Gejala Rabies pada Hewan dan Manusia

Gejala Rabies pada Hewan dan Manusia

Rabies merupakan salah satu dari sekian banyak virus berbahaya. Apabila tidak segera dilakukan penanganan, virus rabies dapat menyebabkan seseorang meninggal dunia.   Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk mempelajari virus rabies, baik gejala yang ditimbulkannya, cara penularannya, ataupun virus rabies itu sendiri.

DOWNLOAD PDF – Gejala Rabies pada Hewan dan Manusia

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang masih memiliki pekerjaan rumah dalam menangani kasus rabies ini. ”Sejak tahun 1995, Indonesia tidak pernah dinyatakan bebas virus rabies.

Per tahun ditemukan 1.500 terpapar oleh virus rabies,” ungkap Steven dalam peringatan Hari Rabies Sedunia (World Rabies Day) 2018. (Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI,2018)

Terhitung sejak tahun 2011 hingga tahun 2017, terdapat lebih dari 500.000 kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) yang telah dilaporkan di Indonesia, juga sebanyak 836 kasus positif rabies.

Di mana kawasan Asia dan Afrika merupakan kontributor terbesar dalam kasus rabies, yaitu mencapai 95%. (Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI,2018)

Oleh karena itu, ditekankan kepada semua masyarakat untuk mengikuti vaksin rabies. Karena, motilitas virus rabies pada seseorang yang tidak melakukan vaksinasi mencapai 100% dan menyebabkan kematian.

Beberapa hewan seperti kucing, anjing, dan kera merupakan vector atau penular virus rabies yang paling banyak ditemui dalam kasus lapangan. Gigitan dari hewan-hewan tersebut membuat virus rabies dapat dengan mudahnya masuk ke dalam tubuh manusia, dan menyerang beberapa organ vital.

Diagnosa yang dilakukan oleh Balai Besar Veteriner sangat membantu pemberantasan virus rabies di lapangan.

Pada BBVet, dilakukan berbagai diagnose seperti FAT (Fluorescent Antibody Technique), MIT (Mouse Inoculation Test), ataupun FAVN (Fluorescent Antibody Virus Neutralization Tes) yang mana FAVN adalah uji serologi yang paling direkomendasikan oleh OIE (Office Internationale des Epizooties).

Dengan memanfaatkan reaksi antigen, antibody, dan fluorescent virus rabies akan terlihat berpendara dalam gelap. Pengujian dilakukan dengan mengambil sample yang merupakan sumber dari virus rabies beraksi, yaitu otak terutama bagian Hypocampus nya.

A. Perkembangan Diagnosis Virus Rabies

Berikut adalah beberapa deteksi rabies yang telah dilakukan di Indonesia :

  1. Deteksi rabies anjing liar dengan metode straw
  2. Pemeriksaan kornea dari manusa yang diduga terdampak virus rabies
  3. Uji FAVN (Fluorescent Antibody Virus Netralization)
  4. Diagnosis virus rabies dengan NPLA ( Neutralization Peroxidase Linked Assay)
  5. ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay)
  6. RT-PCR (Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction)
  7. RREID (Rapid Rabies Enzyme Immunodiagnostic)
  8. FAT (Fluorscent Antibody Technique)      

B. Pengertian Virus Rabies

Rabies merupakan virus yang menginfeksi sistem saraf pusat (SSP) pada manusia. Virus rabies termasuk ke dalam genus Lyssavirus dengan famili Rhabdoviridae, di mana virus rabies bersifat zoonosis.

Penularannya dapat terjadi karena gigitan maupun air liur dari jilatan hewan yang terpapar virus rabies. Selain itu, juga kontak mukosa, maupun melalui anus dari Sistema digestive. Hewan yang menjadi vector virus rabies adalah kucing, anjing, kera, serigala, sigung, kelelawar, dan rakun.

Virus Rabies berbentuk seperti butir peluru, yang merupakan single stranded RNA dengan ukuran 180×75µm. (Jawetz, 2010) Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambaran dari virus rabies berikut ini :

Membujur :

Melintang :

C. Penularan (Patogenesis) Virus Rabies :

Virus Rabies dapat menular dari hewan ke manusia melalui beberapa cara, yaitu :

  1. Gigitan
  2. Konjungtiva Mata
  3. Anus
  4. Alat Kelamin, dan
  5. Transplantasi Kornea

Kebanyakan penularan disebabkan karena gigitan. Luka terbuka dari gigitan memudahkan virus rabies memasuki tubuh manusia, menempel pada ujung saraf posterior tempat terbukanya luka selama kurang lebih 2 minggu.

