Taenia Solium Taeniasis adn Cysticercosis Control and Elimination Through Community-Based Interventions. U.S. National Library of Medicine. National Center for Biotechnology Information.
  • Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Pontianak. Taeniasis. Diakses melalui : pertanian.pontianakkota.go.id. Rabu : 22/04/2020.
  • Estuningsih, Sarwitri Endah. 2009. Taeniasis dan Sistiserkosis Merupakan Penyakit Zoonosis Parasiter. Bogor : Balai Besar Penelitian Veteriner. Wartazoa Vol. 19 No.2.