Tergantung pada seberapa besar luka gigitan, seberapa luas penampang saraf pada daerah yang terkena gigitan, maupun kekebalan tubuh individu. Setelah itu, virus rabies akan menuju ke SSP (Sistem Saraf Pusat).

Virus Rabies akan berkembang biak di dalam otak, kemudian memperluas penyebarannya melalui susunan saraf otonom ataupun saraf perifer. Sehingga hampir semua organ terjangkit oleh virus rabies ini. Hebatnya, virus rabies tidak memunculkan tanda-tandanya pada bekas gigitan, seperti kerusakan saraf yang dijangkitinya.  

D. Gejala Klinis Penyakit Rabies

Individu yang terjangkit virus rabies biasanya akan mengalami beberapa gejala klinis pasca gigitan selama kurang lebih 1-4 hari. Seperti :

  1. Demam
  2. Nyeri Otot (Myalgia: dalam bahasa medis)
  3. Gangguan Sistem Respirasi (Pernafasan) dan Sistem Digestiva (Pencernaan)
  4. Lemas dan Lesu (Malaise: dalam bahasa medis)

Setelah gejala awal terjadi, barulah beberapa gejala serius timbul, seperti Halusinasi, Kejang, hingga Hidrofobia akibat dari spasme musculus inspirasi karena batang otak telah rusak, dan Aerofobia. Selain itu, juga hipotensi postural, peningkatan keringat dan salivasi.

Di mana Hyper Salivasi dan kesulitan menelan membuat mulut menjadi berbusa seperti gejala klinis pada orang yang keracunan. Setelah itu, penderita virus rabies akan mengalami paralisis komplit, menyebabkan koma, dan akhirnya meninggal dunia karena kegagalan pernafasan pada banyak kasus.

Virus rabies ringan pada hewan membuat ia menjadi malas dan lemas. Ketakutan terhadap cahaya matahari, juga hyper salivasi sebagai akibat dari kesulitan menelan. Sedangkan manifestasi virus rabies ganas pada hewan menjadikan hewan menjadi lebih agresiv.

Oleh karena itu, sebagai pemiliki hewan kesayangan wajib untuk melakukan vaksinasi rabies. Di Indonesia sendiri, biasanya akan dilakukan vaksin rabies gratis pada  (World Rabies Day). Karena gejala klinis pada hewan tentunya berbeda dengan manusia.

E. Kesimpulan

Rabies merupakan virus mematikan yang harus diwaspadai oleh masyarakat. Gejalanya yang tidak diketahui pada fase awal gejala klinis atau gejala prodromal membuat virus rabies sulit terdeteksi.

Oleh karena itu, laporkanlah segera jika terjadi gigitan hewan seperti anjing, kucing, kera, kelelawar, serigala, dan rakun kepada pihak medis terdekat. Laporan anda akan mencegah ribuan penularan virus rabies lain yang disebabkan oleh hewan.

Daftar Pustaka :

  • Adjid, R.M.A., dkk. Penyakit Rabies di Indonesia dan Pengembangan Teknik Diagnosisnya. Bogor : Balai Penelitian Veteriner. Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. 2018. Rabies Penyakit Paling Mematikan di Dunia. http://www.depkes.go.id/read/2019/07/21/18100300005/rabies-penyakit-paling-mematikan-di-dunia
  • Dartini, Ni Luh., dkk. 2012. Uji Banding Dua KIT ELISA untuk Deteksi Antibodi Terhadap Virus Rabies pada Anjing. Universitas Udayana : Fakultas Kedokteran Hewan.
  • Jawetz., dkk. 2013. Medical Microbiology. The McGraw-Hill Companies : ISBN: 978-0-07-181578-9
  • Tanzil, Kunadi. 2014. Penyakit Rabies dan Penatalaksanaannya. Universitas Katolik Indonesia : Mikrobiologi ISSN 2338-7793.